Sabtu, 24 September 2016

Do We Have a Choice?





Di antara pilihan untuk ngefans sama Raisa atau Isyana gue memilih untuk ngefans sama Raisa bukan karena alasan fisik, bukan karena alasan siapa lebih lama berada di dunia entertain dan bukan pula karena jumlah album yang telah mereka buat. Tapi karena pilihan ajah dan gue dibiarkan untuk memilih, maka gue memilih untuk ngefans sama Raisa. Kalau ditanya kenapa gue nggak milih Isyana karena gue udah pilih Raisa. Masa gue pilih dua-duanya – which is baik Raisa maupun Isyana nggak bisa gue pacarin, nikahin dan jadi ibu dari anak-anak gue kelak. Eaaa..

Pilihan itu selalu ada dan kita harus memilih. Tapi gimana kalau pilihan itu nggak bisa kita pilih karena bertentangan dengan pilihan orang yang benar-benar kita sayangi.


Yah, orangtua.

Mungkin ini jadi masalah semua anak-anak seusia gue atau bahkan mungkin jadi masalah semua anak terlepas mungkin si anak itu sekarang udah punya anak lagi. Gue sering mengalami pilihan sulit, antara nurutin perkataan orangtua atau gue harus mengejar apa yang gue impikan. Bukannya gue nggak mau diatur atau membangkang apa yang orang tua katakan, tapi gue mencoba melakukan apa yang gue bisa atas pilihan yang gue buat sendiri.

----

Dulu ketika emak gue lagi motong-motong bawang di dapur dia bilang ke gue “kamu jangan pacaran dulu sebelum kamu kerja”.
“emang kenapa mak?” gue yang waktu itu masih kecil, polos dan ingusan mulai heran dengan warning yang emak gue berikan. Maksudanya apaan, emak ngasih tahu gue nggak boleh pacaran di usia gue yang masih belia itu.
“ya pokoknya jangan” 

Itulah jawaban emak gue waktu itu. Sungguh jawaban yang kurang menggemberikan. Untung gue nggak ngeyel. Mungkin karena masih kecil. Belum tahu kalau ternyata perempuan itu bisa memabukan dan bisa meng-eeaaa-kan.

Sekian lama setelah masa kecil itu berlalu dan mulailah gue menginjak usia SMA dan hal yang sama, gue dengar lagi dari mulut emak.
“kamu jangan pacaran dulu kalau belum kerja”
“kenapa mak?”
“soalnya kalau pacaran kan perlu duit. Emang kamu punya duit? Jajan saja masih kurang”
“makanya tambahin jajannya mak. Senggaknya biar aku bisa traktir cewek di kantin. Traktir doang kok nggak pacaran”
“ndasmu..”

Menurut penelitian seorang anak (manusia) itu nggak mempan terhadap kalimat negasi. Kayak “kamu jangan nakal!”, kebanyakan anak kalau dikatain ‘jangan’ itu malah maksa. Akhirnya anaknya pun jadi nakal beneran. Dan hal ini berlaku juga kepada bapak-bapak ketika istrinya bilang “papah jangan mainan cewek di luar, awas!”.. maka jangan heran kalau ada bapak-bapak genit. Mungkin di rumah istrinya sering bilang gitu.

Hal itulah yang mendasari gue percaya dengan penelitian tersebut. Terbukti ketika menginjak usia SMA, gue punya pacar. Dan beranjak ke masa kuliah gue juga udah punya pacar walaupun belum kerja (alibi). Perintah emak telah gue langgar. Apa daya alam sudah berkehendak. Gue nggak bisa menahan-nahan untuk bisa berinteraksi secara personal dengan lawan jenis setelah bekerja nanti, apalagi setelah lulus SMA gue lanjut kuliah. Kapan kerjanya. Kapan gue bisa tahu dan mulai memahami perempuan (alibi lagi). Walaupun mereka emang susah dipahami.

Tapi ketika waktu berjalan apa yang emak gue bilang ternyata memang benar. Walaupun emak gue dulu nggak pacaran. Gue ngerasa pacaran itu butuh dana banyak banget, apalagi dulu waktu SMA gue rela nggak jajan, ngumpulin duit supaya bisa jajan bareng, beli bensin, dan lain-lain. Kalau gue jabarin kesannya gue kayak kasir. Itulah yang gue rasakan kalau ternyata benar apa yang emak gue bilang: pacaran itu butuh duit bayak. Tapi gue juga nggak ngerasa salah-salah banget karena pengalaman itu lah yang menyadarkan gue kalau apa yang emak gue bilang itu benar adanya. Gue juga banyak belajar memahami perempuan, memahami rasanya patah hati dan memahami rasanya dibilang modus padahal gue cuman nanya ‘jam berapa’.

Dari pengalaman itu gue belajar banyak..


Orangtua harus kita hormati, apalagi seorang ibu. Tapi pengaruh lingkungan kadang terlalu kuat untuk membuat kita memahami suatu hal daripada apa yang orangtua katakan dan pengalaman membuat kita mengerti maksud perkataan orang yang perduli dan sayang terhadap diri kita. Nggak usah disesali jadikan semua yang baik dan buruk dalam hidup kita sebuah umpan balik dan pelajaran yang sangat berharga.


Kayak pacaran tadi. Di lingkungan gue dulu, rasanya kalau belum punya pacar nggak keren dan dikira suka sejenis. Sejenis musang. Dan selain itu secara alamiah di usia remaja seperti jenis pada umumnya kita sudah mulai suka dengan lawan jenis (apalagi kalau udah mimpi basah). Jadi perkataan orangtua tadi mulai agak tergeser oleh ‘suara-suara’ dari lingkungan pergaulan dan lebih parahnya lagi ini didukung oleh alam. Kodratnya cowok ya suka sama cewek. Apalagi kalau udah lihat yang cantik macam artis Korea. Pusing.

Kalau udah kayak gitu. Pilihan pun jatuh pada kehendak alam. Gue nggak bisa membendung rasa suka terhadap lawan jenis. Apa yang bisa gue lakukan? Iman gue nggak cukup kuat ditambah alam sudah berkehdak. Halah..

Mungkin emak gue dulu harusnya bilang “daripada waktu kamu terbuang sia-sia mending kamu usaha dari sekarang pik. Jualan apa kek. Biar ada jajan tambahan. Biar kamu punya duit banyak. Biar bisa nabung”. Dengan perkataan seperti itu gue mungkin akan bertanya “emang buat apa mak punya duit banyak, duit tambahan dan lain-lain??”.

Nah, baru emak gue bilang…“pik, nanti ketika kamu dewasa mungkin SMA lah, kamu akan mulai suka dengan lawan jenis. Kamu akan mulai suka salah satu dari mereka. Suka dengan perempuan itu alamiah, kodrat kamu sebagai laki-laki dan itu hal yang wajar. Nah, bagaimana kalau sudah begitu? Kamu akan mulai berbicara dengan lawan jenis, tertarik dengannya dan kamu akan mulai mengenal apa itu jatuh cinta. Ada fase ketika kamu suka dengan perempuan kamu akan mampir di warung makan atau kantin sekolah dan kamu makan berdua. Kamu lah yang akan membayar." 

"Jangan tanya alasan kenapa kamu yang harus bayar. Kalau laki-laki sudah berbuat demikian itu artinya kamu benar-benar menaruh rasa cinta terhadap perempuan tersebut. Istilahnya, gentle. Nah, untuk membayari makanan si perempuan yang kamu sukai, kamu harus punya uang dua kali lipat dari uang jajan mu. Dari mana kamu dapat itu? dari sekarang. Ayo cepet kamu berfikir apa yang akan kamu jual. Tapi, sebelumnya kamu abisin dulu Whiskasnya ya nak.”
“iya mak, meeong…”

Wah kalau dulu emak gue bilang gitu rasanya gue bisa berbuat banyak untuk kehidupan gue sekarang. Gue bisa jadi entrepreneur, gue bisa bayarin cewek makan, dan gue bisa bagi-bagi Whiskas bareng emak. Love you mak.

Sebagai seorang anak kita juga harus memahami apa maksud dari perkataan dan nasehat orangtua, kita harus patuh pada mereka tapi kita juga harus menanyakan ‘kenapa dia berkata seperti itu?’, apa alasannya, dan kalau kita punya pendapat lain diskusikan dan komunikasikan.

Tapi gimana kalau ortu nggak mau denger omongan kita?

Sebenernya kadang kita punya keinginan pribadi yang lain dari perintah orang tua tapi kita nggak mampu berbuat apa-apa walaupun sekedar bicara, dan pada akhirnya kita cuman ngomel-ngomel sendiri dan menggerutu.

Kebetulan gue punya problem dengan orangtua yang otoriter, terutama bapak. Dengan kondisi orang tua yang nggak mau mendengar omongan anaknya tersebut, gue melakukan hal diluar dugaan orangtua gue. Dan gue sendiri sih lebih ke nunjukin. Menunjukan dengan tindakan kalau gue punya pendapat berbeda dengan orangtua. Makanya menurut gue orang tua itu harusnya bisa mengajak anaknya diskusi, bikin nyaman untuk menyampaikan pendapat dan bisa mempertanggungjawabakan apa yang dia katakan dan lakukan.

Kadang gapa yang gue lakukan  ketika nggak sepaham dengan mereka gue melkukan tindakan yang nggak semestinya ditiru, nakal lah gue dulu mah.. Tapi kalau orangtua yang paham dengan kondisi semacam itu mereka akan tahu bahwa anak ingin di dengar pendapatnya ingin berdiskusi dan lain-lain.

Mengenai pilihan, waktu itu gue lebih memilih untuk tidak sependapat dengan cara bertindak semau gue sendiri. Karena orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya. Yah itulah yang terjadi. Ketika pilihan itu ada tapi kita tidak diberikan hak untuk memilih. Mau apa kita? Ngealawan? Jangan. Kalau menurut lo pilihan itu dirasa memberatkan lo lebih baik diskusikan. Kalau orang tua lo susah kayak orang tua gue, tetap lah jaga rasa hormat dan coba lah kasih dia contoh-contoh kongkrit dari pendapat lo.

Tapi gue punya catatan penting. Ketika orang tua elo, gue dan kita semua udah tua dan renta ingatlah mereka mungkin akan meninggalkan kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita udah membahagiakan mereka? Kalau belum, mungkin ada baiknya kita harus mengalah sama orangtua, turunkan ego dan mematuhi apa yang dia perintahkan selama itu positif. Gue rasa pasti orangtua mah ingin anaknya dapet hal positif, makanya pasti mereka membimbing kita ke hal yang positif walaupun ada juga yang menjerumuskan ke lubang hitam ketidakpastian... halah.

Keterlibatan positif dari orang tua adalah kunci yang luar biasa terhadap kesuksesan anak.

Oke gais, selamat berbincang-bincang ria dengan orangtua kalian. Ngobrol lah selagi mereka masih ada. Gue mohon maaf kalau yang baca tuisan ini mungkin orangtuanya udah nggak ada, gue mungkin belum pernah merasakan hal itu, tapi gue yakin mereka nggak benar-benar ‘hilang’ dari alam semesta ini, jadi berdo’a ajah buat mereka semoga mereka dalam llindungan Tuhan, sebagai gantinya Tuhan pun mungkin akan lebih manyangi kalian dengan dimudahkannya usaha-usaha yang kalian lakukan di dunia untuk mencapai apa yang kalian inginkan. Amin..

Gue nggak sedang merangkak meniti karir untuk menjadi motivator, gue hanya menulis apa yang gue dapat dari kehidupan yang sudah gue alami sendiri, siapa tahu pengalaman gue dan kesimpulan yang gue ambil itu bisa jadi pelajaran untuk orang lain juga. Kalau nggak pun, ya,  nggak apa-apa, lumayan nambahin jumlah postingaan blog. :D

Segitu aje, gue pamit, silahkan komen dan ramaikan, share juga kalau bermanfaat. Muachh…

15 komentar:

  1. Hidup adalah pilihan dan kita wajib untuk memilih. Tapi, kalo restu orang tua belum hadir, kok rasanya kebangetan mau melangkahi. Lebih tepatnya kualat keknya. :D

    Dari semua yang abang ceritain, gue sih, manggut2 aja, soalnya pelajaran hidup gue tentunya masih sedikit. Gue lebih ambil maknanya hidup ini untuk dan harus ngapain.

    Memang, kadang mneyikapi kehendak orang tua itu, seperti pengen nembak cewek. Takut salah ngomong nanti bisa berantakan.

    Ya, semoga apa yang gue mau semuanya selalu direstui orang tua. Amin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelajaran hidup bisa kita dapetin dari kejadian kecil ru, tapi yg bikin kita mendewasa adalah masalah yg harus kita selesaikan..

      Hapus
  2. dulu lagi jadi anak suak kesel kalau mama cerewet apa2 gak boleh sekarang merasakan sendiri jadi ortu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bagi kisahnya dong kak Tira gmna ndidik anak hehehe

      Hapus
  3. Sama kita pik, sya juga dbesarkan dengan tipikal keluarga otoriter sama orngtua. Hrus mnurutin kemauan nya, baik itu dftar ptn, skolah dan mudah2an jodoh juga gw gk harus nurut. Pokoknya yg terkahir mdah2an jangan!

    Mngkin stiap orng tua itu mmpunya ktakutan msing2 trhadap gaya hdup anaknya kelak, mkanya dia otoriter. Tpi gw prcaya, smua itu pasti positif.

    "gue bisa bagi-bagi Whiskas bareng emak" whiskas itu bukan nya makanan kucing ya pik?.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kita sama2 punya ortu otoriter. Kmren ortu gue udah nawarin calon Han hahahah...

      Ya mreka aslinya sayang sama kita..

      Whiskas emng makanan kucing, it's only for joke but you don't understand it hahaa I am failed haha

      Hapus
  4. Sebenernya membahagiakan orang tua itu gak susah bang. Gak sewah harus memberangkatkan haji. Orang tua gak banyak berharap ini itu yang susah susah pada anaknya. Simpelnya ketika kita kecil, melihat anaknya sehat, itu udah lebih dari cukup. Ketika kita mulai tumbuh, kita tampak ceria dan seperti anak pada umumnya itu juga sudah membuat mereka bahagia. Semisal kita memiliki prestasi di suatu bidang, itu semacam nilai lebih untuk jeruh payahnya membesarkan kita. Kita bahagia, kita nyaman dengan jalan hidup yang di jalanin, itu juga sudah membuat mereka bahagia lho. Simplenya sih gitu.

    Macem ibuku, pas aku nerima gaji pertama kerja paruh waktu, blio kubelikan ini itu. Bukannya seneng aku malh dimarahin. Katanya punya uang bukannya di tabung malah dimabur hamburkan gak jelas -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah mereka emang nggak minta yang neko2 tapi ada ajah orang tua yang berpikir kalau kita harus menghasilakn ini-itu.

      mungkin orangtua kamu emang orang tua yang super fah hehe

      Hapus
  5. baca ini malah bikin baper bang. gini ini malah pengen buru-buru ke orang tua buat ngobrol quality time.

    memang sih, pilihan orang tua itu selalu yang terbaik (menurut mereka). tapi kadang belum tentu cocok untuk diri kita. ya, kembali pada diri kita sendiri aja, apakah yang kita pilih itu udah bener-bener nantinya bisa membuat kedua orang tua bahagia. kalau sekiranya bisa, ya lanjutkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha ya tinggal ngobrol ajah zam

      dibutuhkan kedewasaan berpikir dan kematangan berfikir zam untuk melihat kondisi seperti itu..

      Hapus
  6. Kayaknya hampir semua orang tua mesanin anaknya terutama yg masih sekolah dengan "jangan pacaran dulu" tapi ya dilanggar juga. Guepun juga gitu dulu haha. Baca postingan lo ini gue cuma bisa "wah samaan nih pola pikirnya!" Haha.

    +100 buat lo, pik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah karena anak sekolahan mah nggak tahu apa2 Yog, padahal kalau mereka (ortu) kasih kita pengetahuan yang lebih untuk menjalani hidup pasti kita juga bakal ngerti.. hehe

      Hapus
  7. Kalo orang tua gua malah kebalik, dari sejak gua kecil, mereka malah udah ngajarin gua : apa sih bedanya cowo sama cewe, pacaran itu apa, bagaimana gua harus bersikap terhadap lawan jenis, kalo gua suka sama lawan jenis apa yg harus gua lakuin, pacaran itu apa sih, ciuman itu apa sih, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, sejak dari kecil, gua udah punya pengetahuan yg cukup mengenai cinta dan juga seksualitas.

    BalasHapus
  8. golden wesss...super sekali ni Pik, lu dapat penceramahan daimana? Apa lo adri sholat Jumat?? hehehehe..

    tapi apa yang lo katakan itu benar. Mungkin gue ngga bisa ngerasaain kayak yang lo rasain karena Ayah gue orangnya menjunjung prinsip musyawarah untuk mufakat, cuman temen temen gue juga banyak yang punya orang tua otoriter, dan mau nggak mau mereka harus ngikutin apa kata orangtua. Tapi, ya emang orangtua pastilah mau yang terbaik untuk anaknya. That's why, mereka bertindak semacam itu.

    Tapi, gue udah lama nggak pernah ngomong ngomong sama Bapak gue.

    BalasHapus
  9. Aku dulu juga diwejangi, "Nggak boleh pacaran" pas itu SMA. Tapi aku pacaran hehe.. tp gak sembunyi2 kok. Tetap dilihat ortu. Meski ya ortu selalu menampakkan wajah gak enak. :D
    Baru boleh pas kuliah. Di mana aku udah bisa cari duit sedikit2.
    Dan emang iya... pacaran itu butuh duit.
    Kalau pacaran sama aku enak kok hahaahaa... makan bayarnya sendiri2. Aku gamau dibayarin, kecuali moment2 tertentu, nggak nolak ditraktir. :)

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*