Langsung ke konten utama

Kendali Penuh




Kamarin malam (7/12/2016) temen kantor, Sigit, sms gue (yah, kami masih menggunakan sms) “pik saya dimarahin sama mang Osad” tulisnya. Mang Osad adalah penjaga dan tukang bersih-bersih tempat kita bersemayam. Kantor tempat kami berkarya memang menempati bekas restoran dan meninggalkan beberapa ornament dan equipment restoran dan yang paling berharga adalah artefak kuno yang sangat mahal seperti mang Osad ini. Mahal karena tanpa dia tempat kami jadi kotor.

“apa katanya?” balas gue. “kemarin kan saya nabrak bekas kasir dan itu rada geser sedikit, terus mang Osad tau dan negur saya.”

Pantas mang Osad marah, dan dia berhak menegur Sigit. Kenapa? Pertama karena memang sigit salah dan mang Osad juga adalah penjaga dan penanggungjawab tempat, otomatis dia yang bertanggungjawab penuh atas properti dan barang-barang yang ada di situ kalau ada yang rusak ya dia yang bertanggungjawab. Kalau ada orang lain macam Sigit bikin rusak ya dia tegur. Termasuk ketika tempat itu kotor ya dia yang bertanggungjawab atas kekotoran yang terjadi.. halah bahasanya kekotoran.


Mang Osad memang orangnya rajin, apalagi dalam hal bersih-bersih dia selalu menyelesaikan tanggungjawabnya. Dia juga bangun jam tiga pagi kemudian bersih-bersih tempat. Mang Osad memang gokil.

Hanya saja mang Osad ini kadang nyebelin dan selalu (seakan-akan) seperti orang yang punya tempat. Kadang juga possessive sama barang-barang yang ada disitu. Dan kalau kami bikin kotor tempat walaupun sedikit ajah dia bakal manyunin (ala duck face) kita-kita. Karena sikapnya yang seperti itu dia seolah yang memegang kendali atas semuanya. 

----

Siapa pun orangnya di dunia ini, kita memang harus menyelesaikan tanggungjawab kita terhadap tugas – tugas kantor, tugas kampus, atau pun tugas kita sebagai manusia – dan terhadap diri pribadi.

Pertengahan 2015, bapak selalu menanyakan kapan skripsi gue selesai. Kadang kalau keluar pertanyaan itu gue ngerasa risih dan ngerasa seperti dipojokan. Gue sudah berusaha menjelaskan kalau skripsi gue akan selesai, hanya butuh proses karena nggak mungkin langsung bisa selesai. Apalagi gue punya masalah sama mata kuliah semester bawah dan itu menghambat gue banget. 
Gue sudah jelaskan sejelas-jelasnya. Tapi.. entah mungkin beliau lupa dan akhirnya dia nanya lagi.

“kapan selesainya pik? Wisudanya kapan”

Karena nilai semester bawah, gue terjegal sidang dan karena itu pula skripsi gue belum selesai dan karena skripsi belum selesai gue nggak punya kendali penuh atas hidup gue. Mau kemana-mana rasanya nggak nyaman, selalu inget skripsi dan.. inget bapak. Gue punya tanggungjawab atas tugas gue sebagai anaknya, yang saat itu tugas gue adalah skripsi selesai dan lulus.

April 2016, gue wisuda dan nampaknya bapak dan ibu sangat bahagia. Cukup lama dari pertanyaan ‘kapan skripsi selesai’ pertama kalinya dari bapak ke gue.

Setelah menyelesaikan tanggungjawab (lulus), gue ngerasa punya sesuatu yang berbeda: kendali penuh atas hidup gue.  Bukan berarti gue nggak mau lagi nurut sama orangtua tapi gue punya pilihan sendiri yang siap gue ajukan ke orangtua. Memang secara kasar orangtua udah nggak terlalu berhak mengatur hidup gue (lagi), mereka bisa mengatur gue hanya pada domain ‘anaknya’ bukan ‘masa depannya’ dan ‘seluruh kehidupannya’.

Sekali lagi bukannya gue nggak mau nurut sama mereka, tapi gue juga punya pilihan sendiri. Gue masih sangat butuh nasehat dan support dari mereka hanya saja gue sudah bisa jalan sendiri sekarang.  Kemana pun gue melangkah nggak ada rasa keraguan lagi apalagi ketika gue izin ke bapak dan ibu kemudian minta do’a dari mereka, rasanya, makin mantap saja setiap langkah yang gue ambil.



“Tanggungjawab = Kendali Penuh”

Ketika mang Osad bersikap seperti mengendalikan tampat layaknya owner dan bisa mengatur siapa pun disitu (dengan pengecualian). Kecuali kalau dia ngatur Sigit suruh salto nyampe Gungung Ciremai, mang Osad belum bisa. Itu karena mang Osad menyelesaikan tanggungjawabnya secara penuh. Dia bangun pagi dan bersih-bersih, kemudian motongin rumput, kadang berkebun juga di halaman belakang. Dia menyelesaikan tanggungjawabnya dan punya kendali penuh atas tempat kami berada.

Gue sendiri, selesai dengan tugas. Bisa dan berhasil menyelesasikan tanggungjawab. Berhasil menyelesaikan skripsi dan lulus. Sekarang gue punya kendali penuh atas hidup gue. Orangtua hanya bisa mensuport, mendo’akan, dan memberi nasehat. Dan mereka mengerti akan hal itu. Mungkin salah satu penilaian orangtua terhadap anaknya tentang kedewasaan adalah dengan melihat seberapa banyak dia (anaknya) menyelesaikan tanggungjawabnya.

Mungkin kita pernah mendengar kata ‘hak’ dan ‘kewajiban’ tapi jarang ada yang mau mengkajinya atau menelaahnya secara dalam. Menurut gue ketika kita menginginkan hak atas apapun di dalam kehidupan kita maka selesaikanlah tanggungjawabnya. Misalkan kita Ingin hak atas salary (gaji.red) kita di perusahaan maka selesaikan tanggungjawab pekerjaan secara penuh, bisa jadi akan naik nilainya di akhir tahun, tanpa memintanya. Karena itu hak kita atas tanggungjawab yang kita selesaikan.

Atau misal mahasiswa yang ingin hak nilai A dan ingin IPKnya tiga koma atau empat.  Selesaikan tugas-tugas, penuhi tanggungjawab sebagai mahasiswa di kampus dan saat di kelas, penuhi kehadiran, aktif dalam kelas, rajin membaca, selesaikan tanggungjawab kalian. Maka dosen akan memberikan hak atas tanggungjawab yang telah kalian selesaikan. Termasuk hak untuk berorganisasi.

Gue dulu belum mengerti hal ini waktu jadi mahasiswa. Setelah keluar dan beberpa bulan bergaul dengan orang yang ‘luar biasa’, perlahan-lahan gue mulai paham dan mengerti konsep ini. Gue nggak menyesal tahu ini baru sekarang, karena gue bisa aplikasikan ini di hal yang lain dalam hidup gue dan gue juga bisa share pengetahuan ini ke orang lain – mungkin kalian yang membaca tulisan ini dibalik layar monitor atau layar smartphonenya – dan berharap akan ada banyak manfaat dari pengetahuan yang gue dapat ini. Gue yakin kalau hidup, ya, begitu dan ini berlaku untuk semua orang.   



Selesaikan tanggungjawab kita maka kita berhak atas apa yang kita mau bahkan tak perlu memintanya. -TDP


Tanggungjawab (Kewajiban + Dilakukan + Diselesaikan) = Hak

Mungkin ini juga bisa jadi CARA untuk siapa pun yang ingin mempunyai kendali penuh terhadap kehidupannya. Wahai sodaraku setanah, seangin, seapi dan seair beta, selesaikanlah TANGGUNGJAWABmu maka kamu akan mempunyai KENDALI PENUH atas kehidupanmu.

By the way, gue baru saja menyelesaikan tanggungjawab gue sama Qword untuk memperpanjang domain yang akan habis akhir bulan ini (Qword mana Qword), gue udah bayar duluan sebelum mereka nagih. Itu artinya akhir bulan domain gue masih hidup. Ternyata tanggungjawab juga bisa memberikan kita rasa ‘lega’. Kayak abis buang air..

Bagaimana dengan kalian wahai teman-temanku di balik monitor atau dibalik layar smartphone, apakah kalian sudah menyelesaikan tanggungjawab? Atau sedang menuntut hak? Atau masih inget-inget mantan? Nginget-nginget mantan ajah kerjaanya, dasar lemah.. *blagu*

Silahkan komen di bawah. Jangan cuman komen doang kalau ada manfaatnya mbok ya di share biar yang lain tahu. Segitu ajah dari gue, selamat menunaikan tanggungjawab.

 

Komentar

  1. terharu gua ngebacanya bang.......hikz......hikz

    memang klo mau menjadi tenang itu harus menyelesaikan kewajiban dulu, baru kita tunaikan hak. tapi gua KZL, dizaman sekarang ini banyak org yang mau haknya diberi dulu, baru menunaikan kewajiban. klo begitu mereka malah jadi malas mlakukan kewajibannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan nangis tar, malu ama titit

      iye tanggungjawab lo sebagai siswa selesaikan

      Hapus
  2. Hampir sama kaya prinsip hidup gue.
    Yaitu " menyelesaikan apa yang telah dimulai"

    Pas masa-masa bikin skripsi aku juga mengalami tekanan batin yang susah dielaskan.

    Mau kemana mana berasa ada beban.
    Kayak ada pocong nempel di pundak, berat !

    Tapi pas udah lulus gue bisa plong.
    Seakan terlahir kembali.
    Dan trauma mau lanjut s2 ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak kebayang kalau beneran pocong nempel di pundak lo rul.. kek gantungan kunci tapi sizenya gak nyantai gitu hhaha

      sukur lah sekarang lo bisa bikin banyak kreasi di yucub dan instagarem

      Hapus
  3. tanggung jawab adalah intinya... karena setiap perbuatan kita harus semuanya dipertanggung jawabkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah bener mas, tanggungjawab iku sing nomer satu

      Hapus
  4. Tanggung jawab, ah baiklah, aku juga sedang berusaha untuk memenuhi tanggung jawabku. Memang bener katamu bang yang berhak atas dirimu ya kamu sendiri. Peran orang tua hanya sebagai penyemangat, pemberi nasihat, mendoakan. Akn lari ke jalur man, ya itu kamu yang berhak menentukan.
    Oh baiklah itu pertanda aku semakin tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat berjuang wahai perempuan galau.. haha

      Hapus
  5. bener bang topik. sebagai perempuan, salah satu hal yang harus dilihat pada lelaki adalah tanggung jawabnya (Halah). Bagaimana dia bertanggung jawab pada kuliahnya, pada pekerjaannya, pada orangtuanya, pada dirinya sendiri dan pada komitmen. Halah lagi.

    aku juga masih ada beban tanggung jawab kuliah yang belum kelar. lantaran ada satu matkul yang harus ngulang. dan capek ditanya kapan wisuda? bahahaha. Tetapi yah aku sebagai anak, harus tetap bertanggung jawab, apalagi kalau di awal aku sendiri yang minta kuliah. Dan itu gak murah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha ini lo mah malah curhat.. bagus bagus..

      ya cepetan diselesaiin lah semangat!!!

      Hapus
  6. gue suka tema bacaannya ini. Dan quotenya kena banget fik *MantabJiwa

    But buat jadi orang yang bisa memengang kendali penuh sama hidupnya itu susah bingits. Mungkin karena hasilnya jua worth it jadi agak susah di capai

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Di,, salah jempol mantab jiwa

      Hapus
  7. Tanggung jawab memang hal yang utama. Kalau sudah berani memulai ya harus mengontrolnya atau diakhiri bila diperlukan. Jangan hanya menuntut hak kalau tanggung jawab aja belum bisa dipenuhi.

    Sengsara apapun suatu masalah, aku pasti tanggung jawab sebisa mungkin apa yang telah aku mulai, walaupun itu meninggalkan suatu goresan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu kalau udah bikin ya selesaikan doang. tanggungjawab dong.. gitu kang fery

      Hapus
  8. Gue suka dah sama kata-kata ini:
    "Selesaikan tanggungjawab kita maka kita berhak atas apa yang kita mau bahkan tak perlu memintanya."

    Ternyata bener ya, semakin kita dewasa tanggung jawabnya makin besar. Tema-nya pas banget buat mengawali tahun ini. Memotivasi banget dah, Bang!

    Btw, gue juga lagi nyelesain tanggung jawab gue di dunia kerja nih juga tanggung jawab buat menceklis resolusi gue tahun ini... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mari kita selesaikan tanggungjawab kita kak Er hehe

      Hapus
  9. mungkin mang osad bakal dimarahin sama orang yang udah ngasih kepercayaan dia buat jaga tempat itu makanya rada posesif. Sama kayak tukang bersih2 di sekolah kan, kalo murid2 masih belum pulang dan ngotorin kelas, pasti ngamuk2 dah :))

    tanggung jawab sih poin utama hidup ini. Kalo apa2 dilakuin dengan tanggung jawab, pasti gak bakal ada rasa sesal. nice post, pik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, itulah idup yog isinya tanggungjawab. termasuk tanggungjawab kita sama Tuahan juga

      Hapus
  10. Yang paling gue rasakan dari tulisan ini adalah ketika orang tua menanyakan kapan skripsi selesai dan terkadang emang mengganggu juga pertanyaan dari mereka. Tapi, karena gue juga masih hidup dari "keringat" mereka, jadi gue merasa ya itu udah konsekuensi dan gue harus segera selesaikan dari sekarang karena itu adalah tanggung jawab yang harus gue laksanakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah Gung itu adalah tugas kita walaupun kitanya ngerasa risih kalau ditanyain mulu haha

      Hapus
  11. Wah, iya juga ya. Tapi, apalah gue yang masih SMA ini, uang jajan masih dikasih oleh orang tuanya, belum bisa full control terhadap diri sendiri :(
    Mungkin yang dikatakan di atas benar, jika tanggung jawab udah selesai maka kita akan mendapatkan hak. :))

    Tanggungjawab (Kewajiban + Dilakukan + Diselesaikan) = Hak

    Gue sebagai siswa, tanggung jawabnya buat ngerjain tugas, dan jika udah selesai dan benar semua, maka hak saya dapat nilai bagus. :D Eaaa. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaupun lo masih SMA Dik lo bisa bikin orang tua lo bangga dengan menyelesaikan semua tanggungjawab lo sebagai pelajar

      Hapus
  12. Mang osad Tegas abis. meskipun bukan owner, kendali penuh dan tanggung jawab di ekspresikan secara tidak tanggung2, hahaha. sungguh peninggalan yang berharga. Sosok leadershipnya ada... boleh juga rumus tanggung jawabnya, bro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mang osad adalah sosok yang luar biasa dan sekarang dia udah pulkam jadi sepi tempat gue ini hehe

      Hapus
  13. wah soal pertanyaan kapan skripsi , ini yang ditanyakan ibuku Desember kemaren masm solnya aku juga ada masalah nilai di semester bawah, mau tanya caranya mengatasi gimna mas? teman seangkatan udah banyak yyang lulus soalnya.

    mang Osad emang tegas mas karena beliau yang harus bertanggungjawab atas tugasnya, kalau ada g melaukan kesalahan ya wajib diperingatkan lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat bung Santo untuk Skripisnya selesaikanlah kasin ibumu kasih dia kebahagiaan

      Hapus
  14. BOOM! Persis sama banget sama yang gue alami. Ya, seperti kebanyakan orang dan mahasiswa lainnya. Pasti klo udah ngomongin skripsi itu risih banget. terlebih orang tua kita. bener kata lo, hidup kita selalu kepikiran yang namanya skripsi dan skripsi. Ibarat otak yang begitu hebat ini hanya diisi dengan skripsi. HAHA

    Semua berubah 180 derajat saat wisuda dan tekanan kembali datang saat menjadi pengangguran. wkwkwkw... Tetp tekanan itu pasti ada, Agar kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Huahuhauaha *Gue sok banget komennya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lo kayak yanglek Ki bom bom an gitu haha

      pengangguran itu istilah ajah Ki bikn enjoy ajah

      Hapus
  15. suka banget yg bagian, setelah lulus saatnya kita 'mengajukan' keinginan pada orang tua, bukan 'nurutin' orang tua lagi. cuma kalo jd anak cewe susah bgt elah :( dikit2 gaboleh, padahal gw dah bukan lagi anak sekolahan, dan gw ngerti 'bebas yang bertanggung jawab' itu kayak apa. sering banget marah2 gara2 orang tua terlalu 'over', tapi yaudah coba jelasin dan akhirnya dikit2 melunak :D

    keren, bayar tagihan sebelom ditagih :D patut dicontoh hwhwhw

    BalasHapus
  16. nice artikel kak , saya belum skripsi baru mau bikin Penelitian Ilmiah tp masih bingung :(.

    ttp link jg ya kalo butuh info wisata bisa liat disini Pariwisata

    BalasHapus
  17. Tapi susah sih bertanggungjawab, namun meski dijalani deh baru deh nuntut hak hahahhaa
    Nanti kalau kewajiban sudah berjalan baik insyaallah lega.
    Cie anak Qwords, aku juga pakai jasanya udah perpanjang pula hihihi

    BalasHapus
  18. Kok gue baca mang osad jadi mang osas ya, astaga khayalanku absurd amat ya.

    Ya bang, bner banget ya, itu lah namanya hidup. Harus ada tanggung jawab. Apalagi anak cowok bang, banyak banget tanggung jawabnya, gak nyampe selesai skripsi doang, setelah itu juga banyak pertanggung jawaban lain yang menanti kita.

    Nice banget lah ini :)

    BalasHapus
  19. Konsepnya pada dasarnya simple. Tanggung jawab, dan kendali atas diri. Memang sih jadi, ketika kita telah menyelesaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita, maka dengan sendirinya Hak kita pun akan terpenuhi.

    Nice artikel.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...

Pos populer dari blog ini

Orang-Orang yang Nggak Disukai di BBM

Alasan-Alasan Cewe Cantik Pacaran Sama Cowo Jelek

Belakangan ini, gue sering banget lihat cowo jelek pacaran sama cewe cantik. Saking seringnya gue sampe masuk angin. -lah? Yang ada di benak gue ketika lihat mereka berdua pacaran adalah “I’M A LOSER”. Iya, gue ngerasa kalo cewe-cewe sekarang udah kena fatamorgana, dan cowo jelek udah berhasil memanfaatkan situas itu.  Di pinggir jalan gue sering banget lihat mereka pacaran, entah disengaja atau nggak. Pas gue lewat mereka bersenda gurau, melempar tawa, membuat hati ini tersayat-sayat. Halah… Maklum jomblo.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin nggak sih cewe cantik itu kena pelet? Kemungkinannya hanya 10 persen. Kenapa? Sekarang tampang bukan ukuran buat di jadiin pacar, termasuk buat para cewe-cewe cantik ini. Karena selain ganteng itu relatif, cewe-cewe sekarang juga sadar “money can change situation”. Uang bisa merubah segalanya, yang jelek-pun kelihatan ganteng, kalo duitnya banyak.

Cerita Akhir Tahun : Keguruan dan Kedokteran

Apa yang membedakan belajar dan berobat? Menurut gue yang mebedakan keduanya cukup mudah yaitu, tujuannya. Sebuah pertanyaan tadi adalah representasi dari keguruan dan kedokteran. Gue punya sedikit cerita tentang keduanya..
Hari selasa kemarin tepatnya tanggal 24 desember 2013 (ahh udah kaya surat ajah lengkap banget) seorang temen sekelas gue namanya Siti Kresna alias Memey, sedang bersama Dimas temen sekelas gue juga cuma dia agak tua, maaf yah mas gue sebut lo tua, umur emang nggak bisa bohong hampir sama kaya iklan mie. Mereka berdua sedang di laintai bawah kampus gue tercinta, mata gue yang sayu, langkah gue yang gontai, dan muka gue yang setengah panik karena kurang tidur dan kebelet pipis, tiba-tiba memey manggil gue dengan nada sedikit serius.
“Pik.. sini deh” “Bentar mey, si joni mau mau buang air” jawab gue sambil megangin resleting, biar pas gue masuk wc langsung curr..
Selesai pipis gue balik ke si Memey dan Dimas, mereka setia nungguin gue di bawah tangga sambil berdiri,…

Jenis-Jenis Ketawa Dalam Tulisan

Ketawa itu bermacam-macam jenisnya, dari zaman dinosaurus, manusia purba dan sekarang zaman 4L4y3rs. Ketawa mulai berevolusi, termasuk ketawa dalam tulisan, karena zaman udah cangih sampe akhirnya terciptalah handphone yang nggak cuma bisa ngobrol jarak jauh, tapi juga bisa mengirim pesan singkat atau SMS (Short Message Service.red). 
Sebelum tau lebih dalam jenis-jenis ketawa dalam tulisan, ada baiknya kita mengenal arti kata ‘ketawa’ atau pengertian ketawa. Menurut prof.Toples,.eSDe,.eSeMPe,.eSeMA.Kertawa adalah kata kerja, reaksi dari kejadian lucu yang kita lihat dan kita dengar sehari-hari atau duahari-duahari sehingga  menimbulkan tawa.  Kalo ada yang bertanya ‘tawa’ itu apa?

5 Alasan Kenapa Cowok Suka Sama Raisa

Raisa Adriana. Siapa sih yang nggak kenal sama cewek bersuara jazzy ini. Cewek asal Jakarta ini menjadi idola para kaum adam yang jomblo maupun yang udah punya pasangan. Gue sendiri suka sama Raisa. Bohong banget kalau cowok ditanya “suka nggak lo sama Raisa?” terus jawabnya “nggak”. Kecuali kalau cowoknya agak ngondek. Cyin..
Gue suka Raisa karena… apa yah bingung gue. Ya, suka ajah gitu. Kadang kalau gue suka sama seseorang suka nggak punya alasan. Aduh apasih. Malah curhat. Bukan cuman gue tapi banyak cowok di Indonesia raya ini yang suka sama Raisa. Lalu apa sih alasannya mereka suka sama Raisa.

Kompilasi Foto Manyun

Dalam mengekspresikan emosi ada kalanya kita nggak perlu marah-marah nggak jelas, ke orang yang kenal atau nggak kita kenal sama sekali. Iya, ngapain kita marah-marah sama orang yang kita nggak kenal. Entar dikatain stres. Lebih baik kita ekspresikan emosi kita ke dalam sebuah foto. Kalau misalnya kita lagi Bete, kita bisa pake ekspresi manyun.

Manyun adalah ekspresi dimana orang biasanya lagi dalam keadaan nggak enak hati, Bete, dan sejenisnya tapi sekarang manyun juga bisa dikatagorikan sebagai ekspresi seseorang yang sedang berpose dalam kilatan kamera. Dan menurut penelusuran gue, gue menemukan sesuatu yang sangat eksotis, epic dan membahana. Ternyata manyun juga dilakukan bukan hanya oleh seseorang yang sedang dalam proses menuju dewasa (baca: alay), tapi oleh selebriti dan masyarakat biasa, bahkan orang tua.

Cara Nolak Ajakan, Secara Halus

“Pik dugem yuk” ajak Joni. “Aduh.. gimana yah” “Udah ayok, jangan kebanyakan mikir nanti botak kayak Marijo Tegang, lo” “Ta… tapi Jon” topik terlihat ragu. “Kenapa? Udah ayok temen-temen yang lain udah pada gatel pengen joget Pik, ayok ahh” “Yaudah deh iya”
Kita terkadang bingung ketikaberhadapan dengan seseorang yang kita kenal bahkan sangat akrab, waktu dia ngajak, tapi kitanya nggak mau. Bingung karena nggak tau cara nolaknya. Kadang saking bingungnya diajak ngelakuin hal-hal yang negatif-pun, mau ajah. Padahal udah tau kalau itu nggak baik, tapi tetep mau, kalau udah kayak gitu, mutlak kita sendiri yang salah.