Langsung ke konten utama

Pilihan Hidup


Kemarin gue baru ajah ngambil ijazah, rasanya kayak anak SMA lagi. Padahal itu ijazah S1 alias sarjana (pamer). Waktu wisuda kemarin gue nggak dapet ijazah karena telat ngumpulin skripsi. Padahal tinggal jilid terus kumpulin, tapi entah kenapa rasanya males gitu. Efek sidang lalu kemudian dinyatakan lulus emang parah sih – rasa ‘plong’-nya bikin badan susah digerakin.
Waktu ngambil ijazah kemarin sempet ada trouble. Karena gue harus bolak-balik kampus lagi untuk ngurus surat kalau gue udah ngumpulin skripsi. Ya gitu lah, birokrasi kampus. Gue juga paham sih emang aturannya emang seperti itu, apa boleh buat gue pun suka dengan bolak-balik ke bagian akademik soalnya di lorong-lorong samping bagian akademik ada banyak cewek cakep. Mayan, lah, buat dilihat. Siapa tahu bisa dipegang juga. Halah..

----
Gue nggak terlalu bingung setelah gue lulus mau kemana dan ngapain. Setelah lulus sebenarnya ada banyak pilihan yang bisa gue ambil, diantaranya:
  1. Jadi guru (sesuai jurusan yang gue ambil)
  2. Kuliah lagi dengan ngejar beasiswa sambil kerja (mainstream)
  3. Kerja di kantoran (nggak tahu kantor apa)
  4. Merantau ke negri orang (bukan TKI)
  5. Ngeblog, ngeblog dan ngeblog
  6. Masuk geng Avengers fraksi Iron Man
  7. Nikah sama janda muda, kaya, cantik dan punya anak satu. Lalu berjuang di jalan kebenaran. Yes.
Entah kenapa pilihan yang nomer tujuh sepertinya pilihan yang enak tapi susah. Enak kelihatannya, susah nyarinya.
Menurut gue, jadi guru adalah sebuah pilihan yang sulit. Karena gue sendiri ngerasa belum pantas ngajarin anak orang. Dan tanggungjawab seorang guru itu gede banget, bukan cuman jadiin si siswa paham materi yang gue ajarkan tapi juga bisa membuat moral mereka jadi lebih baik. Gue terlalu idealis dalam hal ini, tapi gue akan mengajar kalau ilmu dan pengalaman hidup gue sudah mumpuni. Gue ngerasa ilmu gue kurang, makanya gue pengen meneruskan kuliah ke jenjang lebih tinggi lagi. Bukan karena gelar semata tapi karena ILMUNYA.

source
Kenapa gue nggak nulis pilihan ‘kerja di bank’. Selain karena pilihan tadi bukan benar-benar pure pilihan yang ada di ‘list pilihan’ gue yang sebenarnya, juga karena kerja di bank nggak pernah ada di benak gue apalagi semenjak gue kenal sama pak Adi. Pak Adi ini mantan VP (vice president) bank devisa dan udah 25 tahun berpengalaman di bank. Dia juga jago banget di IT karena sempat jadi direktur IT. Lengkap lah orang yang satu ini, skill tentang perbankannya.
Tapi anehnya gue malah nggak tertarik jadi banker, gue malah lebih tertarik pengen mempelajari ITnya. Dan lebih pengen belajar banyak dari kehidupan pak Adi yang luar biasa.
Sekarang, gue sedang menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, harus kreatif dan tahan lapar. Yah, pilihan hidup yang gue ambil, kurang lebih mungkin di mata orang sebuah pilihan yang bodoh untuk seorang lulsan sarjana. Karena harusnya bisa bekerja di tempat yang lebih layak – kerja kantoran, kerja di bank atau pemerinthan – dan bisa mendapatkan banyak uang.
Kalau ukurannya uang, memang akan muncul kalimat atau pernyataan seperti itu. Tapi gue nggak pakek ukuran uang untuk melihat apa yang gue kerjakan dan apapun yang akan menjadi pilihan gue nanti, yang gue pakek adalah kebahagiaan, kebebasan, gue senang melakukannya dan gue banyak belajar dari pilihan yang gue ambil. Henry Ford pernah bilang..


If money is your hope for independence you will never have it. The only real security that a man will have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability. –Henry Ford


Gue tidak sedang membenturkan kebahagiaan dengan uang, karena untuk sebagian orang uang adalah bagian dari kebahagiaan dan ada juga yang menganggap uang tidak selalu membuat kita bahagia. Intinya pembahasan gue bukan untuk mengadu domba kebahagiaan dengan uang. 
Yang gue tahu orang akan selalu butuh uang di dalam kehidupannya. Ya, gue pun sama ajah create money juga, hanya bedanya gue harus kreatif, kerja keras dan sabar ajah untuk lebih banyak dapet uang. Kalau dapetnya nggak seberapa ya gue harus tetap bersukur. Gue masih hidup ajah itu udah rejeki yang nggak bakal ternilai even with dollars. Disitulah menurut gue kita akan belajar banyak tentang hidup.
source
source
Ini bukan ceramah atau tausiah tentang kehidupan – karena gue juga bukan orang yang cakap dalam hal tersebut. Gue hanya memberikan alasan atas pilihan yang gue ambil atau mungkin ada yang sama kayak gue di luar sana yang ngambil kerjaan bukan karena seberapa besar uang yang bisa di dapat tapi berasal dari kebahagiaan, dia enjoy melakukannya, dan dia bisa banyak belajar dari pilihannya tersebut. Dengan tulisan ini mungkin mewakili pilihan hidup orang-orang yang sama seperti apa yang gue lakukan. 

Cie mewakili.. Iya, sih gitu. Menurut kalian apakah pilihan hidup yang kalian jalani sudah membuat kalian bahagia atau gimana? Komen dong. 

Komentar

  1. Kamu beruntung Fik, bisa dapat ijazah S1. Bisa masuk kerja kemana aja asal kamu mau coba. Saya kerja sekarang modal ijazah SMA, dapat posisi kantor karena sempat kuliah trus drop out. Dan menurut pengalaman saya, tujuan kamu harus dikembalikan lagi ke tujuan kamu kuliah. Kalau sudah nemu tujuan kamu daftar kuliah dulu, tinggal lanjutin. Niat awal kadang disamar-samarkan sama keadaan sekarang. sehingga lupa tuh sama yang namanya goal pertama pas kamu kuliah yang mau dicapai. Tapi pilihan tetap ada di kamu. jd inget pepatah, "Lakukan yang kamu lakukan dengan cinta, cintai apa yang kamu sedang lakukan." Insya allah ketemu jalannya. Lucky bro!

    BalasHapus
  2. Gue rasa hidup gue telah berjalan 16 tahun dimuka bumi ini, dan gue rasakan belum ada yang wah, still going. Kayaknya gue harus menjalankan apa yang gue mau dengan usaha dan belajar yang giat, yang mana gue masih kelas 1 SMA, jalan gue masih panjang. Do'akan gue ye bang :p

    Namun secuil kebahagiaan itu pasti ada di setiap kehidupan seseorang, kebahagiaan itu tidak hanya memiliki uang banyak dan kerja di kantoran sebagai bos, masih bisa bernafas saja, melihat ibu masih tersenyum, dan masih bisa makan yang enak itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi gue. Sederhana namun itulah yg gue rasakan.

    Terus semangat bang topik, lakukan hal untuk menggapai cita-cita, apapun itu. Tetapi harus diiringi dengan usaha dan do'a, insya allah berhasil, amin..

    BalasHapus
  3. sekian tahun merasakan dunia kerja, jadi ngerasa juga koq. memang apa-apa butuh duit, tapi duit itu bukan segalanya.. *duh, jadi galau* hahaha..

    BalasHapus
  4. Hm, kita emang butuh duit, tapi gak semua yang kita lakuin harus berdasarkan duit, termasuk kerja. Bagiku - yang masih anak ingusan nyari kuliah - kerja itu yang penting enak dan untung, enak dalam arti kita enjoy jalaninnya walaupun gaji gak seabrek dan untung bukan dalam arti gaji gede, tapi dalam arti gak bikin puyeng dan bikin kita masih ada waktu untuk bersantai. Bayangin, duit seabrek tapi pikiran stress, yang ada nanti sakit, stroke, duit habis buat biaya rumah sakit. Mending gaji bisa buat makan sehari-hari tapi badan sehat dan pikiran happy, lebih enak pasti :D

    BalasHapus
  5. Dulu saya mau ngajar juga jadi takut sendiri, mampu atau nggak. Cuma kalau ketakutan itu dibiarkan terus kita nggak akan pernah maju kedepan.
    Berarti di BE banyak calon Guru ya.

    BalasHapus
  6. baca blog lo sekarang kayak baca blog gue sendiri di tiga tahun lalu, Pek. persis. Saat itu gue nggak punya arahan hidup mau kemana. lalu, gue menghabiskan waktu berjam jam di perpstakaannnnn daerah Ambarawa demi satu tujuan. Minta WIFI gratisan. Saat itu, banyak yang gue lamar di jobstreet, JobDSB, dan banyak lainnya. Hampir semua yang nyerempet2 gue daftar, ada kerja di perusahaan, di bank, beberapa guru, copy writer, reporter. Semuanya. Tapi, karena waktu itu obsesi gue kerja di kota besar, gue pilih daerah jakarta dan Surabaya. Dan akhirnya nasib membawa gue ke sini.
    Apakah gue bahagia. Gue bahagia.....banget. Walau pas pertama gue rasa gue tersesat jadi guru dan tersesat kerja di sini, lama lama gue jadi tahu apa passion gue. Gue jadi terpacu untuk make more money di sini karena pendidikan lebih diprioritaskan oleh mama mama kantoran di kota kota besar. Well, money can't buy happiness, but money can buy Tab, I-Phone, even a car that bring you to the happiness. Wehehehe..yang penting jangan jadi budak uang aja. Dan dari perpindahan gue tiga tahun juga membawa gue ke poin poin bucket list yang satu demi satu terceklis. Ya gitu..emang hidup itu adalah soal pilihan yang dipadu padankan dengan kesempatan yang bisa membawa perubahan bagi hidup kita. So, you. Just know yourself better, work with passion and be happy!! Yeayy!!
    GOOD LUCK, PEK!

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue sih kembali seperti yang Henry Ford bilang mey. Kita tuh harus punya experience dan pendidikan yang baik untuk bisa paham apa sih uang sebenarnya. karena kalau kita ngggak tahu tentang prinsip uang, mana bisa kita bebas merdeka. yang ada kita jadi budak uang seperti yang kamu bilang.

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...

Pos populer dari blog ini

Orang-Orang yang Nggak Disukai di BBM

Alasan-Alasan Cewe Cantik Pacaran Sama Cowo Jelek

Belakangan ini, gue sering banget lihat cowo jelek pacaran sama cewe cantik. Saking seringnya gue sampe masuk angin. -lah? Yang ada di benak gue ketika lihat mereka berdua pacaran adalah “I’M A LOSER”. Iya, gue ngerasa kalo cewe-cewe sekarang udah kena fatamorgana, dan cowo jelek udah berhasil memanfaatkan situas itu.  Di pinggir jalan gue sering banget lihat mereka pacaran, entah disengaja atau nggak. Pas gue lewat mereka bersenda gurau, melempar tawa, membuat hati ini tersayat-sayat. Halah… Maklum jomblo.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin nggak sih cewe cantik itu kena pelet? Kemungkinannya hanya 10 persen. Kenapa? Sekarang tampang bukan ukuran buat di jadiin pacar, termasuk buat para cewe-cewe cantik ini. Karena selain ganteng itu relatif, cewe-cewe sekarang juga sadar “money can change situation”. Uang bisa merubah segalanya, yang jelek-pun kelihatan ganteng, kalo duitnya banyak.

Cerita Akhir Tahun : Keguruan dan Kedokteran

Apa yang membedakan belajar dan berobat? Menurut gue yang mebedakan keduanya cukup mudah yaitu, tujuannya. Sebuah pertanyaan tadi adalah representasi dari keguruan dan kedokteran. Gue punya sedikit cerita tentang keduanya..
Hari selasa kemarin tepatnya tanggal 24 desember 2013 (ahh udah kaya surat ajah lengkap banget) seorang temen sekelas gue namanya Siti Kresna alias Memey, sedang bersama Dimas temen sekelas gue juga cuma dia agak tua, maaf yah mas gue sebut lo tua, umur emang nggak bisa bohong hampir sama kaya iklan mie. Mereka berdua sedang di laintai bawah kampus gue tercinta, mata gue yang sayu, langkah gue yang gontai, dan muka gue yang setengah panik karena kurang tidur dan kebelet pipis, tiba-tiba memey manggil gue dengan nada sedikit serius.
“Pik.. sini deh” “Bentar mey, si joni mau mau buang air” jawab gue sambil megangin resleting, biar pas gue masuk wc langsung curr..
Selesai pipis gue balik ke si Memey dan Dimas, mereka setia nungguin gue di bawah tangga sambil berdiri,…

Jenis-Jenis Ketawa Dalam Tulisan

Ketawa itu bermacam-macam jenisnya, dari zaman dinosaurus, manusia purba dan sekarang zaman 4L4y3rs. Ketawa mulai berevolusi, termasuk ketawa dalam tulisan, karena zaman udah cangih sampe akhirnya terciptalah handphone yang nggak cuma bisa ngobrol jarak jauh, tapi juga bisa mengirim pesan singkat atau SMS (Short Message Service.red). 
Sebelum tau lebih dalam jenis-jenis ketawa dalam tulisan, ada baiknya kita mengenal arti kata ‘ketawa’ atau pengertian ketawa. Menurut prof.Toples,.eSDe,.eSeMPe,.eSeMA.Kertawa adalah kata kerja, reaksi dari kejadian lucu yang kita lihat dan kita dengar sehari-hari atau duahari-duahari sehingga  menimbulkan tawa.  Kalo ada yang bertanya ‘tawa’ itu apa?

5 Alasan Kenapa Cowok Suka Sama Raisa

Raisa Adriana. Siapa sih yang nggak kenal sama cewek bersuara jazzy ini. Cewek asal Jakarta ini menjadi idola para kaum adam yang jomblo maupun yang udah punya pasangan. Gue sendiri suka sama Raisa. Bohong banget kalau cowok ditanya “suka nggak lo sama Raisa?” terus jawabnya “nggak”. Kecuali kalau cowoknya agak ngondek. Cyin..
Gue suka Raisa karena… apa yah bingung gue. Ya, suka ajah gitu. Kadang kalau gue suka sama seseorang suka nggak punya alasan. Aduh apasih. Malah curhat. Bukan cuman gue tapi banyak cowok di Indonesia raya ini yang suka sama Raisa. Lalu apa sih alasannya mereka suka sama Raisa.

Kompilasi Foto Manyun

Dalam mengekspresikan emosi ada kalanya kita nggak perlu marah-marah nggak jelas, ke orang yang kenal atau nggak kita kenal sama sekali. Iya, ngapain kita marah-marah sama orang yang kita nggak kenal. Entar dikatain stres. Lebih baik kita ekspresikan emosi kita ke dalam sebuah foto. Kalau misalnya kita lagi Bete, kita bisa pake ekspresi manyun.

Manyun adalah ekspresi dimana orang biasanya lagi dalam keadaan nggak enak hati, Bete, dan sejenisnya tapi sekarang manyun juga bisa dikatagorikan sebagai ekspresi seseorang yang sedang berpose dalam kilatan kamera. Dan menurut penelusuran gue, gue menemukan sesuatu yang sangat eksotis, epic dan membahana. Ternyata manyun juga dilakukan bukan hanya oleh seseorang yang sedang dalam proses menuju dewasa (baca: alay), tapi oleh selebriti dan masyarakat biasa, bahkan orang tua.

Cara Nolak Ajakan, Secara Halus

“Pik dugem yuk” ajak Joni. “Aduh.. gimana yah” “Udah ayok, jangan kebanyakan mikir nanti botak kayak Marijo Tegang, lo” “Ta… tapi Jon” topik terlihat ragu. “Kenapa? Udah ayok temen-temen yang lain udah pada gatel pengen joget Pik, ayok ahh” “Yaudah deh iya”
Kita terkadang bingung ketikaberhadapan dengan seseorang yang kita kenal bahkan sangat akrab, waktu dia ngajak, tapi kitanya nggak mau. Bingung karena nggak tau cara nolaknya. Kadang saking bingungnya diajak ngelakuin hal-hal yang negatif-pun, mau ajah. Padahal udah tau kalau itu nggak baik, tapi tetep mau, kalau udah kayak gitu, mutlak kita sendiri yang salah.