Langsung ke konten utama

I’m A Hero



Bukan mereka yang berbaring di dalam tanah dengan nisan betuliskan 'pahlawan' atau tokoh dalam komik, televisi, bahkan di layar lebar yang sering kulihat di flyer-flyer mall mewah yang menjadi pahlawan untuk kehidupan yang aku jalani sekarang. Melainkan aku sendiri lah pahlawannya. 

Bahkan dia yang sekarang menginjak kepalaku di dasar lantai tanah, keras, bergelombang berwarna cokelat sekitar halaman rumah reot berukuran gubug sawah yang lumayan mewah, juga bukan siapa-siapa kecuali hanya wanita durhaka, sampah dunia yang ingin segera ku buang karena baunya yang menyengat.



“BANGSAT KAU!” dia muntab dengan mata yang hampir saja keluar seutuhnya. Kakinya masih saja di atas kepalaku seteleh dia memukul dengan tenaga setannya hingga aku tersungkur jatuh di dasar tanah. Sambil mengerang kesakitan. Sakit seluru jiwa dan ragaku, aku hanya bisa melempar janji agar segera selesai penderitaan ini untuk beberapa saat.
“aku hanya bisa membawa ini buk. Nanti malam aku akan kembali ke lampu merah dan mendapatkan lebih banyak uang”

Dia masih menaruh kakinya di atas organ tubuh yang paling berharga bagi manusia, bagiku juga  tapi tidak baginya. Sesekali asap dari mulutnya tak pernah keluar ketika megisap rokok. Kuduga dia menelan seluruhnya. Mungkin itu juga yang membuatnya berprilaku seperti setan.
“kau selalu pintar membuat alasan yang tak pernah kau kerjakan, bajingan kecil”
Aku tak bisa berucap apapun, aku lemas. Belum ku isi perut ini sedari pagi.

----

Tak pernah aku sebahagia ini ketika aku berhasil membuat seorang nenek menyebrang dan memakan nasi yang aku beli untuk sarapan pagiku. Di pojok toko sebelah lampu merah ramai orang berlalu-lalang, nenek itu berteriak dengan lambayan tangannya dan dengan suara seadanya karena tergerus usia. Tak ada yang perduli. Sedemikaian terkikis kah jiwa kemanusiaan manusia di zaman sekarang. Tergambar di pikiranku seorang perempuan yang sering kupanggil ibu yang sering pula menginjak kepalaku. Apa bedanya mereka semua dengannya. Mungkin bedanya mereka semua tidak menginjak kepalaku saja. 


Komentar

  1. Ibunya jahat bangeeet.. ini jangan jangan fenomena pengemis jalanan masa kini.
    Tapi dari ceritanya, he's or she's a truly hero karna bahkan dia belum makan tapi... rela.. beliin nenek nenek di jalanan

    BalasHapus
  2. Fenomena yang masih ada sampe sekarang nih, pik. mempekerjakan anak untuk meminta-minta dengan santai ibunya tunggu dari kejauhan, kadang mengepalkan tangan dan diacungkan tinggi-tinggi jika anaknya bermalas-malasan. Kampret emang ya. semoga nyambung, haha

    BalasHapus
  3. Menjadi pahlawan tidak melulu harus kayak power ranger atau ultraman. Cukup mengembalikan dompet yang terjatuh dari salah satu pengendara motor. Pahlawan juga bukan?

    BalasHapus
  4. Certinya agak misteri, tapi kayaknya ini bener2 menyinggung permasalahan sosial yg dri dulu blm bsa diselesaikan

    BalasHapus
  5. tumben nih bang nulis cerita yang lain dari biasanya tapi saya mengerti maksudnya. Kasian banget anak itu tapi bagaimanapun itu sudah pilihannya, semoga dia tidak menyerah.

    Pahlawan itu yah ada di diri setiap manusia. Tak perlu di promosikan cukup di tingkatkan sendiri tanpa meminta orang lain melihatnya cukuplah untuk mereka menyadarinya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*

Postingan populer dari blog ini

Cerita Akhir Tahun : Keguruan dan Kedokteran

Apa yang membedakan belajar dan berobat? Menurut gue yang mebedakan keduanya cukup mudah yaitu, tujuannya. Sebuah pertanyaan tadi adalah representasi dari keguruan dan kedokteran. Gue punya sedikit cerita tentang keduanya..
Hari selasa kemarin tepatnya tanggal 24 desember 2013 (ahh udah kaya surat ajah lengkap banget) seorang temen sekelas gue namanya Siti Kresna alias Memey, sedang bersama Dimas temen sekelas gue juga cuma dia agak tua, maaf yah mas gue sebut lo tua, umur emang nggak bisa bohong hampir sama kaya iklan mie. Mereka berdua sedang di laintai bawah kampus gue tercinta, mata gue yang sayu, langkah gue yang gontai, dan muka gue yang setengah panik karena kurang tidur dan kebelet pipis, tiba-tiba memey manggil gue dengan nada sedikit serius.
“Pik.. sini deh” “Bentar mey, si joni mau mau buang air” jawab gue sambil megangin resleting, biar pas gue masuk wc langsung curr..
Selesai pipis gue balik ke si Memey dan Dimas, mereka setia nungguin gue di bawah tangga sambil berdiri,…

Alasan-Alasan Cewe Cantik Pacaran Sama Cowo Jelek

Belakangan ini, gue sering banget lihat cowo jelek pacaran sama cewe cantik. Saking seringnya gue sampe masuk angin. -lah? Yang ada di benak gue ketika lihat mereka berdua pacaran adalah “I’M A LOSER”. Iya, gue ngerasa kalo cewe-cewe sekarang udah kena fatamorgana, dan cowo jelek udah berhasil memanfaatkan situas itu.  Di pinggir jalan gue sering banget lihat mereka pacaran, entah disengaja atau nggak. Pas gue lewat mereka bersenda gurau, melempar tawa, membuat hati ini tersayat-sayat. Halah… Maklum jomblo.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin nggak sih cewe cantik itu kena pelet? Kemungkinannya hanya 10 persen. Kenapa? Sekarang tampang bukan ukuran buat di jadiin pacar, termasuk buat para cewe-cewe cantik ini. Karena selain ganteng itu relatif, cewe-cewe sekarang juga sadar “money can change situation”. Uang bisa merubah segalanya, yang jelek-pun kelihatan ganteng, kalo duitnya banyak.

Jenis-Jenis Ketawa Dalam Tulisan

Ketawa itu bermacam-macam jenisnya, dari zaman dinosaurus, manusia purba dan sekarang zaman 4L4y3rs. Ketawa mulai berevolusi, termasuk ketawa dalam tulisan, karena zaman udah cangih sampe akhirnya terciptalah handphone yang nggak cuma bisa ngobrol jarak jauh, tapi juga bisa mengirim pesan singkat atau SMS (Short Message Service.red). 
Sebelum tau lebih dalam jenis-jenis ketawa dalam tulisan, ada baiknya kita mengenal arti kata ‘ketawa’ atau pengertian ketawa. Menurut prof.Toples,.eSDe,.eSeMPe,.eSeMA.Kertawa adalah kata kerja, reaksi dari kejadian lucu yang kita lihat dan kita dengar sehari-hari atau duahari-duahari sehingga  menimbulkan tawa.  Kalo ada yang bertanya ‘tawa’ itu apa?