Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari April, 2016

Mencari Jati Diri?

“Setiap orang harusnya belajar jernih atas dirinya sendiri.” Cak Nun
Tempo hari gue bertegur sapa di sosial mediadengan seorang perempuan yang skala waktu bertemunya sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Memang aneh kami masih saja bisa menjalin komunikasi dan selalu ada jalan untuk berinteraksi satu sama lain. Kami selalu memulai percakapan dengan hal yang sederhana. Seperti mengomentari update status yang kami buat, bukan di kolom komentar tapi lewat fitur chatting di media sosial berwarna biru.
Waktu itu dia ngasih tahu gue, ada blog competition yang diselengarakan oleh Gramedia untuk memperingati hari Bumi (kalau nggak salah). Yah dia mulai ngechat gue duluan, padahal gue sebenarnya sedang merajuk karena tempo hari chat gue dibiarkan begitu saja olehnya. Tapi apa daya, gue nggak tahan dan akhirnya memutuskan untuk membalas.

5 Alasan Kenapa Bikin Kartu Nama Itu Penting

Melihat perkembangan di era digital seperti sekarang rasanya hampir semua hal-hal yang tadinya ‘berformat konfensional’ – dengan menuliskan atau mencetaknya di kertas – beralih ke format digital. Tapi ada yang menurut gue nggak akan bisa tergantikan ketika semuanya berformat digital (setidaknya untuk lima belas tahun kedepan) yaitu KARTU NAMA.
Yah, kartu nama nggak ada matinya.

Kartu nama menurut gue termasuk salah satu 'senjata' untuk orang-orang yang professional di bidangnya. Kayak misalnya designer, developer, businessmen dan orang kantoran atau pun profesi-profesi lainnya yang akan saling berkomunikasi satu sama lain ketika mereka bekerja. Maka dari itu kartu nama amatlah penting untuk kita miliki.
Mungkin 5 alasan ini akan menjelaskan kenapa kartu nama itu penting.

I’m A Hero

Bukan mereka yang berbaring di dalam tanah dengan nisan betuliskan 'pahlawan' atau tokoh dalam komik, televisi, bahkan di layar lebar yang sering kulihat di flyer-flyer mall mewah yang menjadi pahlawan untuk kehidupan yang aku jalani sekarang. Melainkan aku sendiri lah pahlawannya. 
Bahkan dia yang sekarang menginjak kepalaku di dasar lantai tanah, keras, bergelombang berwarna cokelat sekitar halaman rumah reot berukuran gubug sawah yang lumayan mewah, juga bukan siapa-siapa kecuali hanya wanita durhaka, sampah dunia yang ingin segera ku buang karena baunya yang menyengat.

Bukan Sekedar Haha-Hihi

Mulai menjamurnya kesenian stand-up komedi beberapa tahun yang lalu mengindikasikan bahwa kesenian ini mulai banyak disukai masyarakat Indonesia. Dan menjelang akhir tahun 2015 kemarin adalah tahun dimana para komika mulai muncul ke permukaan industri perfilman Indonesia. Dan tahun ini adalah (mungkin) tahun dimana mereka ‘memanen’ hasil karya di industri film. Sebagai contoh event IBOMA di SCTV kemarin,komika seperti Ernest Prakasa, Babe Chabita, Raditya Dika dan kawan-kawan berhasil membawa piala penghargaan.
Kompetisi stand-up komedi pun sekarang sudah mulai masuk ke dalam ruang lingkup stasiun tipi mainstream, macam Indosiar. Yang kita tahu bahwa tipi ini terkenal dengan sinetron ‘naga’ dan ‘elang terbang’nya yang sering juga menjadi materi para komika. Tapi sepanjang gue melihat kompetisi bernamakan Stand Up Comedy Academy Indosiar disingkat SUCA itu belum adakomika yang membawakan materi tentang betapa kampretnya Indosiar ketika menyiarkan sinetron-sinetron bertemakan zaman dulu …

Menemukan Duniaku

Pernah nggak kalian ngerasain ketika melakukan sesuatu sampai lupa waktu? Mungkin ada yang jawab ‘pernah! melakukan sesuatu bareng pacar’. Holly shit! Maksud gue bukan itu. When you do something that you want to do and you enjoy of it. Ngelakuin hal yang asik gitu, kayak misalnya main layangan dari pagi sampai siang dan lo nggak perduli dengan apa yang orang katakan. Yang ngatain lo nggak ada kerjaan lah, kayak anak kecil lah dan lain-lain. Tapi lo nggak perduli, sama sekali. Seperti yang gue bilang tadi. Lo enjoy. Walaupun badan jadi item.

Mungkin dimulai dari gue kali yah. Gue sendiri tentu pernah dan bahkan sampai sekarang suka asik sendiri. Contohnya ketika gue beradadi depan laptop. Gue seneng banget kalau udah berhadapan dengan laptop. Mungkin karena laptop adalah barang canggih yang  gue punya selama ini. Oleh karena itu gue nggak mau menyia-nyiakan kecanggihan laptop ini. I’ll do everything. Apa ajah gue kerjain: mulai dari nulis, edit gambar, bikin vektor, nonton film, downloa…

Thank for Lovely Visitor

Selama gue ngeblog, dari akhir 2012 sampai sekarang, ketika tulisan gue yang jelek banget sampai agak mendingan dan dari pakek blogspot sampai pakek domain berbayar (pamer), rasa-rasanya ada banyak banget orang – yang mungkin gue nggak tahu mereka secara pribadi – yang  mengunjungi blog gue. Angka visitor di side bar sudah menunjukan kalau blog ini cukup lama dan gue juga aktif dalam menjalankan aktifitas ngeblog. Yah, angka ratusan itu mencerminkan bahwa blog gue banyak yang mengunjungi. Nggak apa-apa lah cuman ngunjungi doang, toh banyak juga yang baca dan meninggalkan komentar.

Sejak pertama ngeblog gue selalu berharap tulisan gue ada yang baca, terlepas tulisan gue jelek atau pun bagus. Karena gimana gue bisa tahu jeleknya kalau cuman gue doang yang baca. Karena menurut ego gue sendiri, ya, tulisan yang gue buat udah bagus. Tapi kenyataannya kan kadang nggak seperti itu. Mungkin ketika ada yang baca tulisan gue kemudian dia ngata-ngatain tulisan gue jelek, ya, gue bersukur. Kemung…

Dari Mana Kita Melihat: SIM & Polisi

Hari rabu kemarin (30/03) gue happy banget. SIM yang gue bikin tempo hari akhirnya kepakek juga: bisa gue tunjukin ke Polantas yang sedang mengadakan razia. Kenapa bahagia? Sadar nggak sih, kita tuh bikin SIM mahal – apalagi  yang nembak bisa ngeluarin dua kali lipat dari harga bikinnya - masa cuman nginep di dompet terus. 
Jujur ajah gue bikin SIM ‘lewat jalan belakang’, karena kalau nggak gitu bisa sampai sebulan lebih, baru bisa jadi. Sementara bapak gue punya anggaran untuk gue bikin SIM. Memanfaatkaan moment bapak gue punya duit, akhirnya gue bikin SIM. Gue tahu, itu mungkin ajah salah, karena nggak mengikuti psoses yang benar. Kenapa gue bilang ‘mungkin’ karena bisa jadi tindakan gue ini benar.

Gue punya alasannya.
Karena ketika gue bikin mahluk bernama SIM ini, yang jadi ‘calo’nya itu adalah anggota Polisi itu sendiri, bukan diluar anggota walaupun ada tukang parkir yang jadi calo tapi gue prefer ke anggota. Masih muda lagi. Ini bukan karena gue doyan Polisi berondong tapi karena …
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...