Sabtu, 30 April 2016

Mencari Jati Diri?




“Setiap orang harusnya belajar jernih atas dirinya sendiri.” Cak Nun

Tempo hari gue bertegur sapa di sosial media dengan seorang perempuan yang skala waktu bertemunya sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Memang aneh kami masih saja bisa menjalin komunikasi dan selalu ada jalan untuk berinteraksi satu sama lain. Kami selalu memulai percakapan dengan hal yang sederhana. Seperti mengomentari update status yang kami buat, bukan di kolom komentar tapi lewat fitur chatting di media sosial berwarna biru.

Waktu itu dia ngasih tahu gue, ada blog competition yang diselengarakan oleh Gramedia untuk memperingati hari Bumi (kalau nggak salah). Yah dia mulai ngechat gue duluan, padahal gue sebenarnya sedang merajuk karena tempo hari chat gue dibiarkan begitu saja olehnya. Tapi apa daya, gue nggak tahan dan akhirnya memutuskan untuk membalas.

“ikut sana pik” chatnya disertai gambar semacam pamphlet kompetisi blog.
“aku pengen ikut kamu ajah” jawab gue ketus.
Kami pun berbalas chat menanyakan kabar dan sebagainya sampai tiba-tiba dia bilang “sekarang tofik jago modus ni keknya”.
SHIT! Gue nggak perlu modus kalau ceweknya elu.. -_-

Gue agak gimana gitu karena disangka modus padahal dia yang ngechat gue duluan. Tapi anehnya tetap gue balas. Dialektika perasaan semacam ini mirip orang yang sedang menjalin kasih. Tapi percayalah dibalik chat yang dia kirim ke gue barusan hanyalah tegur sapa biasa, dan gue tahu ada seorang laki-laki yang dia sayangi dengan tulus.

Gue juga nggak berharap apa-apa – semacam  hopeless. Gue pun membalas chat dia karena nggak ada cewek yang bisa gue ajak chattingan. Sekedar chattingan, apalagi cewek yang bisa diajak ngobrol dan ketawa dan ngetawain kegilaan masing-masing. Duh ini malah curhat..

Inisiatif dia ngasih tahu lomba blog ke gue karena dia tahu kalau gue suka nulis dan suka ngeblog. Mungkin dia juga bagian dari blog gue dengan menjadi silent reader. Dia silent reader yang nyata dan kelihatan tapi nggak bisa dipacarin. Mungkin dia juga korban tulisan gue yang nggak jelas isi dan substansinya. Sempat dia membuat menit-menit dalam hidup gue bahagia dengan sekedar menunggu balasan chat. Padahal gue tahu nantinya chat gue akan dia abaikan lagi.

Tapi kali itu rupanya obrolan kami agak panjang bisa dibilang tebakan gue meleset – sebab musababnya karena ada injury time – tapi gue masih yakin nanti chat itu akan di abaikan lagi. Yang membuat chatting diantara kami berlangsung lama adalah obrolan tentang bagaimana seorang wanita di balik layar monitor nan jauh di sana itu ternyata masih belum tahu akan jati dirinya.

“kerja atau gimana di Jakarta?” tanya gue antusias.
Cari jati diri. Sama cari jodoh.” Jawabnya.
Semoga jodohnya gue…

Gue kira gue doang yang mengalami fase ‘masih’ mencari jati diri. Ternyata gue nggak sendirian. Sejak saat itu juga gue balas chat dia dengan sotoy kalau mencari jati diri itu emang penting. Kalau kita nggak tahu diri kita siapa, gimana mau menjalin hubungan dengan serius. Keseriusan itu, kan, karena adanya kedewasaan, kematangan dalam berpikir dan bertindak juga dalam mengetahui diri sendiri – tahu sebenernya mau apa sih gue ini dan mau ngapain gue hidup di dunia ini.
Bukan hanya sekedar sotoy. Tapi belakangan ini gue tahu apa yang mesti gue perbuat dan mesti ngapain gue kedepan. Berkat bimbingan orang-orang yang sudah menjalani hidup sekian lama dengan berbagai pengalamannya. Gue diarahkan, dikasih tahu dan dikasih wejangan-wejangan. Gue juga dikasih tahu kalau gue ini life path numbernya ‘9’ (sembilan).  Bay the way, orang yang ngasih tahu gue itu punya keahlian membaca arah hidup seseorang berdasarkan nama dan tanggal lahir. Dan angka sembilan dalam ilmu Numerology berarti gue ini orangnya …….. *rahasia.  (Gue nggak mau disebarluaskan disini dikhawatirkan muncul di acara gosip)

Intinya, senggaknya gue tahu gue ini siapa dari metode Numerology tadi walaupun pencarian jati diri  harus tetap dilakukan terus menerus, lebih luas, dan lebih dalam lagi.

Sebenenrya gue juga mau kasih tahu ‘teman lama’ gue itu – apa yang gue tahu tentang dia dengan membaca nama dan tanggal lahirnya – tapi  karena chat gue nggak dia balas apa mau di kata. Dan tebakan gue pun memang kejadian.

Chat itu membeku.

---

Di usia 22 tahun ini ada banyak hal yang membuat gue kurang paham dan gue yakin suatu saat gue akan memahaminya seiring berjalannya waktu. Kayak dulu, gue nggak paham kenapa Tuhan bikin masalah besar terhadap hidup gue, sampai-sampai gue dibuat frustrasi. Mungkin kalau nggak Tuhan membuatnya seperti itu akan sulit sekali untuk gue berfikir dewasa,  memahami masalah dan bisa menyelesaikan masalah.

Gue juga yakin ada banyak orang di usia yang sama di luar sana, kebingungan akan dirinya sendiri. Perlu lah berfikir seperti ini – menanyaakan diri kita ini siapa – karena itu juga yang akan menentukan arah kita kedepan. Kayak gue sekarang setelah lulus kuliah mulai timbul pertanyaan ‘mau ngapain?’ tapi gue udah tahu dan sudah membuat beberapa jalan untuk gue tapaki setelah fase lulus kuliah. Karena pertanyaan itu sudah muncul sebelum gue lulus..

8 komentar:

  1. Baguslah jika memang sudah memantapkan bakal ngapain. Inget ya Fik, barengi sama doa. Kan seberapa hebat manusia berrencana, Allah juga yang meluluskan atau tidak meluluskan rencana tersebut. Bukan begitu? [benerin peci putih, ehem!]

    BalasHapus
  2. Mau ngapain?

    NGapain ya bg? Gue juga udah kejawab bg. Setidaknya akan ada banyakfase selanjutnya yang akan gue lewati. Memang, urusan pertanyaan ngapain setelah kuliah harus bisa jawab.

    Ya, logisnya sederhana. Kuliah udah kelar. Mau ngapain? Kuliah lagi atau nganggur? Paling nggak pertanyaan kek gitu bakalan muncul.

    Apapun itu, semoga semuanya mendapatkan yang terbaik. Amin...

    BalasHapus
  3. Gue juga banyak mikir harus gimana kedepannya.. Tapi ya pada akhirnya jatidiri itu datang sendirinya seiring waktu yg gue lewatin..

    Itu ngarep bgt ke temen lama? Seet dah..

    Iya gue juga gtu -_#

    BalasHapus
  4. Mw dong nama saya sama tanggal lahir saya dibaca
    Supaya pas ngarahinnya
    .
    Keren y bisa baca kyak gitu orangnya
    Pake primbon2 gitu kali y?
    .

    BalasHapus
  5. Oke bang, apapun yang lo lakukan semoga menjadi yang terbaik.

    Fase jati diri hanya kita yang tau dan arahkan kemana kita mau. So berjuanglah,

    BalasHapus
  6. Ya Jati diri. DIri yang kuat sekuat pohon jati.

    salam
    ezypulsa ezy jualan pulsa

    BalasHapus
  7. Waduh....piye iki, aku gak pernah mikir mau ngapain...
    jalanin aja yang ada dulu... ahahahahhahahahkkk...
    ikuti arus yang mengalir...

    BalasHapus
  8. Chat yang biasa, Tapi entah kenapa lu kayak seneng ngebalesinnya ya Pik.. makanya jadi panjang obrolannya..

    Btw.. emang kadang kita ngalamin masalah yang sangat pelik dan kronis. Sampe ngerasa dunia Ini gak adil.. setelah dipikir2 ada banyak hikmah yg bisa diambil.

    Gue jadi penasaran sama pilihan hidup lo Pik.. mau berkarir jadi guru atau karyawan kantoran, atau sesuatu yg lain yg gak kepikiran sama gue~

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*