Jumat, 01 April 2016

Dari Mana Kita Melihat: SIM & Polisi

Hari rabu kemarin (30/03) gue happy banget. SIM yang gue bikin tempo hari akhirnya kepakek juga: bisa gue tunjukin ke Polantas yang sedang mengadakan razia. Kenapa bahagia? Sadar nggak sih, kita tuh bikin SIM mahal – apalagi  yang nembak bisa ngeluarin dua kali lipat dari harga bikinnya - masa cuman nginep di dompet terus. 


Jujur ajah gue bikin SIM ‘lewat jalan belakang’, karena kalau nggak gitu bisa sampai sebulan lebih, baru bisa jadi. Sementara bapak gue punya anggaran untuk gue bikin SIM. Memanfaatkaan moment bapak gue punya duit, akhirnya gue bikin SIM. Gue tahu, itu mungkin ajah salah, karena nggak mengikuti psoses yang benar. Kenapa gue bilang ‘mungkin’ karena bisa jadi tindakan gue ini benar. 



Gue punya alasannya.

Karena ketika gue bikin mahluk bernama SIM ini, yang jadi ‘calo’nya itu adalah anggota Polisi itu sendiri, bukan diluar anggota walaupun ada tukang parkir yang jadi calo tapi gue prefer ke anggota. Masih muda lagi. Ini bukan karena gue doyan Polisi berondong tapi karena menurut kabar yang beredar bahwa jadi polisi itu bisa keluar duit banyak banget, hampir sama kayak biyaya kuliah kedokteran per-semester, tanpa beasiswa.


Rumor itu pun terbukti ketika temen baik gue, hampir beberapa kali ditolak gara-gara kalah dalam urusan ‘administrasi’ (dalam tanda petik). Makanya banyak Polisi muda yang mencoba istilahnya ‘balikin modal’ waktu dia daftar dengan cara jadi calo dan lain-lain. Itu pun menurut gue nggak salah, sah-sah ajah. Karena gue tahu bahwa gaji yang didapat ketika dia jadi polisi (mungkin) masih jauh dari uang yang dia keluarkan waktu daftar dan keterima jadi anggota.

Walaupun ada juga yang keterima jadi Polisi hasil usaha tanpa uang pelicin dan sejenisnya. Tapi gue mau mengajak kita semua membicarakan yang menjadi 'keumuman' yang menurut gue harusnya ada yang bilang kalau “lo tuh nggak jadi Polisi juga nggak apa-apa, nggak mempengaruhi alam semesta bahwa kalau lo nggak jadi Polisi, dunia bakal nggak seimbang dan akan terjadi bencana. Nggak gitu. Banyak kerjaan lain. Blogger juga kerjaan.” Halah... Blogger itu kelihatan bukan pekerjaan karena lo ngeliat gue. Yang doyan ngmong nggak jelas. Tapi cobalah melihat mereka yang berpenghasilan dari ngeblog.

Artinya kerjaan itu banyak. Buanyak buanget. Oke, mungkin lo mau mempertahankan kekonsistenan cita-cita waktu lo kecil. Gue hargai itu. Tapi ayolah dibuka pikirannya, open your mind. Nggak keterima jadi Polisi, kan, bisa jadi yang lain. Kalau jadi Polisi harus keluar duit sampai pada tingkat yang menurut gue nggak rasional, ya, jangan lah, ngapain. Tapi terserah kalau duit lo banyak. Dan gue juga punya keyakinan kalau orang yang berkelimpahan harta itu biasanya punya pemikiran kedepan kayak ‘lebih baik diinvestasikan’ bahkan mereka lebih milih jadi pengusaha ketimbang jadi pegawai pemerintah.

Gue nggak ngelarang orang buat jadi polisi, silahkan ajah. Bebas. Tapi kalau nggak jadi dan nggak keterima atau keterima kalau nyediain duit ratusan juta yang ujung-ujungnya nggak jadi juga karena kalah dalam urusan 'nominal', ya, udahlah. Cari kerjaan lain. Sebenernnya kalau mau ekstrim menurut gue di dunia itu nggak usah ada Polisi juga udah aman, kalau kita bisa jadi penjaga atas diri kita sendiri. Penjaga dari perbuatan nggak baik, perbuatan negatif, perbuatan maling, dan perbuatan biadab lainnya.

Apakah lo nggak denger di Belanda sipir dan petugas penjara lainnya sekarang di PHK dan nganggur karena nggak ada yang dipenjara sehingga pemerintah pun memutuskan untuk mengalih fungsikan penjara. Mungkin penjara itu akan dijadikan tempat pengajian ibu-ibu RT/RW di Indonesia gue juga nggak tahu. Artinya bahwa, dunia ini isinya macem-macem, juga dalam hal pekerjaan.

Sedih gue. Makanya gue nggak ngomong apa-apa ketika bapak gue rada ngeluh ke gue karena nggak bisa nego harga pembuatan SIM ‘cepet’ itu. Minimal seperempatnya. Dalam hati gue sebenarnya pengen banget bilang, kalau gue itu sedang melakukann hal yang baik. Yaitu memberikan uang tambahan untuk Polisi muda yang sedang membutuhkan tambahan dana. Gue lihat waktu dia bolak-balik ngurus persyaratan punya gue, kringetnya banyak banget. Pengen gue usapin tapi banyak orang. Astagfirullah..

Dan mungkin dibalik peluhnya dia juga sedang berfikir ‘kapan balik modal?’, dan kalau dia punya anak-istri mungkin dia mikirin ‘istri bakal ngamuk kalo pulang nggak bawa uang’ gue nggk tega melihat pak Polisi menahan birahinya gara-gara suruh tidur di sofa. Mending kalau sofanya, Sofa Latjubah. Eh apasih..

Itulah alasan kenapa gue seneng banget waktu diberhentiin Polantas. Bukan main senangnya. Nggak sia-sia uang yang gue keluarkan untuk bikin SIM. Akhirnya Polisi bisa melihat SIM dengan foto close-up gue yang berambut ala poni kangen band. Mungkin bagi orang yang udah punya SIM tapi tetap disuruh berhenti pasti ada ajah yang ngerasa kesel ‘kenapa sih gue diberhentiin, kan gue udah punya SIM. KZL dech’, sebelum lo marah, kesel dan gigitin pelek saking keselnya, coba deh lo mikir. Jangan ngerasa bener terus coba kita berfikir sedikit.

Pertama, polisi itu nggak punya detektor canggih yang kalau lo cuman lewat doang bisa ketahuan lo udah punya SIM apa nggak. Kalau ada pun, harganya bisa jadi mahal banget. Emang lo mau beliin? Kalau pun misalnya ada yang dibiarin lewat nggak disuruh berhenti dulu pas ada razia, itu karena kebetulan ajah. Polantas itu sebenrnya nggak punya kemampuan spiritual atau juga psikologis yang bisa melihat pengendara motor mana yang punya dan nggak punya SIM dari jarak sekian meter atau dari bentuk pentilnya. Mereka pakek insting ajah. Insting tilang.

Gimana kalau banyak yang nggak punya SIM, lolos dari razia? Itu karena kebetulan. Mereka yang lolos biasanya tahu jalan tikus, tenang dalam berkendara (nggak gemeteran apalagi sampai ayan) seolah udah punya SIM dan tatapannya seolah meyakinkan Polisi bahwa dia punya lisensi berkendara roda dua, padahal STNK ajah nggak ada.

Kedua. Pernah mikir nggak, kalau selama ini SIM itu cuman kita simpen doang di dalam dompet. Kadang sampai ada yang patah hati, berjamur, dan beranak. Anaknya kartu member Indomaret. Makanya biar kelihatan kepakek banget, karena kita udah bayar (sekian ratus ribu). Tunjukin ajah. Kan, memang itu lah fungsinya SIM. 

Dan karena itu pula gue seneng. Senggaknya selama belum habis masa berlakunya. SIM gue udah dilihat sama Polantas untuk kedua kalinya. It means that the riding license used genially.  Jangan sampai nggak pernah ditunjukin sama Polisi, apalagi foto lo di SIM itu pas lagi bagus-bagusnya, pipinya nggak tembem. Kalau cuman disimpen doang di dompet  ngapain dong bikin SIM? Pajangan doang? Apa lo emang kolektor SIM?

Poin dari omelan gue ini adalah:
  1. Polisi bukan satu-satunya pekerjaan. Jadi kalau nggak keterima atau baru nyampe gerbang pendaftaran ajah udah si usir karena disangka pengedar narkoba, udah ajah. Kalau memungkinkan untuk bayar sekian juta silahkan ajah kalau memang duitnya banyak. Jumlahnya pun menurut gue yang rasional lah. Misal udah masuk ratusan juta lebih baik buka usaha ajah. Atau cari pekerjaan lain. Jadi Blogger juga asik kok. Cuman modal baca buku buat bahan tulisan, beli domain biar keliatan professional dan perbanyak relasi biar sering diajak ngeliput event dalam dan luar kota. Nggak nyampe seratus juta. Sisinya buat umroh sama bikin giveaway.
  2. Bikin SIM nembak itu nggak dilarang. Karena Polisnya sendiri yang jadi calo, kalau dilarang berarti mereka melarang sesama anggotanya untuk makan dan blikin modal. Dan mereka yang jadi calo ini Polisi muda yang sedang berusaha balikin modal. Jadi mari kita bantu mereka. Mereka juga butuh uluran tangan kita. Bikin SIM sana gih.
  3. Baiknya SIM yang kita buat itu dipakek. Caraanya dengan berhenti ketika ada razia. Walaupun polisinya nggak nyuruh berhenti. Berhenti sendiri ajah. Tujukan betapa kerennya foto lo di SIM itu, tapi usahakan bawa helm sama STNK juga. Juga jangan lupa dipakek celananya. Kelihatan tuh.

So, cobalah melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Ketika kita melihat sesuatu dari berbagai arah sifat buruk semacam rasa marah, rasa kesia-siaan, rasa benci terhadap orang lain dan hal-hal negatif lainnya, bisa kita minimalisir bahkan bisa kita hindari sama sekali. Kenapa ada orang yang benci banget sama Polisi? Karena dia melihat dari sudut pandangnya sendiri. Bahkan kadang-kadang dari sudut pandang orang lain dengan kebencian yang sama. Semakin menjadi-jadi lah kebencian tersebut, kuat lah perasaan benci mereka terhadap pak Pol. Yang dirugikan tentu kedua belah pihak. Bisa jadi kita juga kena dampaknya. Karena kadang rasa benci yang orang tunjukan dan katakana bisa bersifat persuasif. Nular.


Oke, itu ajah. Share kalau bermanfaat. Komen kalau punya pandangan yang sama maupun berbeda. Have a nice day!

14 komentar:

  1. wah kalau cara berpikirnya seperti itu, akhirnya praktek akya gini gak bisa hilang dong. Gimana kalau ayng gak punya duit sedangkan dia butuh sim untuk pekerjaan, kan kasihan juga. Namanya petugas itu melayani masarakat dan itu sdh keawjibannya, dia sdh dibayar rakyat. Alasan gaji rendah itu bulsiiit, nyatanya yg sdh gaji besar saja masih beri pelayanan buruk seperti hakim dan jaksa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maakanya mba pagami secara menyeluruh sebuah masalah jangan hannya dari sisi yg itu saja. Apa mba sendiri idah cukup bisa merubah sistem yg udg berlaku.
      .
      .
      Maksud saya sebenarnya kalau memang masuk polisi harus bayar ratusan juta. Praktek polisi jadi calo akan tetap ada. Karena yg daftar polisi banyak banget, masih muda, pengen balikin modal..
      .
      Kalo mba bisa bayarin modal si polisi buat jadi anggota si silahkan ajah. Hehe

      Hapus
  2. Tapi bang saya emng g niat jadi polisi bang
    Cpe bang ngejar2 penjahat bang
    .
    Itu pas kena razia abng lagi bawa motor y bang?
    Keren bang udah punya sim
    Saya juga punya loh sim, 2 malahan
    Sim warna oren sama sim wrna ungu

    BalasHapus
  3. Saya juga bikin SIM waktu itu nembak kang, harganya memang bisa 2 kali lipat dan beneran calonya itu polisi2 juga yang ada di dalam kantor itu, ajipp banget tuhh polisi :D

    BalasHapus
  4. Gua juga nanti kalau buat SIM kayanya ngebantu polisi muda buat balikin modal deh, abisnya kalau lewat jalur normal lama dan bertele-tele.

    Terus kayanya polisi juga udah maklum deh sama yang buat SIM lewat jalur 'belakang'. Soalnya waktu itu ada polisi lagi ngomongin SIM, terus temen gua pada bilang 'Dia tuh pa buat SIM-nya nyogok, tapi yang dilakuin polisi itu cuma senyum-senyum doang hehehe:D

    BalasHapus
  5. Poin nomer 3 yaa... hahahaa.. iya sih. Kalo nggak gitu ya nggak kepake ya? wkwkwk.. ada-ada aja.

    BalasHapus
  6. pik gua belom punya sim...udah gitu aja cukup tau dah..


    pengen bikin tapi udah gk lulus tes 2 kali.. yang ke 3 doain dpt ya, gua gak mau pakai calo men, ntar kayak orang gk tau diri lampu merah masih ditrobos juga


    sering gua teriakin pas ada orang terobos lampu merah "WOI SIM NEBAK BEGO LAMPU MERAH WOI TOLOL NEMBAK MULU" wkakakaa

    BalasHapus
  7. yesss.. berarti sejauh ini SIM gua ada guna. selalu kena razia dan dengan bangga kasih SIM ke polisi. sayangnya STNK selalu ketinggalan~

    iya gua setuju dengan kata lu yg banyak oknum yang melakukan itu karena ingin cepat balik modal, atau bisa juga oknum-oknum tersebut emang sudah di butakan oleh harta. Semoga kedepan tidak banyak ditemukan yg seperti ini, semoga~

    Dan menilai sesuatu itu dari sudut pandang yang berbeda-beda itu sangat tepat. agar bisa benar-benar menimbang mana yg baik dan yg buruk.

    BalasHapus
  8. Gue juga SIM nembak bang. Betul kata lo bang, polisi bukan satu2nya pekerjaan.

    Eh iya. Gue sering juga tuh tetep di berhentiinn. Apa muka gue kurang meyakinkan ya klo udah punya SIM.

    BalasHapus
  9. Bener. Polisi bukan satu satunya pekerjaan. Kerja bukan karena gengsi dan bangga sama jabatan, tapi nikmatnya segala kegiatan yang dijalani. Kayak nge-blog ini. Hihihi.

    Yes lagi. Ngapain juga bikin SIM buat disimpen di dompet doang. Etapi bentuknya kan kartu,cuma kenapa namanya Surat Ijin Mengemudi ya? Bukan Kartu Ijin Mengemudi.

    BalasHapus
  10. Jujur aja gue punya sim tembak, karena tesnya ga bisa lolos terus, tpi dari awal buat sim 3 tahun yang lalu sampe sekarang, belum pernah kena razia atau lainnya,

    BalasHapus
  11. Sudut pandang yg unik dan g kepikiran juga.
    Aku juga bikin sim tembak, gara2 jaman SMA kan naik motor, karena jaraknya yg jauh dan emang di desa tuh kendaraan jarang juga, makanya pake motor pribadi. Dan tiap kali naik motor gitu polisi kayak tau aja kalau anak2 skolahan g punya SIM, jadilah sasaran empuk razia. Akhirnya bikin SIM tembak, dan bener aja, jaman SMA polisi g nanggung2 kalau ngadain razia gitu, tapi aman, soalnya udah pamer SIM, hehehe

    BalasHapus
  12. Gue rasa banyak pihak yang secara tidak langsung 'memaksa' seseorang untuk menjadi polisi. Paling dekat ya keluarga. Gue udah ngerasain kena tilang 2 kali waktu berangkat sekolah dan pulang sekolah, sempat dongkol juga sih, tapi memang gue ngelanggar aturan. Belum punya SIM.

    Karena itu, gue naik motor selalu nyari jalan tikus. Tepat berumur 17 tahun, gue langsung buat SIM. Setelah itu, ya santai aja gitu lewat depan polisi.



    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*