Senin, 08 Februari 2016

First Time Hiking #1 : Jadi Laki Beneran




Awal bulan Desember 2015 lalu. Disaat hujan lagi deras-derasnya sahabat gue Indra tiba-tiba ngasih tahu kalau dia mau naik gunung.

“gue mau naik gunung Ciremai”
“sama siapa bro? Gue ikut, bayarnya berapa?” gue penasaran.
“bayarnya dari gue kalau lo beneran mau ikutan. Sama temen-temen gue”
Gue nggak tahu, cara nolak ajakan semacam ini. Makanya gue bilang “oke!”

Gue adalah orang yang percaya sama namanya kekuatan imajinasi. Dulu gue pengen banget naik gunung Ciremai setiap berangkat kuliah gue lihatin terus gunung Ciremai dari mobil angkutan umum, karena waktu itu gue belum bawa motor. Ditambah pak Syarif guru bahasa Indonesia gue waktu SMP, dulu bilang “kamu belum jadi lelaki sejati kalau belum naik gunung Ciremai”. Oke, di kepala gue terus terngiang-ngiang kata-kata beliau. Dan gue denger kalau ada kesempataan buat hiking untuk pertama kalinya.

Gue bakal jadi laki tulen.

Mungkin maksud pak Syarif bilang gitu karena dia tahu persis nggak ada bencong yang doyan naik gunung. Kalau naik mobil satpol PP mungkin.

Imajinasi gue pun makin kuat kalau suatu saat nanti gue bakal naik gunung Ciremai. Kesempatan ini nggak boleh gue sia-siakan. Segera setelah memutuskan untuk ikut (karena dibayarin) gue berfikir gimana caranya dapetin alat-alat berikut ini:

Tas
Mungkin lebih tepatnya tas carrier. Karena kalau tas biasa buat naik gunung nggak bisa muat banyak. Atau paling nggak muat baju sama peralatan lain kayak blas-on lipstick dan alat-alat make up lainnya. Ini gue mau naik gunung apa mau jadi biduan pantura.

Padahal gue tahu kalau tas itu penting, tapi sialnya gue nggak punya tas. Tas carrier maupun tas biasa. Kemarin waktu  diajak ke Bandung gue pakek tas adek gue. Untung tasnya nggak kayak tas anak-anak kebanyakan, tasnya agak kerenan dikit. Jadi gue pakek tas adek gue. Walaupun bukan carrier tapi bisa muat barang-barang yang harus gue bawa.

Sepatu
Nah, selain tas yang gue khawatirkan. Gue juga khawatir sama sepatu. Gue cuman punya sapatu pantofel bekas PPL kemarin. Masa gue naik gunung pakek pantofel. Sekalian gue pakek baju safari ajah kalau gitu. Gue pun puter otak. Mungkin gue pakek sandal ajah kali, biar rada simple. Tapi gue nanya sama kakak gue yang juga berpengalaman naik gunung. Katanya kalau pakek sandal usahakan sendalnya ya sandal gunung. Jangan sandal ceplek.

Oke, dia tahu banget gue cuman punya sandal ceplek. Daripada pakek sandal sekalian ajah pakek sepatu. Untungnya ada Adi temen sekelas gue di kampus akhirnya mau minjemin gue sepatu. Sepatunya keren pulak. Thank bro.

Udah ada dua item itu gue rasa cukup. Karena tenda dan lain-lain dari Indra semua. Gue tinggal berangkat. Tapi satu lagi, gue lupa. Harus bawa duit juga buat jaga-jaga. Dan saat itu dompet gue kering kerontang, naik ajah dibayarin. Kelihatan banget bokeknya. Tapi kemudian masalah itu nggak berlangsung lama. Setelah gue berdo’a kemudian gue pun berusaha ini-itu, alhamdulilah gue dapet duitnya.Yang jelas gue nggak ngepet atau ngerampok.

Hari H tiba gue siap-siap di rumah. Gue masukin barang-barang yang harus dibawa yang paling penting diantara semuanya adalah celana dalam. Beneran. Penting banget. Nggak lupa gue juga minta saran sama kakak gue sebagai pendaki gunung senior yang udah mendaki gunung-gunung di pulau Jawa. Setiap sarannya gue catat baik-baik.

Malam sebelum berangkat gue nggak bisa tidur. Tidur cuma sebentar. Karena Indra bilang kalau dia nyampe di rumah gue jam dua pagi. Oiyah, kenapa gue disusul, karena Indra kebetulan abis pulang kerja dari Bekasi. Yah, dia abis pulang kerja langsung pulang ke Cirebon. Naik motor.

Nah, jalurnya ngelewatin rumah gue. dan berhubung berangkatnya pagi jam empat subuh dia nyuruh gue ikut dulu ajah ke rumahnya, biar sekalian. Soalnya disana juga udah ada keempat temannya. Singkat cerita Indra udah nyampe depan rumah. Gue baru tidur sebentar dia udah nyampe ajah. Cepet banget. Di bawalah gue ke rumahnya, kita kumpul disana. Gue kenalan sama temen-temennya Indra.

“Fajar..”
“tofik”
Kami berdua berjabat tangan.
“dari mana mas?” tanya gue.
“Bekasi mas, temen kerjanya Indra” jawab Fajar sambil ngunyah permen karet.
“oohh kirain temen satu kosannya”
“yang satu kosan mah yang satu lagi tuh”

Gue lihat temennya Indra yang dari Bekasi ini, kayaknya berpengalaman dalam hal naik gunung. Kelihatan barang bawaaannya. Dia bawa carrier, dan sepatunya juga sepatu khusus naik gunung. Sampai akhirnya dia bilang “gua baru kali ini naik gunung, pik. Yang sering mah abang gua”.. oke, santai. Ternyata kita berdua sama. Newbie juga.

“wah samaan doang kita. Gue juga baru pertama naik gunung, yang sering kakak gue. Dia udah kemana-mana yang belum ke surga ajah.. haha” kemudian hening…

Setelah itu gue kenalan sama temennya Indra yang sekosan sama dia. “Agi..” dia ngenalin duluan. Gue pun menyambut keramahan itu dengan menyalaminya balik “tofik…” sambil nyengir. “temen satu kosannya Indra, apa satu PT?” lanjut gue nanya.
“satu kosan mas” jawabnya singkat. “udah sering naik gunung mas?” dia nanya gue balik.
“belum, ini pertama kalinya gue naik gunung. Kalau gunung yang lain gue sering naikin sih.. hahaha” gue mencoba break the ice tapi gagal. Garing lagi..

Setelah mereka berdua datang satu lagi temennya Indra, kebetulan dia tetangga depan rumahnya. Gue juga lumayan kenal sama dia.

“ugis..” sambil nyalamin gue. “duh siapa yah.. lupa gue. Pernah ketemu sih tapi lupa namanya”
“tofik Gis..”
“oiyah, lupa sih pik udah lama nggak ketemu’
Kali ini gue nggak berselera bikin ketawa. Soalnya nanti ujung-ujungnya garing.

Setelah kumpul dan menyiapkan yang harus disiapkan, termasuk mereka bertiga juga mandi dulu.  Kemudian kita berangkat, naik mobil kakaknya Ugis, kami diantar sampai terminal Maja, Majalengka. Tempat awal kami nanti akan naik. Nanti sampai sana kami baru naik mobil lagi untuk sampai di post satu.


Singkat cerita kami pun sampai di terminal Maja. Seperti dugaan kami sebelumnya, walaupun pagi-pagi banget kami berangkat (jam 4) di terminal udah banyak yang mau naik ajah. Jalur dari Majalengka lumayan jadi favorit, namanya jalur pendakian Apuy.  Nanti kalau ada yang mau naik bareng gue senggaknya gue udah tahu harus kemana dulu. Minimal gue tahu letak alfamart terdekat. Di terminal Maja kami juga nunggu kang Deni, temennya Agi orang Maja. Mungkin dia bisa disebut kuncen.

Setelah sampai di  pos satu yaitu pos tempat pendaftaran kami pun langsung mendaftar biar nanti kalau ngilang di atas datanya ada. Walaupun kami naik gunung tujuannya nggak pengen ngilang. Tapi karena kebanyakan yang tersesat kemudain nggak diketahui nama-namanya itu nggak daftar dulu alias illegal dan itu udah banyak terjadi. Kami pun nurutin sistem. Gue nggak mau ngilang gitu ajah soalnya senggaknya gue mau menghilang bersama kenangan-kenangan masa lalu gue bersama dia. Udah itu ajah.








Nggak perlu berlama-lama kami pun langsung menuju pos dua setelah mendaftar. Awal langkah gue sebagai laki-laki menginjakan kaki menuju gunung Ciremai. Setelah berjalan dengan muka ngos-ngosan kami berhenti sejenak padahal pos dua udah deket. Indra pun merasakan hal yang sama. Tapi bedanaya dia ngerasa pengen boker, diantara kami dialah orang pertama yang boker duluan. Kurang ajar..

Perjalanan dari pos ke pos lainnya begitu mengasyikan sekaligus begitu melelahkan. Asyik soalnya gue nggak nyangka ada cewek-cewek juga di atas gunung begini, artinya nggak semuanya cowok. Minimal ada yang bisa buat cuci mata. Capeknya karena karena naik gunung. Kalau naik pelaminan mungkin tegang ajah.

Yang paling jauh jaraknya adalah dari post dua ke pos tiga, empat, dan lima. Kerasa banget naik gunungnya. Gue akui kami berenam naik gunungnya payah banget, soalnya kebanyakan berhenti. Banyak duduk terus lanjut lagi. Daripada kecapean kemudian pingsan mending istirahat.

Hari sudah menjelang malam kami mencoba mencari tempat untuk mendirikan tenda. Waktu itu kami baru sampai pos empat dan keadaan temen-temen mulai kecapean. Tapi gue, kang Deni dan Agi masih bisa naik dan rencananya akan mendirikan tenda di post lima, takutnya keburu tempat penuh. Maka dari itu gue, Agi dan kang Deni naik duluan dan mereka bertiga kami tinggal.

Nggak mudah untuk naik dengan tenaga seadanya. Udah gitu gue lupa bawa makanan yang ada di ransel Indra. Sementara Indra ada di bawah. Wal hasil kami bertiga naik dengan bekal seadanya yaitu mie instan dua biji. Untunya dengan mie dua biji itu kami berhasil naik lebih jauh. Sebenernya gue bawa gula merah buat di emut, kata kakak gue itu untuk menambah tenaga kalau naik gunung. Emang bener sih ada tambahan tenaga. Gue juga nggak ngerti kenapa bisa gitu. Magic banget.

Pos lima udah di depan mata tapi ada kabar kalau di pos lima penuh sesak oleh pendaki lain. Dan akhirnya kami hanya mendirikan tenda di bawah pos lima. Masih dekat. Tapi nggak ngepas di pos limanya. Nggak papa yang penting ada tempat buat tidur. Walaupun perut udah bunyi terus, nyatanya tenda tetap bisa berdiri dengan gagah. Tinggal nunggu Indra dan kawan-kawan di bawah.


Agak lama kami nunggu mereka di bawah pos lima sampai akhinrya mereka nongol dengan muka kucel dan jalan sempoyongan gue khawatir mereka bakal pingsan atau malah boker di tempat. Apalagi Indra yang kerjaannya boker mulu.

----

Malam sudah menjelang. Dan gerimis pun perlahan menjadi hujan. Untungnya kami sempat masak duluan sebelum akhirnya hujan. Lumayan untuk isi tenaga dan selanjutnya tinggal istirahat untuk lanjut naik lagi nanti jam 3. Rencananya emang kami mau istirahat dulu baru nanti lanjut lagi naik jam 3 pagi. Iya men. Harus gitu kalau nggak naik jam segitu, kita bakal ketinggalan sunrise yang indah merona.


Setelah makan-makan bersama, mereka langsung tidur kebetulan kami bawa tenda dua. Yang satu muat untuk empat orang dan yang satunya lagi muat untuk dua orang. Suasananya dingin dan hujan, dingin udah pasti, gue ajah sampai pakek celana dobel terus pakek kaos kaki dobel juga. Lumayan bikin badan gue anget. Ada usulan dari Indra nanti kalau dingin tidurnya pelukan ajah. Ketika dia bilang gitu gue langsung nyela “GUE NGGAK MAU, NTAR LU BOKER KENA TEMEN-TEMEN! BAU!”

Kang Deni, gue lihat belum juga mau tidur. Gue kira dia lagi ngelamun. Sementra yang lain pada tidur. Ternyata dia lagi jagain kita dari babi hutan. Yah, sempet ada babi mendekat ke tenda kami, untunya nggak nyeruduk kami berempat.

Waktu udah menunjukan pukul 2 lebih.

“Ndra bangun! Udah mau jam tiga nih. Katanya naik lagi jam tiga. Buru bangun..”
“….” Dia ngorok..
“Gi bangun, bangun”
Karena dia masih ngorok gue bangunin Agi.
“ehhh….” Akhirnya dia bangun.

Setelah bangun semua, beres-beres tenda dan sebagainya. Kami lanjutkan perjalanan menuju puncak gemilang cahaya. Yang paling berkesan adalah waktu kami siap-siap mau berangkat dan sama-sama berdo’a. Di situ gue ngerasa, gue beneran naik gunung dan bentar lagi nyampe, gue harus semangat, gue akan menjadi laki-laki seutuhnya…

To be continued...

37 komentar:

  1. oh selama ini abang bukan laki-laki toh? hahaha

    BalasHapus
  2. Kalo liat foto-fotonya jadi ingat film 5cm. Tapi, ngga ada ceweknya. ^_^

    BalasHapus
  3. keren... harus naik gunung pokoknya biar seumur hidup sekali

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. iya ente kan suka boker ndra jujur lah gue mah

      Hapus
  5. Ada yang perlu diklarifikasi, gw jalan belakangan bukan ga kuat, tp jagain indra takut boker sembarangan fik.. Bahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. jagain hati lo juga jar yang lagi lupain mantan

      Hapus
  6. Keren men, Naik gunungnya dengan modal seminimal mungkin. Hahaha. Ditunggu lanjutannya yak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu udah ada di bawah.. Tinggal klik ajah yg to be continued nya hehe

      Hapus
  7. Ane nggak setuju dengan kata 'belum jadi lelaki sejati kalau belum naik itu gunung' karena apa? Karena ane percaya kalau lelaki sejati itu adalah yang udah punya istri hahahha.. Ketinggian gunungnya berapa bang? Ini nanya seriusan.. Jangan dijawab yang aneh2 =.=

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu tahap akhir seorang lelaki sejati bro.. nikah

      Hapus
  8. Jadi selama ini lu apaan kalo bukan laki? Gue curiga kalau lu sebenernya makhluk setengah2, bingung antara pingin jadi batangan apa gundukan. Coba gue ngajak lu ke salon, meni pedi, spa, facial, dsb, dijamin lu jadi lekong cucok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue udah laki sekarang kalau gak percaya aku bisa buktiin ke kamu sekarang juga

      Hapus
  9. ah.... kampret.. jadi makin ngiri sama yang pernah hiking...
    seumur-umur gue cuma pernah naik gunung sindoro karena acara live in doang, nggak ada esensi hikingnya. tinggal di tenda gitu nggak berasa. kayaknya emang seru banget yak bro jalan dari pos satu ke pos yang lain. udah kayak di film-film aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya emang ini gue lagi meranin adegan film jev haha

      Hapus
  10. jadi kepengen naik gunung juga, keknya seru tuh kalau bareng temen-temen. Jadi, naik gunung bareng-bareng, kesesat bareng-bareng, mati di gunung juga bareng-bareng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye buru naik gunung tapi jangan sembarang gunung zar

      Hapus
  11. Selamat ya udah jadi laki-laki tulen. Kalo nggak naik gunung kan malu sama tuh titit yang udah disunat. Jadi pengen naik gunung lagi, kayaknya asyik. Tapi, yang bikin gue pikir-pikir ya dinginnya itu lho. Soalnya sleeping bag gue udah ninggalin gue. dia berpindah ke lain hati.

    BalasHapus
  12. wah, fik. setelah sekian lama kenal, gue baru saadar kalo elu bukan laki tulen. #savetaufik

    untung pada sabar ya temanan sama indra, pgen boker lah. gue kirain cuman sekali, lah inih sering. dia abis makan sekarung beras kali yak. tpi gue ngebayangin boker d tengah jalan nuju gunung kyaknya serem juga sih tuh.
    itu yg pas mau becanda, tpi pada krik'' agak kesel gmna gitu yak. gue klo udh usaha gtu, trus krik'', bawaannya jadi baper sih. pgen diem aja. bhahahah.

    seriusan ada babi yg mendekati tenda? wah, gue kirain dia pgen ketemu sama indra.
    lah
    nggak nyambung

    BalasHapus
    Balasan
    1. anjir lo ji -_-'

      iya takut pas boker bokernya dibalikin lagi hahaha

      Hapus
  13. waaah kenapa harus pisah di pos 4 dan 5 ?
    Aku sih belum pernah naik gunung :D

    BalasHapus
  14. Aku belum pernah naik gunung bang, soalnya aku belum siap jadi laki-laki tulen. Laahh. Pernah sih punya niatan buat naik gunung. Tapi aku urungkan niatnya karena aku takut. Cupu banget ya.

    Serem banget bang sampe ada babi hutannya gitu -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi anak kebanggan ibu ajah udah co

      Hapus
  15. akhirnya dari sekian lama penantian, jadi lelaki juga akhirnya sekarang, keren banget deh kalo udah jadi laki, tinggal cari ceweknya ajah nih biar tambah di bilang laki tulen :D

    frist hiking yaa bang, seru juga pengalaman pertamanya, jadi penasaran sama cerita berikutnya pasti bakal seru dan dibumbuhi bau-bau ngak sedap gara-gara si indra yang suka boker, eehh btw bagaimana si indra bokernya kalo lagi di atas gunung :D

    gue ucapin selamat lagi karena udah jadi lelaki tulen sekarang :P

    BalasHapus
  16. Lah yang belum pernah naik gunung belum jadi laki-laki dong? *brb nyari gunung yang bisa dinaiki*
    Ya ampun, aku ngakak coba pas ngatain kakaknya tinggal masuk surga doang yang belum. Ini antara nyuruh mati sama ngedoain biar masuk surga.

    Pengalaman first hiking seru ya, kalau sehari sebelum pergi malamnya gak bisa tidur itu kayaknya wajar deh. Aku juga suka kayak gitu, biasanya ngebayangin hal apa saja yang terjadi besok. Mulai dari senengnya sampai apesnya semua juga ikut dibayangin.

    BalasHapus
  17. Gue nyesek.
    Bener. Ini karena selama ini gue ngga pernah naik gunung.
    padahal orang luar daerah gue rela ke daerah gue buat naik gunung doang.
    next time, moga bisa kesampaian deh

    BalasHapus
  18. Wah... selamat!! elo jadi lelaki tulen!!
    berarti selama ini elo apaan dong?? lelaki jadi2an??
    beberapa hari yang lalu gue juga ditawarin naik gunung Ciremai, tapi tugas gue terlalu banyak.... :v

    BalasHapus
  19. moga kita cpet nyusul jadi lelaki seutuhnya T.T

    shojatnya gmana pik? pasti seru di alam gelas sejadah di atas batu kyk byangan gue yg d dapet dari acra tivi.

    kpan lagi kan meluk cwok. gk bkal dbilang maho juga. kalo tainya nanti beleberan agap aja kenang2an sejma manjat. aha

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*