Jumat, 27 Mei 2016

Pilihan Hidup


Kemarin gue baru ajah ngambil ijazah, rasanya kayak anak SMA lagi. Padahal itu ijazah S1 alias sarjana (pamer). Waktu wisuda kemarin gue nggak dapet ijazah karena telat ngumpulin skripsi. Padahal tinggal jilid terus kumpulin, tapi entah kenapa rasanya males gitu. Efek sidang lalu kemudian dinyatakan lulus emang parah sih – rasa ‘plong’-nya bikin badan susah digerakin.
Waktu ngambil ijazah kemarin sempet ada trouble. Karena gue harus bolak-balik kampus lagi untuk ngurus surat kalau gue udah ngumpulin skripsi. Ya gitu lah, birokrasi kampus. Gue juga paham sih emang aturannya emang seperti itu, apa boleh buat gue pun suka dengan bolak-balik ke bagian akademik soalnya di lorong-lorong samping bagian akademik ada banyak cewek cakep. Mayan, lah, buat dilihat. Siapa tahu bisa dipegang juga. Halah..

----
Gue nggak terlalu bingung setelah gue lulus mau kemana dan ngapain. Setelah lulus sebenarnya ada banyak pilihan yang bisa gue ambil, diantaranya:
  1. Jadi guru (sesuai jurusan yang gue ambil)
  2. Kuliah lagi dengan ngejar beasiswa sambil kerja (mainstream)
  3. Kerja di kantoran (nggak tahu kantor apa)
  4. Merantau ke negri orang (bukan TKI)
  5. Ngeblog, ngeblog dan ngeblog
  6. Masuk geng Avengers fraksi Iron Man
  7. Nikah sama janda muda, kaya, cantik dan punya anak satu. Lalu berjuang di jalan kebenaran. Yes.
Entah kenapa pilihan yang nomer tujuh sepertinya pilihan yang enak tapi susah. Enak kelihatannya, susah nyarinya.
Menurut gue, jadi guru adalah sebuah pilihan yang sulit. Karena gue sendiri ngerasa belum pantas ngajarin anak orang. Dan tanggungjawab seorang guru itu gede banget, bukan cuman jadiin si siswa paham materi yang gue ajarkan tapi juga bisa membuat moral mereka jadi lebih baik. Gue terlalu idealis dalam hal ini, tapi gue akan mengajar kalau ilmu dan pengalaman hidup gue sudah mumpuni. Gue ngerasa ilmu gue kurang, makanya gue pengen meneruskan kuliah ke jenjang lebih tinggi lagi. Bukan karena gelar semata tapi karena ILMUNYA.

source
Kenapa gue nggak nulis pilihan ‘kerja di bank’. Selain karena pilihan tadi bukan benar-benar pure pilihan yang ada di ‘list pilihan’ gue yang sebenarnya, juga karena kerja di bank nggak pernah ada di benak gue apalagi semenjak gue kenal sama pak Adi. Pak Adi ini mantan VP (vice president) bank devisa dan udah 25 tahun berpengalaman di bank. Dia juga jago banget di IT karena sempat jadi direktur IT. Lengkap lah orang yang satu ini, skill tentang perbankannya.
Tapi anehnya gue malah nggak tertarik jadi banker, gue malah lebih tertarik pengen mempelajari ITnya. Dan lebih pengen belajar banyak dari kehidupan pak Adi yang luar biasa.
Sekarang, gue sedang menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, harus kreatif dan tahan lapar. Yah, pilihan hidup yang gue ambil, kurang lebih mungkin di mata orang sebuah pilihan yang bodoh untuk seorang lulsan sarjana. Karena harusnya bisa bekerja di tempat yang lebih layak – kerja kantoran, kerja di bank atau pemerinthan – dan bisa mendapatkan banyak uang.
Kalau ukurannya uang, memang akan muncul kalimat atau pernyataan seperti itu. Tapi gue nggak pakek ukuran uang untuk melihat apa yang gue kerjakan dan apapun yang akan menjadi pilihan gue nanti, yang gue pakek adalah kebahagiaan, kebebasan, gue senang melakukannya dan gue banyak belajar dari pilihan yang gue ambil. Henry Ford pernah bilang..


If money is your hope for independence you will never have it. The only real security that a man will have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability. –Henry Ford


Gue tidak sedang membenturkan kebahagiaan dengan uang, karena untuk sebagian orang uang adalah bagian dari kebahagiaan dan ada juga yang menganggap uang tidak selalu membuat kita bahagia. Intinya pembahasan gue bukan untuk mengadu domba kebahagiaan dengan uang. 
Yang gue tahu orang akan selalu butuh uang di dalam kehidupannya. Ya, gue pun sama ajah create money juga, hanya bedanya gue harus kreatif, kerja keras dan sabar ajah untuk lebih banyak dapet uang. Kalau dapetnya nggak seberapa ya gue harus tetap bersukur. Gue masih hidup ajah itu udah rejeki yang nggak bakal ternilai even with dollars. Disitulah menurut gue kita akan belajar banyak tentang hidup.
source
source
Ini bukan ceramah atau tausiah tentang kehidupan – karena gue juga bukan orang yang cakap dalam hal tersebut. Gue hanya memberikan alasan atas pilihan yang gue ambil atau mungkin ada yang sama kayak gue di luar sana yang ngambil kerjaan bukan karena seberapa besar uang yang bisa di dapat tapi berasal dari kebahagiaan, dia enjoy melakukannya, dan dia bisa banyak belajar dari pilihannya tersebut. Dengan tulisan ini mungkin mewakili pilihan hidup orang-orang yang sama seperti apa yang gue lakukan. 

Cie mewakili.. Iya, sih gitu. Menurut kalian apakah pilihan hidup yang kalian jalani sudah membuat kalian bahagia atau gimana? Komen dong. 

7 komentar:

  1. Kamu beruntung Fik, bisa dapat ijazah S1. Bisa masuk kerja kemana aja asal kamu mau coba. Saya kerja sekarang modal ijazah SMA, dapat posisi kantor karena sempat kuliah trus drop out. Dan menurut pengalaman saya, tujuan kamu harus dikembalikan lagi ke tujuan kamu kuliah. Kalau sudah nemu tujuan kamu daftar kuliah dulu, tinggal lanjutin. Niat awal kadang disamar-samarkan sama keadaan sekarang. sehingga lupa tuh sama yang namanya goal pertama pas kamu kuliah yang mau dicapai. Tapi pilihan tetap ada di kamu. jd inget pepatah, "Lakukan yang kamu lakukan dengan cinta, cintai apa yang kamu sedang lakukan." Insya allah ketemu jalannya. Lucky bro!

    BalasHapus
  2. Gue rasa hidup gue telah berjalan 16 tahun dimuka bumi ini, dan gue rasakan belum ada yang wah, still going. Kayaknya gue harus menjalankan apa yang gue mau dengan usaha dan belajar yang giat, yang mana gue masih kelas 1 SMA, jalan gue masih panjang. Do'akan gue ye bang :p

    Namun secuil kebahagiaan itu pasti ada di setiap kehidupan seseorang, kebahagiaan itu tidak hanya memiliki uang banyak dan kerja di kantoran sebagai bos, masih bisa bernafas saja, melihat ibu masih tersenyum, dan masih bisa makan yang enak itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi gue. Sederhana namun itulah yg gue rasakan.

    Terus semangat bang topik, lakukan hal untuk menggapai cita-cita, apapun itu. Tetapi harus diiringi dengan usaha dan do'a, insya allah berhasil, amin..

    BalasHapus
  3. sekian tahun merasakan dunia kerja, jadi ngerasa juga koq. memang apa-apa butuh duit, tapi duit itu bukan segalanya.. *duh, jadi galau* hahaha..

    BalasHapus
  4. Hm, kita emang butuh duit, tapi gak semua yang kita lakuin harus berdasarkan duit, termasuk kerja. Bagiku - yang masih anak ingusan nyari kuliah - kerja itu yang penting enak dan untung, enak dalam arti kita enjoy jalaninnya walaupun gaji gak seabrek dan untung bukan dalam arti gaji gede, tapi dalam arti gak bikin puyeng dan bikin kita masih ada waktu untuk bersantai. Bayangin, duit seabrek tapi pikiran stress, yang ada nanti sakit, stroke, duit habis buat biaya rumah sakit. Mending gaji bisa buat makan sehari-hari tapi badan sehat dan pikiran happy, lebih enak pasti :D

    BalasHapus
  5. Dulu saya mau ngajar juga jadi takut sendiri, mampu atau nggak. Cuma kalau ketakutan itu dibiarkan terus kita nggak akan pernah maju kedepan.
    Berarti di BE banyak calon Guru ya.

    BalasHapus
  6. baca blog lo sekarang kayak baca blog gue sendiri di tiga tahun lalu, Pek. persis. Saat itu gue nggak punya arahan hidup mau kemana. lalu, gue menghabiskan waktu berjam jam di perpstakaannnnn daerah Ambarawa demi satu tujuan. Minta WIFI gratisan. Saat itu, banyak yang gue lamar di jobstreet, JobDSB, dan banyak lainnya. Hampir semua yang nyerempet2 gue daftar, ada kerja di perusahaan, di bank, beberapa guru, copy writer, reporter. Semuanya. Tapi, karena waktu itu obsesi gue kerja di kota besar, gue pilih daerah jakarta dan Surabaya. Dan akhirnya nasib membawa gue ke sini.
    Apakah gue bahagia. Gue bahagia.....banget. Walau pas pertama gue rasa gue tersesat jadi guru dan tersesat kerja di sini, lama lama gue jadi tahu apa passion gue. Gue jadi terpacu untuk make more money di sini karena pendidikan lebih diprioritaskan oleh mama mama kantoran di kota kota besar. Well, money can't buy happiness, but money can buy Tab, I-Phone, even a car that bring you to the happiness. Wehehehe..yang penting jangan jadi budak uang aja. Dan dari perpindahan gue tiga tahun juga membawa gue ke poin poin bucket list yang satu demi satu terceklis. Ya gitu..emang hidup itu adalah soal pilihan yang dipadu padankan dengan kesempatan yang bisa membawa perubahan bagi hidup kita. So, you. Just know yourself better, work with passion and be happy!! Yeayy!!
    GOOD LUCK, PEK!

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue sih kembali seperti yang Henry Ford bilang mey. Kita tuh harus punya experience dan pendidikan yang baik untuk bisa paham apa sih uang sebenarnya. karena kalau kita ngggak tahu tentang prinsip uang, mana bisa kita bebas merdeka. yang ada kita jadi budak uang seperti yang kamu bilang.

      Hapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*