Minggu, 27 Maret 2016

Ternyata, Gitu-Gitu Aja


Aroma fajar perlahan sudah menyebar ke seluruh penjuru tempat. Termasuk di sekitar Stadion Bima Kota Cirebon. Untuk lebih dekat melihat sekaligus mencium aromanya yang kasat mata, gue langsung mencuci muka dan memakai sepatu. Jogging sepertinya enak batin gue. Di belakang kantor tempat biasa gue menetap ada semacam lintasan jogging, dulunya bekas trek-terkean anak motor – sekarang sudah rapih semenjak tempo hari Gubernur datang mengunjungi komplek Stadion Bima. 


 

Pepohonan tinggi nan kokoh juga lebat dedaunananya berjajar rapih sepanjang jogging track. Mungkin mereka bahagia semenjak anak muda yang suka trek-trekan itu berhenti. Maka, kemudian efeknya tumbuhan di sekitar menjadi lebih subur dari sebelumnya. Meskipun belum ada penelitian ilmiah akan pengaruh suara bising kenalpot terhadap kesuburan tanaman tapi gue mencoba meyakinkan diri sendiri kalau asumsi gue ini benar adanya. Karena kalau dipikir-pikir manusia saja ketika mendengar yang bising-bising sangat amat terganggu kecuali yang bikin kebisingannya itu sendiri. Ini apalagi pohon. Toh sama-sama mahluk ciptaan Tuhan.


Karena pepohonan itu merupakan mahluk ciptaan Tuhan, gue pun mencoba mengormatinya untuk tidak membuat kegaduhan dengan membuat suara bising dari sepatu yang gue pakai, ketika gue berlari. Itulah alasan kenapa gue berjalan pelan. Tidak membuat suara, kecuali ketika meludah. Soalnya kalau gue ngeludah suaranya mirip Danny Worsnop sedang melantunkan tembang Final Episode. Banyak orang yang mungkin nggak tahu kalau jogging itu sebenarnya nggak melulu lari-lari, jalan pun merupakan bagain dari jogging. Waktu konfrensi jogging sedunia, gue hadir untuk menyampaikan pendapat ini, tapi kurangajar-nya nggak ditulis sama notulen jadi nggak dimasukin ke materi perjogingan.

Setengah jam lebih, gue jalan-jalan dan sesekali lari, lalu kemudian jalan lagi. Dan setelah jalan gue pikir jogging ini harus segera selesai. Cape. Matahari sudah muncul. Sinar terangnya membikin orang yang jogging di area jogging track itu mengangkat tangannya untuk sekedar menutupi bagian mata. mungkin silau, atau bisa jadi dia malu sama matahari karena dia belum mandi.

Sehabis jogging, gue istirahat sebentar untuk membiarkan keringat yang keluar terserap baik oleh baju. Setelahnya, gue pun mandi. Siraman air ketika terkena bagian ketek sungguh adem nyes. Proses membersihkan badan dari keringat yang menempel berlangsung dengan khidmat. Baju sudah disiapkan. Baju putih, dasi, jas hitam, celana hitam dan sepatu pantofel hitam siap gue kenakan. Sebelum gue pakek baju-baju formal itu gue oles dulu roll on anti bau ketek. Yah, daripada nanti menimbulkan aroma yang kurang sedap, membuat lingkungan tercemar. Lebih baik, gue menghindari berurusan dengan WALHI karena perihal mencemari lingkungan dengan ketek yang semerbak baunya.

“mau kamana pik?” mas Dadi menanyakan hal yang sudah dia tahu sebelumnya. Seperti biasa, jika ada dari kami bertiga (mas Dadi, mas Reza dan gue) masih pagi udah rapih banget pasti ditanya ‘mau kemana?’ karena di pagi hari kami bertiga biasanya, ya, masih koloran.
“mau ngamen mas…” jawab gue bête.
“hahahaha” dia tertawa puas, mas Reza yang duduk di sofa hanya senyum-senyum sambil mainan hape.
Sialan, dia ketawa puas. Masih pagi gue udah beramal dengan membuat orang tertawa akan pakaian rapih yang gue kenakan.

Rambut, gue sisir dengan mantap. Sampai klimis dan shiny banget. Mungkin ketika pancaran sinar matahari kena rambut gue, sinarnya akan memantul. Dan rambut gue pun bisa jadi penyebab global warming. Kalau udah gitu jangan salahin gue, salahin yang bikin minyak rambut. Bukannya gue lari dari masalah atau berkesan nggak mau disalahin, tapi karena adanya minyak rambut, ya, gue pakek. Ada minyak rambut maka gue pakek, kalau nggak ada, nggak bakal gue pakek. Sederhana. Begitu juga ketika roll on penangkal bau ketek itu nggak ada. Gue bisa apa kalau ketek gue bau.

Lama-lama gue berdebat dengan diri sendiri. karena produk-produk yang gue pakek – dari obat ketek sampai minyak rambut – semuanya adalah kebutuhan. Dan sialnya yang bikin produk tersebut berhasil membuat gue jadi ketergantungan. Hidup ini memang serba ketergantungan. Kayak cowok yang bergantung sama cewek. Begitu juga sebaliknya. Sama halnya dengan kuliah, apalagi pas semester akhir kita akan bergantung pada dosen pembimbing. Gue mengalami dari bergantung pada cewek sampai bergantung pada dospem. Dan hari itu tanggal 19 Maret 2016, ketergantungan gue pada dospem berakhir. Yah, akhirnya gue sidang.

--

Skripsi kelamaan mangkrak. Bukan karena gue males tapi karena ada masalah dengan mata kuliah, sampai gue harus ngambil mata kuliah ‘lagi’. Gue ngurusin mata kuliah – ditengah teman-teman gue yang sedang berjuang buat sidang dan akhirnya bisa sampai wisuda – itu nggak mudah. Sering gue tersenyum kecut ketika melihat teman seangkatan wisuda duluan. Tapi proses harus tetap gue jalani, gue nggak mau lulus dengan nada-nada kontrofersi. Gue mau lulus dengan nggak ada kabar miring antara gue dengn nilai atau dengan dosen pembimbing sekalipun. Entah itu kisah cinta antara gue dengan dospem – karena keseringan ketemu makanya timbul benih-benih cinta (untungnya nggak terjadi) – atau juga tabiat jelek gue yang menempel di benak dospem dan akhirnya menyebar kesuluruh penjuru kampus. Gue nggak mau seperti itu.

“siapin materi sama slidenya ya pik” kata dospem pertama.
“selamat sidang yah, pik” kata dospem kedua.
“semangat yah pik aku sayang kamu” kata Raisa. Dalam bunga tidur gue yang sangat indah.

Padahal gue berharap waktu itu Raisa bikin lagu atau minimal nyanyi Indonesia Raya buat nyemangatin gue. Tapi apa daya alarm di hape sudah berbunyi. Sialan.

Bisa sidang adalah sebuah perjuangan yang panjang dan melelahkan, bahkan temen gue Prio bilang ‘bisa sidang itu kayak mimpi, pik’. Nggak nyangka gue bisa menyelesaikan tahap demi tahap tugas akhir ini, yang mana banyak mahasiswa beranggapan hal tersebut adalah sebuah penderitaan. Gue bisa mengerti tapi ternyata nggak seburuk itu. Padahal skrispi ini mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya betapa berartinya tulisan ‘ACC’ dari bolpoint warna hitam merek standard dari tangan dospem satu dan dua. Kalian yang masih mahasiswa muda. You will see. Kalian akan merasakannya. Tunggu ajah.

--

Di hari pembekalan ketua jurusan menyarankan kami untuk mengawali sidang dengn do’a, lalu kemudian sarapan, kalau yang punya pacar pamitan sama pacarnya. Nah, khusus buat gue, pamitannya sama pohon-pohon yang tadi pagi gue lewati waktu jogging. Biarlah alam yang mendo’akan gue setelah tentu saja orang tua, batin gue pagi itu sambil stalking foto-foto. Foto mamalia. Setelah do’a, ketua jurusan nyaranin buat sarapan. Rasa-rasanya belakangan after sarapan gue jadi sering mules, pengen boker. Untuk menghindari situasi pengen boker ditengah sidang, gue sarapan yang ringan-ringan ajah: buah sama susu.

Di gigitan pertama apel merah yang gue beli dari minimarket deket kantor, gue merasa rambut gue mulai menguning. Gigitan kedua dan selanjutanya rambut gue makin kuning dan kulit gue jadi putih banget. Dan ketika gue akhiri dengan meminum susu tiba-tiba badan gue jadi tinggi.  Sarapan apel dan susu ini (setidaknya) bikin gue jadi kayak bule. Ruarbyasah..

Setelah sarapan ala bule tadi, waktu menunjukan kalau gue harus segera berangkat. Do’a mengiring ketika gue pamit sama mas Reza dan mas Dadi. Sungguh perasaan yang megah pagi itu, dua hari sebelum sidang gue juga minta do’a sama emak gue. Makin megah lah perasaan senang ini ketika gue mendapatkan penguji dosen-dosen yang baik, dan terkenal nggak banyak nanya. Walaupun dosen penguji yang ketiga adalah seorang yang sangat dihormati di Universitas. Gue tetap optimis bisa melalui sidang dengan paripurna. Kenapa? Karena menurut desas-desus kabar yang gue denger (untuk penguji ketiga), beliau itu karena jabatannya sebagai Rektor makanya jadi agak sibuk. Sidang pun mungkin akan berlangsung sebentar.

Ruangannya pun berbeda. Dipisah antara dosen penguji lainnya. Dua di perpus, dan beliau di ruang ketua jurusan. Majelis sidang kami yang berjumlah enam orang  mungkin agak ribet harus bolak-balik ke ruangan yang berbeda. Agak nyusain sih, tapi tak apa lah, daripada kami batal berbahagia dengan kelulusan yang sudah kami  nanti-nantikan.
“topik..”
Suara dosen penguji dari ruangan perpus.
“pik, kamu yang pertama” kata temen gue menegaskan kembali.

Dengan diawali membaca bismilah kemudian dilanjut membaca Yasin dan kemudian Ayat kursi.. halah kelamaan. Gue bersegera masuk ke ruangan dan menyiapkan tetek-bengek sidang. Gue mulai presentasi, awalnya pakek bahasa inggris biar agak kerenan dikit. Nah, baru, pas tanya jawab, dimix dengan bahasa Indonesia. Gue emang orangnya nasionalis, nggak mau melulu pakek bahasa inggris.

Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan oleh masing-masing dosen penguji dengan semau mereka, dan gue bersyukur mereka nggak nanyain yang aneh-aneh. Seperti menanyakan kapan nikah misalanya. Gue lulus ajah belum nanyain nikah, lagian masalah yang paling serius adalah belum ada dana dan calonnya! Cukup lama gue di dalam ruangan, dan yang paling penting gue bisa menjawab pertanyaan penguji dengan baik dan (agak) benar. Sampai pada penguji satu dan penguji dua saling menatap dan kemudian, mereka bilang..

“ok, pik. It’s enough

Sayup-sayup suara dospen satu menghempas, memantul ke setiap pojok ruangan dan akhirnya masuk kedalam telinga. Mengiang-ngiang di telinga gue, di reply berkali-kali tanpa bosan.  Kalimat itu, lebih berharga dari quote-quote bapak Mario Teguh yang kini acaranya pindah ke MNC.

oke, mom. Thanks for your nice attention” kata gue mengucapkan terimakasih dalam bahasa Cirebon.
“sambil berdiri dong..” perintah dospen satu.
Segera, gue berdiri, jas dan dasi gue rapihin, sebelum gue mengatakan terimakasih, air mata rupanya nggak mau berkompromi, dia keluar saat itu juga. Gue terharu. “oke, mom. Thanks for your nice attention, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”. Gue cium tangan mereka dan gue pun lekas keluar. Dospen dua terperanga sambil senyum-senyum melihat gue keluar air mata, mungkin dia terkesima melihat gue matanya berair.

“kenapa lu pik?” tanya temen-temen semajelis. Temen semajelis gue heran gue kok matanya berkaca-kaca.
“ini dospen satu nanya-nanya sambil nyolok mata kiri gue pakek polpoint. Eh dospen dua juga ikut-ikutan nyolok mata kanan gue pakek spidol permanen! Gara-gara GUE NGGAK BISA JAWAB, padahal gue belum jawab!”
“gilak! galak banget sampe nyolok-nyolok mata! Takut gue!” mereka mulai ketakutan.
Rasain..

Setelah itu gue masuk ke ruangan berikutnya, dimana ada sosok orang nomer satu di Universitas. Tapi gue jadi biasa ajah menghadapi beliau, bukan gue meremehkan karena beliau nggak jago-jago amat dalam berkomunikasi dalam bahasa inggris, tapi karena ketegangan gue udah keluar semua di perpus. Desas-desus yang gue denger pun benar adanya: bapak Rektor selalu sibuk. 

Gue cuman disidang lima menit!!

“judulnya apa ini? Coba baca”
Gue bacain..
“coba baca abstract bagian terkahir ini”
Gue bacain, lagi..
“benar, skripsi ini hasil kamu sendiri?”
“benar pak!”
“oke, bapak buru-buru nih. Ada tamu. Sudah.”
Gue melongo..
“sudah sana keluar..”
“i-iya, pak”

Beliau ngusir gue. Oke, fine.

--

Setelah semua peserta sidang selesai mempresentasikan hasil penelitiannya, empat jam kemudian kami semua berkumpul. Pengumuman dan nasehat dari ketua jurusan kami dengarkan lalu kemudian amplop mulai dibagikan. Satu persatu dari kami menerima ampolp itu. Kami diminta membukanya secara bersamaan setelah menerima aba-aba dari ketua jurusan. Ini mirip-mirip lomba makan kelereng, nunggu aba-aba.

“oke, sila buka amplopnya..”

Semuanya membuka amplop ditangan, termasuk gue. Sungguh hasil yang nggak begitu bagus-bagus banget. Tapi gue bersyukur akhirnya gue LULUS juga. Yeah!





Gue kira sidang bakal semenyeramkan yang ada di benak gue, kayak misalnya ketemu gebetan jalan sama pacarnya (pengalaman).  Ternyata gitu-gitu ajah. Gue pernah menemukan quote dalam bahasa Inggris isinya kurang lebih seperti ini.. “bisa jadi apa yang Anda bayangkan tidak seperti apa yang Anda bayangkan”. Anxiety comes from our mind, it means that created from ourselves.

31 komentar:

  1. Yeyyyyyyy selamat atas kelulusannya mas topik :) Kehidupan didepan menanti mu, jodoh juga meminta kepastian..

    Aku suka bagian yang pas keluar air matanya, berasa dengan air mata semua pengorbanan selesai. Colok mata kanan-kirinya juga keren buat boongin temen-temen, pasti puas kan ngerjain orang yang lagi degdegan? parahhh.. Pertanyaan dari dosen yang super sibuk itu juga menyenangkan, kalau aku jadi mas topik mah dapet pertanyaan kaya gitu udah bersyukur, berasa nemu pangeran dari kayangan, bahagia banget.

    Embitan, aku gagal paham sama quotenya nih.. Intinya, ekspetasi beda sama realita. gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih nadia..
      Amin..

      Iya jadi kayak apa yg kita bayangkan bakal serem ini-itu ternyata ga seserem itu. Apalagi kalau kita peersiapannya udah mateng bgt.

      Yg ada cuman ketakutan yg kita buat2 sendiri yg bikin kita jadi ketekutan diawal.

      Hapus
  2. Kok bisa ya gitu aja. Soalnya kata temen saya menyeramkan. Sebab bakalditanya yang aneh-aneh dan detail. Walah selamat ya Fik, Lulus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg pasti ditanya sesuai konteks. Isi skripsi dan ttg penelitiannya..

      Makasih bang adin adila

      Hapus
  3. Pas buka amplopnya ada duitnya engga pik? Kalo ada mah enak pik
    Udah sidang dapet duit lagi
    Selamat ya pik udah sidang
    Mana nih acara makan2nya pik?

    BalasHapus
  4. Selamat atas kelulusannya bang topik, ditunggu nih foto foto pas graduationnya :3

    Itu foto yang bertiga, yang sebelah kanan lagi nyubit atau nonjok? :p

    BalasHapus
  5. Selamat bang topik buat persidangannya dan juga kelulusannya hehe. semoga ilmunya bermanfaat selaluuuu. eh wisuda april dong, bareng dong, cuman beda di tempat aja. yes! :D

    BalasHapus
  6. Bang itu namanya Rasia apa Raisa? Atau si Rasia itu kembarannya Raisa?

    Wah ini lulus sidang berkat doa dari para pohon nih, mulia banget nggak mau lari-lari deket pohon gara-gara takut pohonnya entar keganggu. Kalo jalan 5 kilo isinya pohon semua ya bakal jalan kaki 5 kilo dong (?)

    Enaknya ujian dipanggil pertama bisa nakut-nakutin temen, bisa ngelihat ekspresi ketakutan mereka.
    Aku ucapkan selamat ya bang, ciyee yang dapat gelar. Semoga sukses selalu dan ilmu yang didapat selama kuliah bisa bermanfaat untuk banyak orang.

    BalasHapus
  7. Cieee sidang, Cie lulus... hehe..
    Ngomong2 udah berapa semester lo lewatkan di kampus bang??

    Ya. Gue juga udah pernah ngalamin bang pas sidang. Gue kira juga menyeramkan, taunya emang gitu2 aja.
    Tapi perkataan ini baru boleh kita ucapkan setelah sidang. Klo belum sidang pasti kualat.. wkwkwk

    BalasHapus
  8. Selamat, Pik udh lulus....
    Tapi yang paling kocak itu pas lu disidang sama dosen cuma 5 menit itu, kalo pertanyaannya begitu mah 20 detik doang udah kelar. Sesibuk apa sih itu orang.. hehehe... Udah gitu yang ditanya judul doang trus diusir, yah nasip lu deh.

    Tulisan ini juga bisa penyemangat buat yang mau sidang, ternyata nggak semenyeramkan yang mereka kira, seperti kata lu ternyata gitu-gitu aja.. hahaha

    BalasHapus
  9. Kemaren udah baca, bg. Pengen komentar, gue besoknya sidang. Mungkin inilah waktu yg tepat.

    AKhirnya perjuangan dari dulu zaman gue nanya2 Skripsi dan bahas sibuk skripsi. Selesai juga dengan baik ya bg. Sebagai sesama pejuang, gue merasa seneng bisa ngerasain juga namanya Sidang.

    Paling setuju sama Quote yg terakhir. Gue udah membayangkan ini itu. Dan yang terjadi gak seperti yg gue bayangkan.

    Semoga segera dapet jodoh ya bg. Kan kerja udah..

    BalasHapus
  10. ini salah satu fakta kalo ekspetasi ngak selamanya sesuai dengan kenyataannya. mungkin dari awal udah kerasa bakal mudah melewatinya. biasanya ajah kalo malem sebelum sidang itu ada yang susah tidur lah, kefikiranlah, ngegalau lah tapi bang topik beda dai yang lain *yeeeee* dari bangun ajah udah ada raisa dimimpinya. makin keliatan santai ketika paginya bang topik malah dibuat jogging. dan muncul fakta baru kalo di sidang oleh orang penting di kampus itu ngak bakal lama karena orangnya sibuk.

    boleh tau perjuangan berapa tahun yaa bang itu :D semoga bisa ngikutin jejak bang topik deh buat lulusannya dan gue stubu banget sama quote terakhirnya.

    btw nanti ke wisuda sama siapa bang, pacar kan gak punya *uuppps* :D

    BalasHapus
  11. Keren bang, bisa lulus dengan jumawa. Gue juga sering dengar katanya kalo sidang itu ngeri? Emang sengeri apa sih?

    Liat headernya, jadi gatel pengen nyolok-nyolok. Bdw, selamat lulus yah bang~

    BalasHapus
  12. Kirain mau ada acara apaan yaa pagi-pagi udah rapi gitu, eh ternyata mau sidang hehe.

    Ternyata gitu yaa sensasinya ngikut sidang. Tapi hebat nih bang, bisa presentasi make bahasa inggris dengan lancar pas sidang. Sidang sama rektor juga cuman 5 menitan aja haha.

    Aku senyum-senyum sendiri pas Bang Topik keluar air mata itu aja sih, kok bisa-bisanya yaa, terlalu terharu mungkin yaa. Tapi btw selamat yaa Bang, semoga setelah ini dapet kerjaan yang cocok.

    BalasHapus
  13. Di amplop tertulis. Selamaat anda lulus dengan biasa2 aja. Haha kalo gitu beneran ya gpp sih mw lulus biasa aja, lulus salto dll mnurutku lulus ya lulus aja. Syukur

    Oiya, pak rektor, mungkin dia sibuk karna buru2 joging di sekitar pohon2 yg kokoh kali

    Sekali lagi selamat bang :)

    BalasHapus
  14. selamat atas kelulusannya oppa topik, selamat meninggalkan dunia kuliah, selamat datang di dunia yg sesungguhnya, ini bakal lebih kejam tanpa kecupan raisa.

    oppa topik kamu emejing banget bisa presentasi pake bahasa inggrais, dingin banget (baca very cool). ajarin dong oppa biar lancar juga ngomong inggrais nya.

    oppa topik ganteng binggo pake jas, udah kayak kapten yoo shi jin ae.. jadi tambah saranghae aja

    BalasHapus
  15. gue nggak kenal sama dany worsnop. dia sapa, fik?
    itu elu jogging sendiri gitu? nggak sama temen gitu? gebetan mungkin?
    yah, pantesan aja diem. kalo lari bareng gebetan mah, ya bakalan ribut'' juga, fik... fik.... jomblo sih.
    njir, gue rusuh banget yak.

    selamat utk selesai sidangnya!!
    gue pribadi ga tau juga sih gmna rasanya, karena disini setau gue emang nggak ada yg kayak gituan. ga ada skripsi ga aada sidang. tapi, wisuda ada. ena kan? hehehe
    itu beneran ngomong dicampur inggris gtu, fik? asoy banget lah.

    nah, sekarang udah selesai sidang. rencana selanjutnya gmna, fik?
    nikah kapan, nikah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Danny itu vokalisnya Asking yg dulu zi grup band hardcore

      Hapus
    2. Gue mau nikah kalo ada calonnya ji

      Hapus
  16. emang tuh, apa yang kita bayangkan ngak bakalan seperti apa yang kita bayangkan..
    pas mau masuk ujian deg-degannya berasa kayak jantung mau copot..
    eh, pas udah kelar "gitu aja"..
    hahaha
    coba kalo dibilang ngak lulus, pasti jadinya "kok gitu sih"..
    saya juga ngerasain hal yang sama.. hehehe

    selamat ya buat kelulusannya.. :)

    BalasHapus
  17. emang yah, ternyata gitu gitu aja. malah lebih gerogi ketemu mantan yang udah bahagia sama pacar barunya daripada berhadapan dengan dosen penguji.

    sukses bero!

    sorry g hadir waktu sidang.

    ternyata jiwa sensitif topik keluar. aer mata sampe ngalir gitu. *pukpuk*

    BalasHapus
  18. asik, seperti yang lainnya gue akan berkomentar selamat ya brotha
    pake amplop? kayak pengunguman kelulusan un gitu yak? disidang 5 menit? jadi, maksud lo... susah2 bikin skripsi berbulan2 cuma buat disidang 5 menit? oh men..
    oke, apa yang kit abayangkan memang mungkin tak seperti yang kita bayangkan. kembali ke hukum ekspektasi vs realita. bisa lebih baik, atau sebelumnya..

    BalasHapus
  19. Cieeeee akhirnya lulus juga! Selamat ya Kapik! Kapan nikah atuh?=))

    What? Sidang "cuma gitu-gitu aja?" harusnya kamu bersyukur Kak, mungkin itu tanda sayang dari Allah kalo sidangmu gak dipersulit. Soalnya kan ada yang sidangnya dipersulit, nggak bisa jawab, disuruh keluar cari jawaban, atau bahkan gak lulus dan harus ngulang sidang.

    Tapi quote yang terakhir memang ada benernya. Aku juga sebelum sidang ngerasain deg-degan sampe jantung mau copot. Tapi sidangnya alhamdulillah lancar banget hihi

    Once again, congratulation! Yeayyy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kamu siap wi aku juga siap.. Hahaha

      Hapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*