Senin, 08 Februari 2016

First Time Hiking #2: Penuh Filosofi



  [Sebelumnya disini]

Setelah berdoa dengan hikmat. Dengan pula keluar asap dingin dari mulut kami berenam ketika kami mengucuap amin. Kami berangkat..


Banyak sampah berserakan di sekitar tenda kami. Padahal semalam gue dan bang Deni udah ngerapihin sampah, tapi apa daya babi hutan bikin semua jadi berantakan. Kami kumpulkan kembali sampah di tempat kami bikin tenda. Peraturan yang paling ketat di Ciremai adalah nggak boleh ninggalin sampah yang kita bawa dari bawah maupun saat kita mendaki. Jadi sampah itu dibawa lagi ke bawah. 

Gilak men, bawa sampah dari atas ke bawah. Lo udah kayak mobil dinas kebersihan kabupaten turun gunung. Cuman gue berfikir, mungkin sampah yang kita bawa nanti adalah cerminan dosa-dosa atau kesalah-kesalahan yang selama ini kita perbuat di dunia. Coba deh bayangin, kita sekarang masih hidup pasti pernah bikin dosa atau pun kesalahan yang disengaja maupun tidak, dan itu semua akan dibawa ke akhirat nanti *benerin sarung*. Sama kayak sampah di gunung Ciremai ini. Ketika lo nyampah, sampahnya HARUS lo bawa lagi ke bawah.  

Filosofis banget gue.

Sampah, kami tinggal dulu di bawah. Biar nanti pas kami nyampe puncak dan turun ngelewatin tempat bikin tenda tadi, kami akan ambil sampahnya. Kami pun cukup yakin untuk ninggalin sampah di bawah soalnya nggak mungkin ada yang berani ngambil. Sampah siapa yang mau? pikir gue dalam hati. Kalau kami ninggalin BH Aura Kasih, mungkin banyak yang rebutan.

---

Langkah demi langkah, kami sampai di pos lima, karena tenda kami nggak jauh dari pos lima. Dan kurang ajarnya di pos lima masih ada yang kosong. Tahu gitu kami bikin tenda di sini ajah, biar rame dan banyak temen juga. Pos lima kami lewati, dari kejauhan rupanya ada yang udah duluan muncak, kelihatan dari head-lamp yang para pendaki pakai yang memancar dari kejauhan, dan tentu dengan teriakan yang ngeselin.

“WHOIII, GUE UDAH NYAMPE ATAS BENTAR LAGI NYAMPE!!”

Bodo amat! Gue masih di bawah. Kampret.

Di jalan kami bertemu pendaki lain, ada anak-anak SMP atau mungkin SMA yang mukanya kayak anak kuliahan karena kedinginan. Mereka banyakan berhentinya ketimbang naik. Sama kayak tim kami. Hehe..

Baru lima belas menit kami berjalan si Indra mulai kecapean. Wajar ajah dia capek, dari pulang kerja langsung naik gunung. Mungkin kalau itu gue, udah ambruk. Dan beberapa kali dia berhenti untuk mengambil napas. Sampai akhirnya Indra mulai pusing. Gue nyaranin dia berhenti beberapa menit, gue pun menyuruh yang lain duluan ajah. Bang Deni, Fajar dan Ugis pergi duluan. Agi dan gue nunggu Indra tenaganya pulih.

“masih kuat lo Ndra?”
“ma-ma-masih…”

---

Setelah lama kami istirahat, gue saranin Indra nggak bawa tas carrier. Tasnya gue yang bawa, gue jadi bawa tas dua. Lumayan itu ngurangin beban dia. Alhamdulilah tenaga gue masih banyak untuk sampai puncak dengan dua tas. Kami jalan dengan pelan. Sengaja, untuk sampai ke puncak nggak harus lari, karena nggak mungkin juga lari di puncak dengan tenga yang udah empot-empotan. Setiap lima menit sekali kami berhenti, Indra mulai membaik. Dan semakin membaik ketika dia boker lagi. beneran. Dia boker lagi. Di tengah menuju puncak. Kampret banget. Waktu mungkin udah nunjukin pukul 5 pagi, tapi kami masih sedikit jauh dari puncak.

Setengah jam kami bertiga berjalan. Jalan terjal dan pohon-pohon yang mulai mengecil menandakan puncak akan segera kami lihat. Did you know, the sun began turned it up. And it was so beautiful! Warna jingganya mulai kelihatan, dan kami semakin mempercepat langkah.

“KEREN” kata gue “ayo buruan”
“bentar gue cape nih” timpal Indra.
“iya kasian si Indra” Agi mencoba belain Indra, padahal dia sendiri juga sebenernya capek. Kalian lelaki lemah. Hahaha.. gue ketawa dalam hati.
“yaudah kita santai ajah, nggak papa nggak lihat sunrise asal nyampe puncak dengan selamat senotsa. Bila perlu ngesot-ngesot deh kita sampai puncak” gue mencoba bijak diatara dua lelaki lemah itu.
“oke” kedua lelaki lemah kompak, setuju. Lagi-lagi gue ketawa dalam hati.

Kami nggak bisa lihat sunrise tapi masih bisa lihat pancaranya yang sungguh keren dan indah banget. Gue semakin kagum sama Allah.  Setelah melhat pelangi yang melengkung indah, di atas awan yang bergerumul. Gunung-gunung di sekitar kelihatan semua. yang nggak kelihatan mantan-mantan gue doang.

Di tempat datar kami bertiga istirahat, duduk-duduk menikmati awan yang berada di bawah tanah yang kami injak. Embun-embun menempel pada dedaunan, dari situ ada burung – entah apa nama burung tersebut – dia meminumnya. Melihat burung itu minum dengan segarnya, gue jadi ikutan haus. Menikmati mentari pagi yang menerpa wajah dan tas kami yang basah karena embun, sesekali kami berbagi air minum yang tinggal satu botol.

“sebelum naik lagi, kita foto dulu yuk. Viewnya bagus!”
“boleh-boleh!”
Kami pun narsis walaupun ketinggalan sunrise.







 


Sempet ada orang pacaran di belakang kami. Yang gue heran kenapa di tempat setinggi ini masih ada ajah orang pacaran. Kurang ajar banget. Nggak menghargai orang yang naik gunung karena pengen lupain mantan, atau mereka yang diselingkuhin pacar. Eh sampai sini ada pemandangan yang nyolok mata sama hati. Perih..

---

Puncak udah di depan mata. Bang Deni dan kawan-kawan yang duluan, akhirnya kesusul juga. Lebih tepatnya mereka nungguin kita bertiga. Mereka melambai-lambai. Indra pun membalas lambaiyan tangan mereka di atas dan dia bilang “whooi potion gue dong!”.. dengan niat menolong orang yang lemah Fajar pun fotoin Indra dan dia bergaya bak model. Padahal di bawah dia ngos-ngosan dan udah boker lagi, mungkin sisa ampasnya masih menempel diantaraa selah-selah celana dalamnya. Udah jangan dibayangin.


Lima belas menit. Kami berenam nyampe puncak. Dan Indra segera sujud. mungkin kalau ada mushola dia bakal sholat juga. Sayangnya wc ajah nggak ada. Jadi sujud ajah. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan dan mengagumkan. Ciremai berhasil kami daki. Gue menemukan pelajaran lagi, banyak malah. Mungkin di bawah ini beberapa ajah:



Banyak dari kita (mungkin gue juga), kadang suka sombong. Menyombongkan apa yang kita punya. Padahal itu nggak ada apa-apanya.  Hal itu benar-benar gue sadari ketika gue sampai puncak gunung. Semuanya kelihatan kecil. Yang pantas sombong itu cuman Tuhan. Bukan manusia. Pokoknya kalau udah sampai puncak gunung lo bakal sadar dan bilang “gue nggak berhak untuk menyombongkan diri”.


Gue juga sadar kesuksesan akan kita capai dengan usaha, tenaga, uang yang nggak sedikit. Kayak usaha untuk sampai puncak gunung Ciremai ini, kami melaluinya dengan rasa lelah, haus, lapar dan kadang pengen boker. Kayak si Indra. Nggak mudah, seperti yang dibayangkan. Nggak ada sukes yang instan men. Semuanya harus cape dulu. 


Setelah menyimpulkan pendakian, dan mendapatkan pelajaran. Nggak mau kehilangan momen langka kami pun foto-foto. Hampir empat jam kami di puncak melihat awan yang menerpa kami sambil ngobrol-ngobrol, melihat kawah gunung Ciremai, melihat pendaki lain foto-foto dan nggak ketinggalan melihat orang pacaran. Rasanya pengen banget gue jorokin mereka berdua ke kawah, tapi gue nggak mau ngerusak momen bahagia yang mereka susah payah ciptakan. Semoga sampai bawah mereka putus. Amin…


 
ini bukan tukang pijit

Ini dia tukang boker

“kita turun yuk, udah mulai panass nih. Kata Agi dan kang Deni.”
“yuk..”  

Banyak hal yang gue dapatkan. Tentang pertemanan, tentang kehidupan dan lain-lain. Salah satu yang paling nempel di benak gue adalah naik gunung itu mengajarkaan kita untuk terus berusaha mencapai puncak walaupun dengan cara merangkak.
  


Semoga kita berenam dipertemukan kembali dan bisa naik sama-sama lagi, dengan gunung yang sama ataupun gunung yang berbeda. Dan semoga video yang Fajar ambil di puncak bisa cepet selesai di edit.  

Love you all guys!


23 komentar:

  1. itu bukan gw loh bang yang pacaran di atas gunung, suer beneran
    .
    oh itu toh tukang bokernya
    sebungkus bokernya berapaan bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye nggak mugnkin lo, lo pan jomblo -_-

      Hapus
  2. Ngakak tuh si Indra boker mulu. Masa naik puncak efeknya boker~

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena sikonnya dingin mungkin dia mules rip

      Hapus
  3. Gila.. baca artikelnya sama banget efeknya pas baca novel 5cm. Duh kapan bisa muncak

    BalasHapus
  4. Cieee akhirnya bias naik gunung euy Kapik. Serunya naik gunung gitu ya, sama yang gak kenal pun bisa jadi akrab gara-gara seperjuangan. Huhu aku pengin naik gunung masih juga belum kesampean. Baca postingan kamu jadi makin ngenvy kaaan...

    Dih, itu beneran ada babi hutan Kak? Ngeri banget lah mana kalian cuma bertiga doang di situ. Nggak ada temen karena (((katanya))) pos 5 penuh. Terus caranya biar nggak diseruduk gimana Kak? Biar dia pergi dan nggak macem-macem gitu.

    Filosopi terakhir kena, ya. Puncak harus diraih meskipun harus sampe merangkak-rangkak.*langsung revisi naskah*

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang belum naik pelaminan ajah wi, cariin akau cewek buat diajak naik hahaha

      Hapus
  5. mantep pik ciremai, gue paling jauh pulosari pandeglang haha

    jarang-jarang loh ada temen yang mau minjemin sepatunya kayak gitu pik, solanya gue ngalamin, minjem sepatu dan gak dipinjemin, banyak alesan gitu.

    setuju tuh pik, makin tinggi kita melangkah, pasti makin tunduk wajah kita dihadapan pencipta. kalau buat si indra, makin tinggi kaki berpijak, makin gabisa dia nahan boker hahaha

    BalasHapus
  6. oh iya, baru nyadar. ternyata si indra itu emang abis kerja yak. hmm....
    tapi abis kerja emangnya jdi mendadak doyan boker gtu yak? gue belom pernah dger. baru tau juga.

    baca ginian jd semangat buat naek gunung, sambil bawa pacar. wah, songong banget gue. pdahal katanya ga boleh sombong kan yak. sayang bnget, ga dapet fto sunrisenya, fik. pdahal penasaran jga pengen liat, klo dari gunung itu, dpet viewnya kayak apa.
    oh iya, itu pas turun pulang, ga pake nginep'' gtu kan ya brrti, fik?

    BalasHapus
  7. Bantu jawab mas fauzi : Mas harus liat sendiri view nya, belom pernah berdiri diatas awan atau liat negeri diatas awan kan? that's awesome :D
    Kalo turun nya cuma 5 jam mas ga pake camp lagi

    BalasHapus
  8. Gokil tuh bajunya "Tuhan bersama petualang sejati" :))
    Baca soal yang bawa sampah, jadi inget gue dulu pas kuliah praktek ke hutan. Malah kita ke sana gak bawa sampah, turunnya bawain sampah orang-orang. Hahaha. \:D?

    BalasHapus
  9. Ya ampun so sweet banget bawaain sampah turun.

    Gue ngebayangin naik gunung bawa tas karir tuh rasanya gimana? Gue aja naik gunung cuman bawa badan doang udah keok, sampe puncak mata gue digigit serangga lagi, ya nasib..

    BalasHapus
  10. berapa mdpl itu bang ?? keren-keren banget fotonya. Dan itu wajib tuh, bawa sampah ke bawah.

    Jangan meninggalkan sesuatu, kecuali jejak.
    jangan mengambil sesuatu, kecuali gambar.
    jangan membunuh sesuatu, kecuali waktu.

    tiap naik gunung pasti inget itu terus. Keren ! Save Green !

    BalasHapus
  11. Indah uyyy..hehe

    bener2 filosofinya keluar banget dah. Alam memang harus kita jaga. Klo bukan kita sapa lagi, klo bukan sekarang kapa lagi? Pas lo udah tua terus lo inget sampah lo gitu, and lo naik gunug dengan keadaan menyedihkan? gak mungkin kan... hehe

    Terus jaga bumi indonesia!!

    BalasHapus
  12. Okeeeeeeeeeh. Gue iri, Bang.

    Karena gue belum pernah mendaki sama sekali. Ada sih rencana maret ini mau mendaki. Doakan semoga nggak gagal lagi rencana gue kali ini.

    Qoute terakhirnya sedap, Bang. naik gunung itu mengajarkaan kita untuk terus berusaha mencapai puncak walaupun dengan cara merangkak.

    Mungkin, quote itu bakalan gue pake kalau rencana gue di bulan maret nanti nggak gagal lagi.

    BalasHapus
  13. Ihh asik banget ya naik gunung bersama temanteman terus sampe atas bisa selfa selfi sesuka hati. Cba lo juga selfie sama yg lagi pacaran kan makin nendang naik gunung lo, Pik...tapi di atas sana pasti dingin banget ya Pik, sampe lubang idung merekah tak terelakkan begitu Pik...kapan ya kira kira gue bsa naik gunung lagi...

    BalasHapus
  14. Wkwk kaos nya Indra, Tuhan bersama petualang sejati. Nanti bikin kaos tulisan nya Petualang sejati tidak boker saat mendaki :D

    Pelajaran saat nyampe di puncak mengena bgt. Kita memang terkadang merasa sombong. Tapi kalau sudah sampai puncak kita merasa sangat kecil...

    BalasHapus
  15. Makanya kalo nggak pingin bawa sampah ya jangan ninggalin sampah dong bang, kalo makan sama bungkusnya sekalian biar gak jadi sampah.

    Bang Topik kayanya sensitif banget kalo ada orang pacaran, bawannya pingin ngejorokin aja. Coba kalo ada aku, pasti aku bantuin ngejorokin tuh orang ke kawah gunung.

    BalasHapus
  16. enjoy abis yak bro.. mungkin ini masalah serius ya tentang kebersihan. masa iya sampai kayak dinas kebersihan, parah abis itu berarti -__- sepertinya agak ternodai aktivitas hiking dengan sampah disekitar tenda..

    BalasHapus
  17. wwiihh keren bang topik yang udah jadi cowok beneran ini gara-gara udah naik ke gunung. tapi gak tau kenapa bang topik ini semangat sekali, ketika yang lain sudah mulai lelah tapi bang topi masih semangat atau mungkin dia nemuin barang dari aura kasih tadi :D tapi salut deh buat bang topik.

    quotenya bener banget, kalo orang sombong2 itu diajakin naim gunung mungkin dia bakal sadar kalo semua itu bukan miliknya dan hanya titipan yang maha kuasa.

    lain kali ajakin gue yaak bang... eeh nasib orang pacaran tadi gmana ?

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*