Minggu, 17 April 2016

Bukan Sekedar Haha-Hihi



Mulai menjamurnya kesenian stand-up komedi beberapa tahun yang lalu mengindikasikan bahwa kesenian ini mulai banyak disukai masyarakat Indonesia. Dan menjelang akhir tahun 2015 kemarin adalah tahun dimana para komika mulai muncul ke permukaan industri perfilman Indonesia. Dan tahun ini adalah (mungkin) tahun dimana mereka ‘memanen’ hasil karya di industri film. Sebagai contoh event IBOMA di SCTV kemarin, komika seperti Ernest Prakasa, Babe Chabita, Raditya Dika dan kawan-kawan berhasil membawa piala penghargaan.

Kompetisi stand-up komedi pun sekarang sudah mulai masuk ke dalam ruang lingkup stasiun tipi mainstream, macam Indosiar. Yang kita tahu bahwa tipi ini terkenal dengan sinetron ‘naga’ dan ‘elang terbang’nya yang sering juga menjadi materi para komika. Tapi sepanjang gue melihat kompetisi bernamakan Stand Up Comedy Academy Indosiar disingkat SUCA itu belum ada  komika yang membawakan materi tentang betapa kampretnya Indosiar ketika menyiarkan sinetron-sinetron bertemakan zaman dulu dengan naga dan elang dibumbui dengan efek yang menurut gue agak ‘norak’. Mungkin juga para komika nggak berani mengangkat materi ini.  

Gue cukup senang karena masyarakat Indonesia mulai suka dengan stand-up komedi, mungkin karena OVJ udah nggak ada kali, ya, gue juga nggak tahu. Emak gue yang biasa nonton sinetron Turki juga suka dengan stand up komedi. Mungkin ukuran masyarakat Indonesia menerima atau nggak-nya stand up komedi adalah emak gue. Kalau emak gue suka maka bisa jadi masyarakat Indonesia juga suka. Yah, nggak usah jauh-jauh dan repot-repot untuk survei karena emak gue adalah potret masyarakat pada umumnya yang doyan nonton tipi dengan tayangan sinetron ala India, Turki, dan negara-negara lainnya termasuk negar api, air, tanah dan udara. Emak gue adalah representatif penonton tipi mainstream tapi dia benci Inbox dan Dahsyat.
Gue juga suka stand up dari mulai semester tiga waktu gue kuliah. Komika favorit gue, Adriano Qalbi, Semmy Notaslimboy dan pak Irvan Karta. Gue juga suka kompetisi komedi yang diadakan di Indosiar tapi ketika para komika tampil aja dan kalau komiknya garing gue langsung pindah cenel atau biasanya langsung matiin tipinya. Baru, setelah beberapa menit kemudian gue nyalakan kembali. Gue nggak tega melihat mereka garing dan ngeboom (baca: nggak lucu). Dan gue lebih nggak tega melihat komika berdiri begitu lama setelah perform. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka menunggu komentar dari juri.
Komentar juri menurut gue lumayan lama (ngebosenin dan ngeboselasa), mungkin karena jurinya pun nggak cuman tiga orang kayak di Kompas TV. Walaupun sekarang di Kompas nambah juri satu lagi, tapi komentar dan penilaian juri dilakukan dengan singkat dan padat. Di Indosiar malah sebaliknya: komennya lama. Belum mentornya pun ikutan ngasih komentar, dan kadang (mungkin sering) hostnya suka ngasih tantangan kepada komika. Menurut gue kasian sih, walaupun itu panggung mereka tapi stand up komedi itu jauh berbeda dengan Dangdut Akademi.
Udah gitu mereka harus bikin materi (hampir) setiap hari, karena tayang seminggu bisa dua kali lebih. Gue nggak teganya disitu, kalau nggak lucu atau garing sebenarnya mereka juga nggak salah-salah banget. Gue sendiri untuk menulis blog aja nggak bisa setiap hari, apalagi observasi yang memakan senggaknya waktu 2 atau 3 hari untuk kemudian gue tuangkan kedalam tulisan. Observasi penting buat gue untuk memastikan bener nggak data yang gue masukin ke tulisan (kayak IBOMA di awal). Gue harus cek berita dan tulisan yang bener itu kayak gimana.
Tapi itulah yang terjadi. Gue juga nggak bisa ngapa-ngapain selain memberikan pandangan semacam ini. Dan menurut gue (lagi) stand up komedi itu harusnya nggak cuman haha-hihi doang. Kalau haha-hihi doang gue rasa OVJ udah bikin kita ketawa terbahak-bahak.
Tapi kan OVJ kadang ada becandaan yang nggak pantes gitu.       
Makanya stand up komedi muncul karena udah bosen dengan komedi yang itu-itu aja dan cenderung menyakti fisik. Kita nggak mau sekedar ketawa, walaupun memang itu yang kita cari dari sebuah komedi. Tapi lama-lama, kan, OVJ dan komedi sejenis mungkin mulai kehabisan ide atau bisa jadi di tengah acara berjalan karena kehabisan ide unutk improfi, mereka mikir hal konyol untuk dilakukan di tengah acara berlangsung. Entah gue juga nggak tahu. Gue suka OVJ tapi lama-lama ngebosenin.
Nah, dengan adanya stand up komedi gue harap para komika nggak cuman bikin komedi yang haha-hihi doang. Orang yang memulai stand up komedi di Indonesia pun pernah bilang kalau setiap bit-bit stand up itu adalah keresahan yang mereka alami. Maka mencari materi untuk stand up pun berasal dari keresahan sehari-hari para komika. Tentu gue pikir mereka harus benar-benar sensitif dan aware dengan keadaan yang terjadi. Dan mereka ngerasa ada yang salah dengan keadaan dan kejadian tersebut.
Gue kurang setuju kalau ada juri bilang “jangan ngambil materi yang susah-suah dulu, di lingkungan sekitar ajah dulu. Jangan jauh-jauh”. Menurut gue kalau mereka udah tampil di tipi, apalagi tipi nasional dan dilombakan, artinya mereka udah ekspert dan udah diakui kemampuannya maka dari itu mereka sudah harus memikirkan hal-hal yang diluar dirinya. Nggak melulu ngmongin diri sendiri dan mungkin kisah asmaranya. Kalaupun ada materi yang dikaitkan dengan dirinya, gue rasa harus ada komparasi dengan keadaan orang lain dan dengan keadaan pada umumnya. Actually, kalau gue mendengar bit tentang cinta yang menceritakan kisah cinta komika, udah males denger. Karena udah banyak yang mengangkat hal itu. Masa gue harus denger hal yang sama terus.
Cobalah angat masalah yang lain. Apakah selain masalah cinta bukan masalah yang berarti? Stand up komedi juga menurut gue emang harus banyak mikir, banyak baca, banyak refernsi, mengeluarkan opini dan menganalisis apa yang terjadi di masyarakat. Kok  ribet banget sih? Ya, stand up itu emang beda dari komedi yang lain. Mereka membawa opininya di dalam sebuah bit. Kalau misalnya kurang referensi dan males mikir mungkin ajah akan menghasilkan tawa tapi nggak ada isinya.
Yah, stand up komedi menurut gue harus ada isinya. Apa bedanya dengan komedi lain kalau stand up ini hanya menampilkan tawa semata. Gue bukan komika tapi gue mengamati mereka, karena jujur ajah gue suka dengan kesenian ini bukan cuman suka tapi udah mulai sayang walaupun gue bukan komika. Saking sukanya, gue sampai cari stand up komedian luar negri dan gue menemukan Chris Rock dan Luis CK. Mengamati mereka dan ternyata mereka memang seperti apa yang gue katakana: membawa pesan.
Masyarakat indonesia udah mulai suka stand up. Mungkin beberapa ada yang nggak ngerti bahkan nggak tahu, tapi seperti diibaratkan barang berkualitas dan (bisa jadi) mahal, stand up komedi akan membentuk pasarnya sendiri. Dinikmati masyarkat Indonesia bukan berarti seluruh indonesia harus tahu, dan suka dengan kesenian ini karena suka dan nggak suka itu masalah selera. Dunia hiburan tanah air pun udah mulai akrab dengan para komika yang kesana-kemari main film dan bahkan ada yang main sinetron juga sitkom. Sebuah pemandangan yang luar biasa karena perjuangan mereka nggak gampang dan tentu nggak sia-sia pada akhirnya.
Pesan gue untuk para komika tetap jaga performa, tetap sehat agar bisa menghibur kita semua, jangan jumawa karena sudah menjadi artis ibukota, jangan pula menjadi lupa akan jasa para foundernya. Dan.. jangan cuman mbikin kami haha-hihi semata. 
VIVA LA KOMTUNG!

18 komentar:

  1. Wah setuju nih, menurut gue stand up comedy itu sangat bagus apalagi dengan perkembangan komedi tanah air yang suka membuat celaan fisik sebagai bahan komedi nya. Gue sendiri sih engga ngikutin perkembangan suc dari awal, tapi kalau ditanya siapa komika yang gue suka, gue jawab dodit *karna dia inoncent dan bisa main biola*
    Ada lagi kok suc yang berkualitas, gue pernah liat vidoe suc nya cak lontong, nah itu berkelas.. bukan semata mata mengangkat kisah cinta dan celaan semata. Agree with you soal acara yang di indosiar.

    BalasHapus
  2. Gua juga ga suka sama acara Stand Up Comedy yang ada di Indosiar, terlalu lama, kadang juga lucunya suka maksa. Juri-jurinya juga gitu sih, gua lebih suka SUCI. Pesertanya juga lucuan SUCI sih, dari pada SUCA. Komik yang gua suka juga jebolan SUCI, si Kemal.

    BalasHapus
  3. Saya enggak suka Stand Up Comedy, soalnya lucunya nanggung. Beda pas liat OVJ, ketawanya bisa lama. Hiburan buat saya bukan sekedar 3 menit. Kalo bisa setengah jam atau lebih. Sadarkan, kalau hidup itu banyaknya serius. Masa iya hiburan lucu cuma 3-5 menitan. Enggak ngakak lagi. Hehehe. Pendapat aja sih versinya saya.

    BalasHapus
  4. Dibilang suka juga engga
    Dibilang enga suka juga engga
    Ya itu balik lagi ke selera
    Ya jelaslah komika pas manggung di suca engga bakal nyinggung sinetron naga2an
    Bisa berabe ke depannya bwt mereka
    Yg saya engga suka di suca itu pas kasih komennya
    Kelamaan

    BalasHapus
  5. Sekarang saya suka ngikutin kompetisi di kompas tv. Lucu-lucu. Kalau di SUCA banyak garingnya karena yang kata kamu di atas, Pik, bikin materinya hampir setiap hari. Pegel.

    BalasHapus
  6. Kemarin dibahas sama Ardit SUCI 6, tentang komentator kompetisi dangdut Indosiar yang suka lama banget pas ngasih komentar, dan benar banget ketika nulis materi emang gak butuh sehari-dua-hari gak cuma mancing ketawa dan bawain punchline. Rin SUCI 6 harus close mic gara-gara materinya disebut "sampah" sama Bang Pandji karena gak ada pesannya, dan LOUIS CK itu benar-benar stand-up comedy-an yg banyak quotes-nya hehehe Viva La Komtung!! Keren!!

    BalasHapus
  7. Menurut yang gue amati, di Indosiar itu semuanya settingan. Mulai dari juri yang komentar lama, sampai juri yang ngasih tantangan mendadak. Sebenarnya tantangannya udah di kasih tau sebelumnya. Biasa ini mah. Soalnya tujuan mereka entertain, menghibur. Kan ribet kalu di kasih tantangan, tapi malah komikanya gak siap, terus di bully, di sorakin, akhirnya nangis.

    Sejauh ini yang gue pikir materi nya padat ilmu, baru Sammy sama Pandji.

    Masalah observasi penting. Gue setuju untuk nulis aja gue juga adang butuh observasi. Gak asal nulis

    BalasHapus
  8. stand up comedy di indosiar emang lucu. apalagi jurunya..
    ada aja yang di lucuan yang di omongin. tapi saat ada tantang-tantangan, bener engga tuh? masak di kasih tantangan. langsung bisa, tanpa berlatih. tanda tanya..

    BalasHapus
  9. Mungkin para komika indosiar takut disembur naganya, makanya gak dibahas.

    Kalo masalah materi yg diambil dari ruang lingkup sekitar sih gak masalah, itu juga kalo dia pinter2 milih materi.

    BalasHapus
  10. Mungkin para komika indosiar takut disembur naganya, makanya gak dibahas.

    Kalo masalah materi yg diambil dari ruang lingkup sekitar sih gak masalah, itu juga kalo dia pinter2 milih materi.

    BalasHapus
  11. Menurut gue apa yang loe bilang bener sih. tapi lihat dari sisi mana dlu soalnya. Kalau loe ada dunia tv itu semua udah di seting semua. Dari tema loe tampil/ materi, gimana entar penyesuai waktu tayang, dan masih banyak lagi. Kalau mereka bisa bebas bereksplorasi mereka akan lebih lucu kok. Yah kegitulah dunia. Yang gue tahu sih mereka tidak bisa bebas ngeluari materi mereka karena tuntan TV. Salam

    BalasHapus
  12. Nah maka dari itu, gue menyukai komika yang menyampaikan materi dengan observasi yang dalam. Kita dibawa sedalam-dalam ke materinya. Dengan ini, kita gak hanya sekedar tertawa, tetapi juga belajar, kita dapet ilmu juga dari materinya. Bener banget kata bang topik, komika harus banyak baca, cari referensi supaya materinya memiliki "isi" yang bisa disampaikan ke penonton.

    Kalo cuman, "hahahha", tapi gak ada pesan nya. Sama aja dengan tong kosong. Ketawa mah cuman bentaran, tapi kalo pesan? Mungkin bisa lama kita mengingatnya.

    Makin menjamurnya acara ini, bisa diambil kesimpulan kalo acara ini memang disukai masyarakat indonesia, termasuk gue. Tapi SUCI 6 gak ngikutin gue -_-

    BalasHapus
  13. Bukan penggemar suc sih. Cuman pas kemarin suca nongol di indosiar lumayan ngikutin juga pik. Setuju sama yg kamu jabarkan.

    Tayangnya suca sebenarnya bagus, mengenalkan suc ke masyarakat indonesia, biar masyarakat kita tau kalau ada sebuah hiburan yg mampu menghibur sekaligus mendidik dan berkelas. Cuman dari yg aku perhatiin indosiar salah kaprah dan kebawa juga ke acara2 sejenis kompetisi yg tayang di indosiar. Kebanyakan juri, komentar g penting dan g berisi, host yang kebanyakan, jam tayang yg terbilang tinggi, bikin peserta yang harusnya menghadirkan peforma yg berkualiatas jadi keok. Kebanyakan karena mentok, urusan percintaan, kalau g gitu ngehina diri dia sendiri. Lah kalau kayak gini apa bedanya ama guyonan yg suka ngerendahin fisik orang lain?

    BalasHapus
  14. Saya sepakat. Stand up itu angin baru, saya selalu mikir kalau yang kayak gini ini komedi yang cerdas. Pasalnya apa yang bikin ketawa itu murni verbal, mimik wajah dan gestur yang gak keterlaluan. Gak ribet dengan properti dan aksi berlebihan. Terkesan lebih elegan.

    Dan mamang kadang yang bikin lucu justru dari ide dan gagasan si komika. Lebih bagus lagi kalau mereka mengankat isu-isu di masyarakat. Lumrah, kadang bahkan semacam rahasia publik yang tiap orang pada-pada tau tapi bisa diankat dan jadi lucu. Timbul jadi semacam pesan. :)

    BalasHapus
  15. ada benernya juga yang ditulis diatas. SUC bukan sekedar "hahahihi" belaka. karena menurut gue, SUC adalah seni, dan juga wadah, wadah untuk menyampaikan keresahan, dan opini. Dalam SUC ada yg namanya persona, nah itu yg harus dipunyai semua komika, agar gak sekedar lucu doang, tapi punya ciri khas.

    BalasHapus
  16. Ya mana beranilah mereka bahas si naga terbang Pik wkwkkw bisa dicabut kontraknya ntar :p
    Tapi akhir2 ini banyak komika yg gak kompeten menurutku, masih bagusan komika yg dulu. Bener sih gak hanya modal haha hihi doang, materi dan pesan harus dapat disampaikan ke pemirsa. Semoga mereka yg sudah terkenal itu ga sombong

    BalasHapus
  17. Indonesia menang beberapa tahun ini butuh hiburan alternatif sampe akhirnya stand up comedy muncul dan meledak, boom!
    Semua jadi latah pengen liat stand up.

    Tapi belakangan ini komika muda yang baru muncul kayak gak ada ciri khas loh bang, mereka masih sering mengikuti pendahulunya. Ya mungkin itu inspirasi mereka, tapi mteri yang di sampaikan juga itu2 aja dan terkesan lebih lucu seniornya.. Gue si lebih suka senior2 tentunya... lebih lues dan lucu...

    Klo yang nggak cuma haha hihi doang kayaknya panji deh, dia selalu bawa pesan sesuatu. Kayaknya gitu si.. di vlog nya juga ada opini yang selalu dia bawakan.

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*