Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari Februari, 2017

Concussion

Hari Minggu. Sendirian, di teras rumah yang berfungsi ganda sebagai ruang tamu. Menghabiskan hari libur dengan mencoba menulis sesuatu. Sudah berlangsung lama hari-hari libur gue lalui sendirian. Untuk beberapa alasan sendirian itu memang perlu tapi rasanya agak kurang bagus juga kalau terus-terusan sendirian.Lebih bagus memang punya pasangan.
Ini kenapa curhat..
Oke.. cukup.
Karena gue sendirian maka menonton film adalah kegiatan yang sangat direkomendasikan. Apalagi untuk orang yang suka menulis, mencari inspirasi dari sebuah film adalah hal yang luar biasa. Cobalah..
Minggu pagi itu gue melakukannya.
Film ini sangat berhubungan dengan apa yang gue sukai dalam pembahasan otak dan pikiran. 

Kenapa sih pik elo suka dengan topik atau ilmu atau juga hal-hal tentang otak dan pikiran?

Ini dia beda Halomoney dan CekAja

Beragam fintech diciptakan untuk membantu masyarakan dengan kebijakan dan peraturan yang berbeda – beda pada setian pintech. Beberapa diantaranya yang masih aktif melayani masyarakat ialah CekAja dan Halomoney. Produk – produk layanan keuangan yang ditawarkan keduanya memiliki berbagai macam variasi mulai dari Asuransi, kredit atau pinjaman tanpa agunan, hingga KPR atau Kredit Kepemilikan Rumah. Kali ini kita akan membandingkan keduanya untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan pada masing – masing fintech tersebut. Langsung saja kita simak ulasan nya berikut ini : Layanan yang ditawarkan CekAja menyediakan layanan yang cukup lengkap mulai dari kartu kredit, KTA atau Kredit Tanpa Agunan, KDA atau Kredit Dengan Agunan dengan beragam jenis aruransi seperti asuransi kendaraan, perjalanan, property dan lain sebagainya. Hal ini juga diperlengkap dengan hadirnya investasi seperti deposito dan modal untuk usaha kecil dan menengah.

Not Enough

Seorang ayah atau bapak (gue biasa panggilnya bapak) buat gue adalah seorang ‘nahkoda kapal’ yangmemperjuangkan kapalnya sampai pada tujuan dan berusaha untuk tidak 'tenggelam' di tengah jalan. Gue sebagai ‘anak buah kapal’ harus senantiasa menemani dan mendengarkan instruksi atau nasehat dari beliau agar kapal bisa berjalan dengan baik, dan suatu saat dia pun juga berharap anak buah kapal ini akan mengemudikan kapalnya sendiri dengan baik pula bahkan lebih baik darinya.
Mungkin sampai sini kalian sedang berimajinasi kalau bapak gue atau bapak kalian sendiri seperti Popeye. Boleh boleh aja, tapi sayangnya bapak gue nggak suka bayam dia lebih suka tahu Sumedang.
--
“bapak ini aktif di organisasi kemasyarakatan pik, makanya bapak dulu di Banten banyak kenalan orang-orang kecamatan, Polsek dan Dandim. Dan bapak dulu juga pernah jadi wakil ketua rantingkecamatan sebuah partai.” Kata bapak sambil mengelap mulutnya setelah selesai makan sambil lesehan. 

3 Smartphone High-End Terbaik Buat Para Wanita Karir

Smartphone saat ini sudah menjadi benda wajib yang harus selalu dibawa. Ponsel cerdas seolah sudah menjadi pelengkap gaya hidup seseorang khususnya kaum wanita. Dengan adanya ponsel,  berkomunikasi pun terasa lebih mudah.  smartphone juga bisa memudahkan pekerjaan. Setiap smartphone terbaru sudah dibekali fitur-fitur yang canggih. Hal inilah yang menjadi daya tarik para wanita karir untuk selalu mengupgrade handsetnya dengan handset terbaru.  Lantas apa sajakah smartphone high end yang sangat cocok dan berkelas untuk para wanita karir? Berikut ini jajaran smartphone berkelas yang cocok untuk kamu para wanita karir.

Feedback

Ngobrol dengan orang yang lebih tua memberikan kita sebuah pencerahan, kadang bukan hanya nesehat atau petuah dari mereka saja tapi dari sebuah cerita yang ‘mentah’. Maksud gue cerita yang emang nggak mengandung apa-apa sampai gue sendiri yang mikir apa yang bisa gue ambil dari cerita orang yang sepuh ini.
Gue pernah ngobrol sama pak Nanto, beliau ini pensiunan pegawai Kementrian Pekerjaan Umum, kebetulan dia sedang berkunjung ke tempat gue. Beliau cukup sepuh, mungkin usianya diatas 60 tahunan, atau mungkin lebih. Takut nggak sopan kalau gue nanyain KTP sama beliau.
“gimana pak sehat?” tanya gue sambil menjabat tangan beliau. “sehat, sehat pik, gimana ada kegiatan apa nih?” “ya gini-gini ajah pak, gimana pak anak bapak katanya mau kurus bahasa Inggris? “belum ada kabar pik, dia masih di Jogja.” Pak Nanto jawab sambil mengecek sms yang masuk. “pik saya punya ponakan, dulunya dia ini nggak mau sekolah gara-gara..” Kata-katanya terhenti, hapenye berdering lagi…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...