Langsung ke konten utama

First Time Hiking #2: Penuh Filosofi



  [Sebelumnya disini]

Setelah berdoa dengan hikmat. Dengan pula keluar asap dingin dari mulut kami berenam ketika kami mengucuap amin. Kami berangkat..


Banyak sampah berserakan di sekitar tenda kami. Padahal semalam gue dan bang Deni udah ngerapihin sampah, tapi apa daya babi hutan bikin semua jadi berantakan. Kami kumpulkan kembali sampah di tempat kami bikin tenda. Peraturan yang paling ketat di Ciremai adalah nggak boleh ninggalin sampah yang kita bawa dari bawah maupun saat kita mendaki. Jadi sampah itu dibawa lagi ke bawah. 

Gilak men, bawa sampah dari atas ke bawah. Lo udah kayak mobil dinas kebersihan kabupaten turun gunung. Cuman gue berfikir, mungkin sampah yang kita bawa nanti adalah cerminan dosa-dosa atau kesalah-kesalahan yang selama ini kita perbuat di dunia. Coba deh bayangin, kita sekarang masih hidup pasti pernah bikin dosa atau pun kesalahan yang disengaja maupun tidak, dan itu semua akan dibawa ke akhirat nanti *benerin sarung*. Sama kayak sampah di gunung Ciremai ini. Ketika lo nyampah, sampahnya HARUS lo bawa lagi ke bawah.  

Filosofis banget gue.

Sampah, kami tinggal dulu di bawah. Biar nanti pas kami nyampe puncak dan turun ngelewatin tempat bikin tenda tadi, kami akan ambil sampahnya. Kami pun cukup yakin untuk ninggalin sampah di bawah soalnya nggak mungkin ada yang berani ngambil. Sampah siapa yang mau? pikir gue dalam hati. Kalau kami ninggalin BH Aura Kasih, mungkin banyak yang rebutan.

---

Langkah demi langkah, kami sampai di pos lima, karena tenda kami nggak jauh dari pos lima. Dan kurang ajarnya di pos lima masih ada yang kosong. Tahu gitu kami bikin tenda di sini ajah, biar rame dan banyak temen juga. Pos lima kami lewati, dari kejauhan rupanya ada yang udah duluan muncak, kelihatan dari head-lamp yang para pendaki pakai yang memancar dari kejauhan, dan tentu dengan teriakan yang ngeselin.

“WHOIII, GUE UDAH NYAMPE ATAS BENTAR LAGI NYAMPE!!”

Bodo amat! Gue masih di bawah. Kampret.

Di jalan kami bertemu pendaki lain, ada anak-anak SMP atau mungkin SMA yang mukanya kayak anak kuliahan karena kedinginan. Mereka banyakan berhentinya ketimbang naik. Sama kayak tim kami. Hehe..

Baru lima belas menit kami berjalan si Indra mulai kecapean. Wajar ajah dia capek, dari pulang kerja langsung naik gunung. Mungkin kalau itu gue, udah ambruk. Dan beberapa kali dia berhenti untuk mengambil napas. Sampai akhirnya Indra mulai pusing. Gue nyaranin dia berhenti beberapa menit, gue pun menyuruh yang lain duluan ajah. Bang Deni, Fajar dan Ugis pergi duluan. Agi dan gue nunggu Indra tenaganya pulih.

“masih kuat lo Ndra?”
“ma-ma-masih…”

---

Setelah lama kami istirahat, gue saranin Indra nggak bawa tas carrier. Tasnya gue yang bawa, gue jadi bawa tas dua. Lumayan itu ngurangin beban dia. Alhamdulilah tenaga gue masih banyak untuk sampai puncak dengan dua tas. Kami jalan dengan pelan. Sengaja, untuk sampai ke puncak nggak harus lari, karena nggak mungkin juga lari di puncak dengan tenga yang udah empot-empotan. Setiap lima menit sekali kami berhenti, Indra mulai membaik. Dan semakin membaik ketika dia boker lagi. beneran. Dia boker lagi. Di tengah menuju puncak. Kampret banget. Waktu mungkin udah nunjukin pukul 5 pagi, tapi kami masih sedikit jauh dari puncak.

Setengah jam kami bertiga berjalan. Jalan terjal dan pohon-pohon yang mulai mengecil menandakan puncak akan segera kami lihat. Did you know, the sun began turned it up. And it was so beautiful! Warna jingganya mulai kelihatan, dan kami semakin mempercepat langkah.

“KEREN” kata gue “ayo buruan”
“bentar gue cape nih” timpal Indra.
“iya kasian si Indra” Agi mencoba belain Indra, padahal dia sendiri juga sebenernya capek. Kalian lelaki lemah. Hahaha.. gue ketawa dalam hati.
“yaudah kita santai ajah, nggak papa nggak lihat sunrise asal nyampe puncak dengan selamat senotsa. Bila perlu ngesot-ngesot deh kita sampai puncak” gue mencoba bijak diatara dua lelaki lemah itu.
“oke” kedua lelaki lemah kompak, setuju. Lagi-lagi gue ketawa dalam hati.

Kami nggak bisa lihat sunrise tapi masih bisa lihat pancaranya yang sungguh keren dan indah banget. Gue semakin kagum sama Allah.  Setelah melhat pelangi yang melengkung indah, di atas awan yang bergerumul. Gunung-gunung di sekitar kelihatan semua. yang nggak kelihatan mantan-mantan gue doang.

Di tempat datar kami bertiga istirahat, duduk-duduk menikmati awan yang berada di bawah tanah yang kami injak. Embun-embun menempel pada dedaunan, dari situ ada burung – entah apa nama burung tersebut – dia meminumnya. Melihat burung itu minum dengan segarnya, gue jadi ikutan haus. Menikmati mentari pagi yang menerpa wajah dan tas kami yang basah karena embun, sesekali kami berbagi air minum yang tinggal satu botol.

“sebelum naik lagi, kita foto dulu yuk. Viewnya bagus!”
“boleh-boleh!”
Kami pun narsis walaupun ketinggalan sunrise.







 


Sempet ada orang pacaran di belakang kami. Yang gue heran kenapa di tempat setinggi ini masih ada ajah orang pacaran. Kurang ajar banget. Nggak menghargai orang yang naik gunung karena pengen lupain mantan, atau mereka yang diselingkuhin pacar. Eh sampai sini ada pemandangan yang nyolok mata sama hati. Perih..

---

Puncak udah di depan mata. Bang Deni dan kawan-kawan yang duluan, akhirnya kesusul juga. Lebih tepatnya mereka nungguin kita bertiga. Mereka melambai-lambai. Indra pun membalas lambaiyan tangan mereka di atas dan dia bilang “whooi potion gue dong!”.. dengan niat menolong orang yang lemah Fajar pun fotoin Indra dan dia bergaya bak model. Padahal di bawah dia ngos-ngosan dan udah boker lagi, mungkin sisa ampasnya masih menempel diantaraa selah-selah celana dalamnya. Udah jangan dibayangin.


Lima belas menit. Kami berenam nyampe puncak. Dan Indra segera sujud. mungkin kalau ada mushola dia bakal sholat juga. Sayangnya wc ajah nggak ada. Jadi sujud ajah. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan dan mengagumkan. Ciremai berhasil kami daki. Gue menemukan pelajaran lagi, banyak malah. Mungkin di bawah ini beberapa ajah:



Banyak dari kita (mungkin gue juga), kadang suka sombong. Menyombongkan apa yang kita punya. Padahal itu nggak ada apa-apanya.  Hal itu benar-benar gue sadari ketika gue sampai puncak gunung. Semuanya kelihatan kecil. Yang pantas sombong itu cuman Tuhan. Bukan manusia. Pokoknya kalau udah sampai puncak gunung lo bakal sadar dan bilang “gue nggak berhak untuk menyombongkan diri”.


Gue juga sadar kesuksesan akan kita capai dengan usaha, tenaga, uang yang nggak sedikit. Kayak usaha untuk sampai puncak gunung Ciremai ini, kami melaluinya dengan rasa lelah, haus, lapar dan kadang pengen boker. Kayak si Indra. Nggak mudah, seperti yang dibayangkan. Nggak ada sukes yang instan men. Semuanya harus cape dulu. 


Setelah menyimpulkan pendakian, dan mendapatkan pelajaran. Nggak mau kehilangan momen langka kami pun foto-foto. Hampir empat jam kami di puncak melihat awan yang menerpa kami sambil ngobrol-ngobrol, melihat kawah gunung Ciremai, melihat pendaki lain foto-foto dan nggak ketinggalan melihat orang pacaran. Rasanya pengen banget gue jorokin mereka berdua ke kawah, tapi gue nggak mau ngerusak momen bahagia yang mereka susah payah ciptakan. Semoga sampai bawah mereka putus. Amin…


 
ini bukan tukang pijit

Ini dia tukang boker

“kita turun yuk, udah mulai panass nih. Kata Agi dan kang Deni.”
“yuk..”  

Banyak hal yang gue dapatkan. Tentang pertemanan, tentang kehidupan dan lain-lain. Salah satu yang paling nempel di benak gue adalah naik gunung itu mengajarkaan kita untuk terus berusaha mencapai puncak walaupun dengan cara merangkak.
  


Semoga kita berenam dipertemukan kembali dan bisa naik sama-sama lagi, dengan gunung yang sama ataupun gunung yang berbeda. Dan semoga video yang Fajar ambil di puncak bisa cepet selesai di edit.  

Love you all guys!


Komentar

  1. itu bukan gw loh bang yang pacaran di atas gunung, suer beneran
    .
    oh itu toh tukang bokernya
    sebungkus bokernya berapaan bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye nggak mugnkin lo, lo pan jomblo -_-

      Hapus
  2. Ngakak tuh si Indra boker mulu. Masa naik puncak efeknya boker~

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena sikonnya dingin mungkin dia mules rip

      Hapus
  3. Gila.. baca artikelnya sama banget efeknya pas baca novel 5cm. Duh kapan bisa muncak

    BalasHapus
  4. Cieee akhirnya bias naik gunung euy Kapik. Serunya naik gunung gitu ya, sama yang gak kenal pun bisa jadi akrab gara-gara seperjuangan. Huhu aku pengin naik gunung masih juga belum kesampean. Baca postingan kamu jadi makin ngenvy kaaan...

    Dih, itu beneran ada babi hutan Kak? Ngeri banget lah mana kalian cuma bertiga doang di situ. Nggak ada temen karena (((katanya))) pos 5 penuh. Terus caranya biar nggak diseruduk gimana Kak? Biar dia pergi dan nggak macem-macem gitu.

    Filosopi terakhir kena, ya. Puncak harus diraih meskipun harus sampe merangkak-rangkak.*langsung revisi naskah*

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang belum naik pelaminan ajah wi, cariin akau cewek buat diajak naik hahaha

      Hapus
  5. mantep pik ciremai, gue paling jauh pulosari pandeglang haha

    jarang-jarang loh ada temen yang mau minjemin sepatunya kayak gitu pik, solanya gue ngalamin, minjem sepatu dan gak dipinjemin, banyak alesan gitu.

    setuju tuh pik, makin tinggi kita melangkah, pasti makin tunduk wajah kita dihadapan pencipta. kalau buat si indra, makin tinggi kaki berpijak, makin gabisa dia nahan boker hahaha

    BalasHapus
  6. oh iya, baru nyadar. ternyata si indra itu emang abis kerja yak. hmm....
    tapi abis kerja emangnya jdi mendadak doyan boker gtu yak? gue belom pernah dger. baru tau juga.

    baca ginian jd semangat buat naek gunung, sambil bawa pacar. wah, songong banget gue. pdahal katanya ga boleh sombong kan yak. sayang bnget, ga dapet fto sunrisenya, fik. pdahal penasaran jga pengen liat, klo dari gunung itu, dpet viewnya kayak apa.
    oh iya, itu pas turun pulang, ga pake nginep'' gtu kan ya brrti, fik?

    BalasHapus
  7. Bantu jawab mas fauzi : Mas harus liat sendiri view nya, belom pernah berdiri diatas awan atau liat negeri diatas awan kan? that's awesome :D
    Kalo turun nya cuma 5 jam mas ga pake camp lagi

    BalasHapus
  8. Gokil tuh bajunya "Tuhan bersama petualang sejati" :))
    Baca soal yang bawa sampah, jadi inget gue dulu pas kuliah praktek ke hutan. Malah kita ke sana gak bawa sampah, turunnya bawain sampah orang-orang. Hahaha. \:D?

    BalasHapus
  9. Ya ampun so sweet banget bawaain sampah turun.

    Gue ngebayangin naik gunung bawa tas karir tuh rasanya gimana? Gue aja naik gunung cuman bawa badan doang udah keok, sampe puncak mata gue digigit serangga lagi, ya nasib..

    BalasHapus
  10. berapa mdpl itu bang ?? keren-keren banget fotonya. Dan itu wajib tuh, bawa sampah ke bawah.

    Jangan meninggalkan sesuatu, kecuali jejak.
    jangan mengambil sesuatu, kecuali gambar.
    jangan membunuh sesuatu, kecuali waktu.

    tiap naik gunung pasti inget itu terus. Keren ! Save Green !

    BalasHapus
  11. Indah uyyy..hehe

    bener2 filosofinya keluar banget dah. Alam memang harus kita jaga. Klo bukan kita sapa lagi, klo bukan sekarang kapa lagi? Pas lo udah tua terus lo inget sampah lo gitu, and lo naik gunug dengan keadaan menyedihkan? gak mungkin kan... hehe

    Terus jaga bumi indonesia!!

    BalasHapus
  12. Okeeeeeeeeeh. Gue iri, Bang.

    Karena gue belum pernah mendaki sama sekali. Ada sih rencana maret ini mau mendaki. Doakan semoga nggak gagal lagi rencana gue kali ini.

    Qoute terakhirnya sedap, Bang. naik gunung itu mengajarkaan kita untuk terus berusaha mencapai puncak walaupun dengan cara merangkak.

    Mungkin, quote itu bakalan gue pake kalau rencana gue di bulan maret nanti nggak gagal lagi.

    BalasHapus
  13. Ihh asik banget ya naik gunung bersama temanteman terus sampe atas bisa selfa selfi sesuka hati. Cba lo juga selfie sama yg lagi pacaran kan makin nendang naik gunung lo, Pik...tapi di atas sana pasti dingin banget ya Pik, sampe lubang idung merekah tak terelakkan begitu Pik...kapan ya kira kira gue bsa naik gunung lagi...

    BalasHapus
  14. Wkwk kaos nya Indra, Tuhan bersama petualang sejati. Nanti bikin kaos tulisan nya Petualang sejati tidak boker saat mendaki :D

    Pelajaran saat nyampe di puncak mengena bgt. Kita memang terkadang merasa sombong. Tapi kalau sudah sampai puncak kita merasa sangat kecil...

    BalasHapus
  15. Makanya kalo nggak pingin bawa sampah ya jangan ninggalin sampah dong bang, kalo makan sama bungkusnya sekalian biar gak jadi sampah.

    Bang Topik kayanya sensitif banget kalo ada orang pacaran, bawannya pingin ngejorokin aja. Coba kalo ada aku, pasti aku bantuin ngejorokin tuh orang ke kawah gunung.

    BalasHapus
  16. enjoy abis yak bro.. mungkin ini masalah serius ya tentang kebersihan. masa iya sampai kayak dinas kebersihan, parah abis itu berarti -__- sepertinya agak ternodai aktivitas hiking dengan sampah disekitar tenda..

    BalasHapus
  17. wwiihh keren bang topik yang udah jadi cowok beneran ini gara-gara udah naik ke gunung. tapi gak tau kenapa bang topik ini semangat sekali, ketika yang lain sudah mulai lelah tapi bang topi masih semangat atau mungkin dia nemuin barang dari aura kasih tadi :D tapi salut deh buat bang topik.

    quotenya bener banget, kalo orang sombong2 itu diajakin naim gunung mungkin dia bakal sadar kalo semua itu bukan miliknya dan hanya titipan yang maha kuasa.

    lain kali ajakin gue yaak bang... eeh nasib orang pacaran tadi gmana ?

    BalasHapus

Poskan Komentar

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...

Pos populer dari blog ini

Orang-Orang yang Nggak Disukai di BBM

Alasan-Alasan Cewe Cantik Pacaran Sama Cowo Jelek

Belakangan ini, gue sering banget lihat cowo jelek pacaran sama cewe cantik. Saking seringnya gue sampe masuk angin. -lah? Yang ada di benak gue ketika lihat mereka berdua pacaran adalah “I’M A LOSER”. Iya, gue ngerasa kalo cewe-cewe sekarang udah kena fatamorgana, dan cowo jelek udah berhasil memanfaatkan situas itu.  Di pinggir jalan gue sering banget lihat mereka pacaran, entah disengaja atau nggak. Pas gue lewat mereka bersenda gurau, melempar tawa, membuat hati ini tersayat-sayat. Halah… Maklum jomblo.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin nggak sih cewe cantik itu kena pelet? Kemungkinannya hanya 10 persen. Kenapa? Sekarang tampang bukan ukuran buat di jadiin pacar, termasuk buat para cewe-cewe cantik ini. Karena selain ganteng itu relatif, cewe-cewe sekarang juga sadar “money can change situation”. Uang bisa merubah segalanya, yang jelek-pun kelihatan ganteng, kalo duitnya banyak.

Cerita Akhir Tahun : Keguruan dan Kedokteran

Apa yang membedakan belajar dan berobat? Menurut gue yang mebedakan keduanya cukup mudah yaitu, tujuannya. Sebuah pertanyaan tadi adalah representasi dari keguruan dan kedokteran. Gue punya sedikit cerita tentang keduanya..
Hari selasa kemarin tepatnya tanggal 24 desember 2013 (ahh udah kaya surat ajah lengkap banget) seorang temen sekelas gue namanya Siti Kresna alias Memey, sedang bersama Dimas temen sekelas gue juga cuma dia agak tua, maaf yah mas gue sebut lo tua, umur emang nggak bisa bohong hampir sama kaya iklan mie. Mereka berdua sedang di laintai bawah kampus gue tercinta, mata gue yang sayu, langkah gue yang gontai, dan muka gue yang setengah panik karena kurang tidur dan kebelet pipis, tiba-tiba memey manggil gue dengan nada sedikit serius.
“Pik.. sini deh” “Bentar mey, si joni mau mau buang air” jawab gue sambil megangin resleting, biar pas gue masuk wc langsung curr..
Selesai pipis gue balik ke si Memey dan Dimas, mereka setia nungguin gue di bawah tangga sambil berdiri,…

Jenis-Jenis Ketawa Dalam Tulisan

Ketawa itu bermacam-macam jenisnya, dari zaman dinosaurus, manusia purba dan sekarang zaman 4L4y3rs. Ketawa mulai berevolusi, termasuk ketawa dalam tulisan, karena zaman udah cangih sampe akhirnya terciptalah handphone yang nggak cuma bisa ngobrol jarak jauh, tapi juga bisa mengirim pesan singkat atau SMS (Short Message Service.red). 
Sebelum tau lebih dalam jenis-jenis ketawa dalam tulisan, ada baiknya kita mengenal arti kata ‘ketawa’ atau pengertian ketawa. Menurut prof.Toples,.eSDe,.eSeMPe,.eSeMA.Kertawa adalah kata kerja, reaksi dari kejadian lucu yang kita lihat dan kita dengar sehari-hari atau duahari-duahari sehingga  menimbulkan tawa.  Kalo ada yang bertanya ‘tawa’ itu apa?

Kompilasi Foto Manyun

Dalam mengekspresikan emosi ada kalanya kita nggak perlu marah-marah nggak jelas, ke orang yang kenal atau nggak kita kenal sama sekali. Iya, ngapain kita marah-marah sama orang yang kita nggak kenal. Entar dikatain stres. Lebih baik kita ekspresikan emosi kita ke dalam sebuah foto. Kalau misalnya kita lagi Bete, kita bisa pake ekspresi manyun.

Manyun adalah ekspresi dimana orang biasanya lagi dalam keadaan nggak enak hati, Bete, dan sejenisnya tapi sekarang manyun juga bisa dikatagorikan sebagai ekspresi seseorang yang sedang berpose dalam kilatan kamera. Dan menurut penelusuran gue, gue menemukan sesuatu yang sangat eksotis, epic dan membahana. Ternyata manyun juga dilakukan bukan hanya oleh seseorang yang sedang dalam proses menuju dewasa (baca: alay), tapi oleh selebriti dan masyarakat biasa, bahkan orang tua.

5 Alasan Kenapa Cowok Suka Sama Raisa

Raisa Adriana. Siapa sih yang nggak kenal sama cewek bersuara jazzy ini. Cewek asal Jakarta ini menjadi idola para kaum adam yang jomblo maupun yang udah punya pasangan. Gue sendiri suka sama Raisa. Bohong banget kalau cowok ditanya “suka nggak lo sama Raisa?” terus jawabnya “nggak”. Kecuali kalau cowoknya agak ngondek. Cyin..
Gue suka Raisa karena… apa yah bingung gue. Ya, suka ajah gitu. Kadang kalau gue suka sama seseorang suka nggak punya alasan. Aduh apasih. Malah curhat. Bukan cuman gue tapi banyak cowok di Indonesia raya ini yang suka sama Raisa. Lalu apa sih alasannya mereka suka sama Raisa.

Cara Nolak Ajakan, Secara Halus

“Pik dugem yuk” ajak Joni. “Aduh.. gimana yah” “Udah ayok, jangan kebanyakan mikir nanti botak kayak Marijo Tegang, lo” “Ta… tapi Jon” topik terlihat ragu. “Kenapa? Udah ayok temen-temen yang lain udah pada gatel pengen joget Pik, ayok ahh” “Yaudah deh iya”
Kita terkadang bingung ketikaberhadapan dengan seseorang yang kita kenal bahkan sangat akrab, waktu dia ngajak, tapi kitanya nggak mau. Bingung karena nggak tau cara nolaknya. Kadang saking bingungnya diajak ngelakuin hal-hal yang negatif-pun, mau ajah. Padahal udah tau kalau itu nggak baik, tapi tetep mau, kalau udah kayak gitu, mutlak kita sendiri yang salah.