SMARTYOU

Yang paling sering (banyak) kita temui dalam hidup ini pasti akan menjadi teman sejati. Bukan cuman mahluk hidup – baik manusia maupun hewan atau tumbuhan – tapi juga benda-benda mati. Untuk gue sendiri, yang paling sering gue temui dan selalu ada dalam kehidupan gue selain manusia adalah sebuah benda kecil segi panjang berwarna hitam yang luar biasa.

Yah, my phone.

Semua orang, gue rasa pasti lebih sering ketemu smartphonenya daripada ketemu sama yang lain. Yang punya pacar ajah pasti lebih sering ketemu hape, apalagi yang jomblo malah bisa jadi pacarnya ya hape itu sendiri.



Mau tidur, ketemu. Bangun tidur, ketemu. Ke kamar mandi dia ikutan. Sampai ketika kamu sendirian di tempat paling ramai hanya smartphone yang menemani. Scroll time line padahal nggak tahu mau update apaan. Apalagi kalau nggak ada pulsa, cuman bolak-balik mainan game doang. Kalau nggak ada game paling mainan kalkulator.

Gue dan ‘hape smart’ udah menjalani hubungan yang lumayan lama. Sekitar 1 tahun (kayaknya). Gue lupa tanggal ‘jadian’ kita berdua. Di dalam relationship (LDR, CDR, SDR, LSR DLL) satu tahun masa berhubungan sedang berada pada masa lagi bosen-bosennya..

“anjir ini kapan putusnya sih”

Halah..

Walaupun sudah menjalin hubungan yang lumayan lama kita berdua cuman jadi sahabat sejati. Dia menemani kemana pun gue pergi. Dia selalu ada tapi kita cuman jadi sahabat ajah. #sahabtzone.

Smartphone ‘hadiah’ itu sangat bermanfaat buat gue, sangat membantu gue untuk menemukan ide-ide, menyambungkan orang-orang yang nggak gue kenal di instagram dan sosial media lainnya, dan menyambungkan obrolan antara gue dan pemilik smartphone lainnya. Dulu gue jarang bahas hape karena hape gue model zaman penjajah.

“oi Pik, nanti gue BBM yah!”
“eh sms ajah dong”
“oiyah, lupa. Hape lu kan nggak bisa…..”
“udah cukup jangan diterusin. Nanti gue telepon lo langsung! pulsa gue banyak.”  #TUKANGPULSA

Sekarang, gue bisa in-line sama mereka, karena satu frekuensi. Punya benda yang sama. Walaupun nggak canggih-canggih amat. Tapi patut disukuri sekali, karena smartphone ini lah kadang-kadang gue bisa dapet uang jajan.

Tapi kadang gue terlalu over pemakaian, sampai gue harus ganti baterai. Karena baterai yang lama udah ‘hamil’. Kadang gue pakai sambil di cas, kadang gue pakai sampai baterainya habis banget ketika gue charge hapenya dan gue tinggal tidur nggak terasa lebih dari empat jam chargernya nyolok terus.

Pantesan ‘hamil’.

Dan kadang gue terlalu fokus ke hape, less focus on my environment. Buruk.

Secara sosial memang nggak bagus ketika kita terlalu sering mainan hape atau smartphone atau apalah yang model begitu. Bahkan istilah-istilah seperti autis, anti-sosial, geek, smartphone with dumb people dan istilah-istilah lainnya muncul akibat fenomena ini – orang yang memainkan gadgetnya secara berlebihan tanpa mau berosialisasi dengan orang lain atau bahkan orang dekatnya sendiri.




Hampir gue masuk dalam katagori istilah-istilah itu, sampai akhirnya gue disadarkan oleh buku dan sebuah obrolan yang berkualitas – baik secara isi maupun timingnya (quality time). Karena sudah makin sadar, gue pun sering meluangkan waktu untuk membaca dan berinteraksi langsung dengan orang dekat maupun jauh.

Memainkan gadget secara berlebihan sebenarnya bisa juga berefek bagus jika kita tahu pemanfaatan gadget secara benar. Misalnya para selebgram, selebtwit, youtuber,  blogger atau bahkan facebooker (bukan acara di tipi sebelah). Mereka tahu selah-selah pemanfaatan media sosial yang baik di smartphonenya dan bisa menguntungkan juga.

Itu yang bagus, tapi ternyata nggak semua orang sadar akan hal-hal baik. Smartphone hanya  dijadikan barang yang menjauhkannya dari realita sosial yang ada, sebagian besar bahkan melalui media sosial, menyebarkan kebencian, menyebarkan berita provokatif dan memaki-maki orang yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya di dunia nyata.

Yang suka ngegame di hape walaupun nggak menyebarkan berita-berita kebencian dan provokatif tapi mereka terlalu asik dengan dunianya sendiri. Kadang mereka lupa ada teman di sebelahnya yang jauh-jauh datang untuk bercengkrama dan mengobrol ria, ternyata diabaikannya. Mereka juga lupa dengan indahnya alam, indahnya langit cerah di pagi hari, indahnya sunset di pantai, dan indahnya bersosialisasi dengan keluarga dan dengan sesama manusia.

Sekarang kita bisa lihat, hidup kita ada pada satu genggaman. Genggaman smartphone. Cobalah sejenak untuk melepaskan genggaman itu, taruh smartphonenya dan bersosialisasi, diskusi dan nikmati hidup dengan kesadaran penuh bahwa Tuhan memberikan kita hidup bukan hanya untuk menggenggam smartphone semata.

Menikmati dan mensukuri hidup ini dengan melihat ciptaan-ciptaanNya (melihat pemandangan dan lain-lain), membantu sesama dan belajar hal-hal baru. Banyak buku-buku yang belum dibaca. Banyak tempat-tempat indah belum kita datangi. Banyak ide-ide kreatif belum kita gali. Dan masih banyak yang belum kita lakukan.

Kecanggihan teknologi (dalam hal ini smartphone) bisa membantu kita atau malah menjadi ‘bagian keburukan’ kita. Selalu ada dua sisi, tergantung kita menyikapinya. Secanggih apapun smartphone, gue harap kita bijak dan arif dalam menggunaknnya. Be smart with your smartphone.

Smartyou.



Gimana menurut kalian teman-teman? Komen di bawah, share pengalaman atau opini kalian tentang over-pemakaian smartphone, jualan smartphone juga boleh asal kasih diskon 50%. Share artikelnya jika bermanfaat.

Aku sayang kalian… *dadah-dadah*

Komentar

  1. WAH INI! Aku juga lagi sering terpukau pacaran sama smartphone-ku nih, Pik. Padahal ngga bermanfaat juga, cuma sekadar baca timeline, buka ig, kepo2, dih mubazir banget ya beli hape mahal2. /padahal gak mahal juga.
    Hm, sekarang saatnya: memanfaatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya Jos!

    BalasHapus
    Balasan
    1. lain kali kepoin aku juga dong hahaha

      Hapus
  2. Gue sekarang lagi sering banget maen hp ..
    Sebeernya dari dulu sih ..

    Tapi gue lagi nyoba-nyoba buat manfaatin hp sebaik mungkin, contohnya untuk berkomentar di blig mas bang top less ini :)

    Btw, supaya hidup mas bang topless bermanfaat gimana kalo kita saling follow instagram ?

    Ini instagram aku @khairulleon (sebuah kode tanpa basa basi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hape lo pasti sangat bermanfaat karena lo pan selebgram rul hahaha.

      Hapus
  3. Keren, bermanfaat bgt nih mas..
    Aku skrg Alhamdulilah tidak begitu nempel lah sama smart phoneku, gk kaya dulu, kemana2 dibawa, tidur juga harus dekat telinga, bangun2 smpe ketidurn itu si HP nya... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bisa dikurangin kang Andi biar jangan teerlalu bergantung pada hape

      Hapus
  4. Wah, gua setuju banget nih dengan artikel ini. Secara tidak langsung juga menegur gua yang sering main hp tanpa henti. Gak bisa dibohongin sih, skrg emang udah zaman dimana mana kita butuh handphone buat kemana mana. Tpi bukan berarti kita menjadi tidak 'smart' karena 'phone'.

    Bener kata lu, sebenarnya penggunaan smartphone itu tepat bagi orang orang yang bijak dalam menggunakannya, ya kayak selebgram, youtuber, blogger dll. Cuma ya gitu pik, banyak yang salah menggunakannya ya atau masih banyak yang belum menggunakannya dengan baik ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gue negur lo langsung ki jangan buat nonton bokep mulu hape lo hahahaha

      Hapus
  5. Benar nih, smartphone kayaknya udah jadi teman sejati yg ng bisa dilepas..
    Aku sendiri malah lebih sering main sama HP daripada org2 sekitarku.. Kalau ng ada HP, rasanya gimana gitu..
    HP juga kadang sebagai pengalihan dari rasa jenuh.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau jenus chat aku ajah Ray hahahaha

      Hapus
  6. Dengan melihat kembali ke diri gue, sepertinya gue menjurus ke arah autis. Lupa sekitar dan asik sendiri dengan smartphone.

    Sebagai orang pendiam, gue menghalalkan untuk bermain smartphone di keramaian. Ramah tamah yang identik dengan ketimuran sudah hilang dari diri ini. Gue membenarkan hal ini karena, gue pernah ngajak ngobrol orang yang seumuran waktu lagi dibengkel, dan jawabannya jutek gitu serasa gue bakalan merampok tasnya.

    Tapi ketika gue bertemu dengan orang yang lebih tua, gue merasakan keramahan itu masih ada. Meskipun akhirnya gue cuma jadi pendengar ketika bapak-bapak ini berbicara, gue merasa lebih baik karena ada respon dari orang yang gue gak kenal awalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kayaknya harus mulai dikurangin deh bang. biar gak autis2 amat haha

      Hapus
  7. aku pernah mengalami apa yang kamu tulis mas, mulai dari mau tidur, bangun tidur, dan ke kamar mandi aku selalu membawa benda kota ukuran 5 inch ini, entah kenapa setiap aku gak bawa hape kerasa ada yang kurang mas.

    pernah suatu malam aku nongkrong sama temanku berlima, kami selalu sibuk memainkan hape masing masing tanpa ada obrolan diantara kami, padahal tempat nongkrongnya lumayan jauh dari rumah, terus ngapain jauh jauh dari rumah kalau cuma mau main hape , akhirnya kami memutuskan buat menumpuk hape kami ditengah dengan keadann hape terbalik, dan jika ada notif masuk kami gak boleh membukanya entah itu dari pacar atau siapapun. intinya kalau kumpul ya kumpul ngobrol dan sharing jangan sibuk dengan hape masing-masing, masih kurang apa di rumah selalu berduaan sama hape sampe lupa rasanya cari pacar wekekekek (lho kok curhat sih)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah itulah kesedihan yang terjadi. kita nggak tau ternyata hal semacam ini udah banyak terjadi di kehidupan kita.

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...