Kamis, 16 Juli 2015

Gak Bisa Diarepin




Kamis kemarin (09/07 2015) gue berangkat ngampus pagi-pagi sekitar jam delapan lebih, dengan sedikit buru-buru. Karena takut Ibu Herlina dosen pembimbing skripsi gue keburu pergi dari kampus. Gue nggak menghiraukan cewek gue yang biasanya gue smsin selamat pagi. Biasanya juga dia ke kampus bareng gue, tapi kemarin sore dia bilang mau nganter sodarnya daftar SMA.

“kamu berangkat jam berapa?” tanya doi.
“jam 8 atau jam 9an lah, mau bimbingan”
“kayaknya aku berangkat siangan deh, soalnya mau nganter sodara aku dulu daftar SMA”
“oohh yaudah…”

Pernyataan itu membuat gue cukup yakin kalau nanti dia bakal berangkat sendiri dan gue segera berangkat ke kampus tanpa sms dia lagi, mungkin dianya juga masih tidur. Buru-buru juga.

Motor gue panasin..

“dasar motor goblok lo! Pea!”

Gue rasa motor gue ini emosian, soalnya dia mudah panas. Motor udah panas, gue berangkat.

Sampai kampus gue berusaha untuk tetap tenang seandainya dosen pembimbing satu nggak ada. Setidaknya gue udah selamat sampai kampus. Gue lihat kampus masih sepi, susah bedain mana kampus mana Indomaret yang baru buka. Soalnya persis, nanti juga kalau agak siangan mulai ramai. Ramai oleh mahasiswa fakir bimbingan dan tanda tangan.

Saat gue berjaan di parkiran gue mengecek hape sekalian mau sms Ibu Herlina. Hape jadul gue menunjukan kalau memori penyimpanan pesan penuh, jadi gue harus menghapus beberapa sms untuk melihat sms selanjutnya yang mau masuk. Resiko hape jadul. Sms ajah nggk bisa muat banyak. Selain notifikasi ‘pesan penuh’ ternyata ada delapan panggilan tidak terjawab. Semuanya dari cewek gue.

Kemudian gue lihat sms setelah sebelumnya menghapus sms lama yang masuk, dia nanyain gue.

“kamu mau jemput jam berapa?” sms dia ke gue.
Jemput? Perasaan dia bilang berangkat sendiri kemarin kata gue dalam hati.

Mungkin karena kelamaan sms dia nggak di bales dan telepon nggak di angkat dia telepon gue lagi.

“halo..”
“iya halo, yank aku udah di kampus. Aku buru-bur….” Gue belum selesai ngomong dia udah ngomong duluan “ooh yaudah” tutttt….. dimatiin.

Padahal gue mau ngomong ‘aku buru-bur.. pengen bubur’. Efek puasa bawannya pengen makan. Belum juga gue jelasin kalau gue ini buru-buru soalnya takut dosen pembimbing ngabur. Tapi malah dimatiin dan kayaknya dia marah. Untuk meneruskan penjelasan gue yang buru-buru ini gue sms dia. Gue harap dia mengerti keadaan gue yang masih ngurusin proposal skripsi ini.

Yang ada di pikiran gue saat itu gue harus bimbingan soalnya dari hari senin dosen nggak ada, gue sms nggak dibales. Untung gue orangnya nggak baper kalau gue baper mungkin gue bakal marah-marah karena sms gue nggak dibales sama beliau.

“kamu kemana ajah sih aku sms nggak di bales-bales. Aku tunggu sampai 2 hari kalau kamu nggak bales-bales sms aku, berarti kita putus. Aku mau cari dosen pembimbing yang lain! Cukstaw!”

Amit-amit gue kayak gitu..

Gue duduk di atas lantai dua. Ada temen lagi duduk, gue sapa dia tapi dia menunjukan respon yang biasa ajah bahkan nggak nyapa gue balik. Mungkin dia lagi sibuk sama skripsinya. Soalnya pas keluar ruangan dia lagi pegang revisian dengan muka memelas. Mungkin isinya “MULAI LAGI DARI AWAL”. Mungkin juga gue akan menagalami hal semacam itu. makanya gue nggak ngeledek, takut karma. Mencoba untuk nggak suudzon gue nggak terlalu mikirn dia nggak nyapa gue balik. Kerjaan gue sekarang memantau ruang dosen, takut dosen pembimbing ada tapi gue nggak tahu.

--------

Gue lihat dari lantai atas sepertinya ada Dimas, temen sekelas gue yang mau bimbingan juga. Dia masuk ruangan TU. Untuk memastikan itu Dimas atau bukan, gue turun ke lantai bawah dan masuk TU.

“ngapain lo, Mas?”
“maaf, anda siapa ya?”
“Sapri, Mas..” kemudian gue melontarkan pantun ‘masak aer biar mateng’.
“hahaha.., mau bimbingan, pik’
“kirain mau wisuda, haha”

Kemudian kita berdua duduk di sofa TU. Kemudian kita pegangan tangan, eh nggak. kita ngobrol santai.

Gue nunggu dosen pembimbing, begitu juga Dimas. Kebetulan dosen pembimbingnya Dimas ada di TU. Cukup lama gue duduk sendirian setelah Dimas dipanggil dospemnya, sampai akhirnya dospem beles sms gue. Katanya dia disini sampai jam 10.30. Untungnya gue udah nyampe kampus jam 9 lebih dikit. Gue langsung ke ruang dosen dan terlihat beliau sedang merevisi skripsi mahasiswa lain. Gue langsung menyodorkan hasil proposal yang gue bikin.

“gima pik?”
Ini bu saya mau nawarin ibu ikutan MLM saya.. -_- ya bimbingan lah bu.
“ini bu bimbingan”
“sampai mana pik?
“proposal, bu”
“ya Allah masih proposal ajah”
“hehe…..” gue nyengir kuda.

Perasaan gue udah tiga kali bimbingan sama dia, dia kok lupa mulu kalau gue baru nyampe proposal. Pakek kaget segala lagi. buat gue itu menghina sekali. Mana ngomongnya kenceng. Kedengeran dosen senior di samping yang lagi membimbing skripsi juga.

Singkat cerita gue udah selesai bimbingan, dan rasanya lega banget. Walaupun proposal gue dicorat-coret. Mungkin dia lagi bête jadi nyoret-nyoret skripsi gue, gue udah membantu dosen pembimbing gue menyalurkan kekesalannya. Semoga gue dapat pahala. Amin. Abis bimbingan gue keluar dari ruangan dosen dan pergi ke Lottemart tempat biasa nongkrong, mencari sinyal Wifi, sekalian mau nyari ide untuk memperbaiki proposal. Gue kesana nggak sendirian, gue sama Dimas.

Setelah agak lama sampai adzan Duhur berkumandang gue duduk di situ sambil browsing-browsing, gue ngecek hape lagi kali ajah sms gue yang tadi pagi di bales sama cewek gue. ternyata emang ada balasan dari dia.

“kamu bisa anter ke rumah Gina nggak? aku udah di lampu merah” sms itu ada sejak satu jam yang lalu. Tapi tetap gue balas “sekarang kamu dimana?”
“udah nyampe rumah Gina” jawabnya ketus.

Syukur lah kalau udah nyampe gumam gue dalam hati.

2 jam kemudian dia sms lagi “kamu dimana? Ini helemnya. Masa aku bawa-bawa helm” gue sempet bingung juga, kirain dia nggak bawa helm kalau pun dia bawa kan bisa dititipin di kosan temennya. “di Lotte, di titipin di temen ajah” balas gue.
“males jalannya!”

Kemudian nggak gue bales lagi. Biar dia bawa-bawa helmnya dulu, lagian nggak berat ini. Kalau dia punya inisiatif harusnya dititipin di pos satpam kampus, atau menghilangkan rasa malasnya untuk sekedar pergi ke kosan temen. Tapi selang beberapa saaat dia sms gue lagi.

“emang percuma ngarepin kamu. Aku pagi berangkat nungguin kamu ditinggalin. Nunggu di lampu merah nungguin kamu nggak dateng-dateng. Aku bawa-bawa helem dari rumah, nggak marah, kamu enak banget ngomong kayak gitu. iya udahlah”

Gila yah, padahal itu baru sekali terjadi, tapi  dia udah bilang “percuma ngarepin kamu”, gue kecewa dia bilang gitu. Setidaknya walaupun dia marah nggak seharusnya dia bilang seperti itu. Terus ini juga bulan puasa, dia puasa, nggak bisa ditahan gitu marahnya. Kata pak ustad dan pakk ustadnya menurut Nabi Muhammad SAW kan, kalau kamu marah coba kamu duduk, kalau masih marah kamu tiduran. Mungkin dia bisa tiduran di jalan dulu kek gimana gitu.

Kalau susah, coba ingat-ingat lagi setiap saat ketika gue nganterin dia bolak-balik ngeprint skripsi, gue bantuin beresin, gue pinjemin flasdisk sampai dia sidang gue temenin. Setiap berobat juga gue anterin kebetulan dia lagi pengobatan paru-paru. Banyak lah mungkin yang bisa dia ingat-ingat gue takutnya makin riya kalau disebutin semua (emang udah). Gue ada disitu untuk dia. Salah satu bentuk keseriusan gue sama dia.

Semetara gue masih mentok di proposal dan dia udah yudisium dan telah dinyatakn lulus, tinggal nunggu Agustus, wisuda. Disaat proposal skripsi gue terkatung-katung dia nggak pernah perduli untuk sekedar memberi waktu gue untuk menyelesaikannya lewat bimbingan dan revisi.

Masalah helm doang kan bisa di titipin dulu. Masa gue bolak-balik cuman buat ngambil helm ajah udah gitu balik lagi, sementara dia sama temen-temennya, gue geleng-geleng kepala. Mungkin banyak juga cowok-cowok di luar sana yang bernasib sama kayak gue. Pesan dari gue buat cowok yang digituin jangan dibales. Itu bukan sms jadi nggak usah dibales.

Walaupun setelahnya kita baikan lagi. Kata-kata itu nggak mudah dilupain. Tapi gue mencoba untuk tidak mengingat-ngingtnya lagi. Pesan dari dosen pembimbing lebih penting untuk gue ingat-ingat.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalau pasangan kalian membuat kalian marah. Cobalah untuk tidak langsung ‘meledak’. Ingat-ingat dulu waktu yang lama ketika kalian bersama. Membuat waktu begitu berharga sampai ketika tidur kenangan dalam waktu itu tersipan rapih dalam memori masa lalu. Gunanya semua itu untuk sedikit meredam kemarahan, setidaknya mebuat logika kita berfikir lebih jernih.


Jangan sampai karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Khususnya buat cewek-cewek. Yang sering pakek perasaan. Lebih gampang buat ngatain cowoknya tapir padahal dia tokek. Pfft.. Jangan buru-buru mengeluarkan kata-kataa yang mungkin menyakitkan untuk pasangan kalian.

Be careful with your statement when you were anger, ladies..
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

9 komentar:

  1. Wah kalau masalah beginian saya tidak tahu mau bilang apa yah...

    Kalau begitu saya komen masalah proposal saja karena kita teman seperjuangan yang masih bergelut dengan "proposal"
    Memang perlu perjuangan untuk konsultasi proposal kepada pembimbing. Datang pagi ke kampus, dosennya lagi mengajar. Menunggu dua jam dosenya tidak muncul jadi pergi dulu ke tempat lain, pas kembali ke ruang dosen kata teman dosennya baru saja pergi terpaksa menunggu lagi dan hasil yang didapat setelah menunggu berjam-jam hanya coretan ini dan itu (haduh, '-_-). Dan juga kata-kata "masih belum selesai? kapan mulai meneliti? kapan ujian sidang dll," saya hanya bisa menjawab dengan senyuman.

    Yang sabar mahasiswa pengurus proposal. Kan nantinya kita jadi sarjana juga...

    BalasHapus
  2. Ngomongin cewek yg kek abg sebutin di cerita, kadang gue sendiri sempet ngerasa klo dunia masih bukan milik berdua. Tapi, milik aturan dia, ke kita. Kebayang, klo waktu itu bg tofik berangkat, jelas bgt deh, proposal makin terkatung-katung.

    Pesan dari cerita ini, buat gue sendiri adalah keren, soalnya jarang bgt, cowok sampe curhat sedalem ini. Apalagi tentang penghargaan diri, ucapan, kadang sering semaunya sendiri.

    Semoga baik2 ajadeh, bg hubungannya. Biar cepet hasil.

    BalasHapus
  3. jirrr .. lu senasib banget sih ama gue, dulu pas gue beliin dia makanan buat buka puasa .. hanya karena telat doang .. lu tau kan jakarta itu macet :v tau gak apa yang dia katai ke gue .. ya udah laah gak usah aja .. njirr itu .. pas gue 50 meter deket rumahnya lalu dia telpon :v gue marah bener da .. omong2 gue kutip tuh bagian quote nya suapay gue gak meledak :v

    BalasHapus
  4. ahhh... enak bacanya, gue senyum2 sendiri baca ini, banyak humor2 yang ngga biasa kayak manasin motor, sms baper, sabda nabi tiduran dijalan, dll... ceritanya kece, terlalu kece untuk pengalaman pribadi.. keren-keren, suka gue... andai saja nggak banyak typo nya, pasti sempurna bray... mungkin alasan proposal lu dicorat coret tuh gara2 banyak typo nya yak?

    baiklah, lumayan nih, tulisan ini buat di liatin ke cewek kita.. pasti cewek lu kembali meredam ya bro setelah baca tulisan ini.. hebat!

    BalasHapus
  5. lumayan ngenes ya pas lagi cek cok begitu. lebih ngenes lagi pas gue sadar gue jomblo dan setelah baca cerita diatas hati ini bagaikan tersayat sayat rasanya.. ga bisa berkata kata lagi gue..

    BalasHapus
  6. awal baca, karena langsung bahas soal dosen pembimbing. gue ngira judul postingan ini mengarah ke dosen yg gk bisa di harapin buat minta bimbingan dan tanda tangan. yang selalu menghilang dan nggak tahu di mana keberadaannya.

    pertengahan iya, masih bahas proposal gitu

    pas di akhir malah baper
    kasian ya. cewek emang susah nginget kejadian yang udah lama. kayaknya bagi mereka apa yang terjadi sekarang udah nunjukin banget kualitas kamu sebagai cowok yang gk bisa diharepin. ckckckc

    setuju sih, istilahnya sih sabar aja dulu kalau di bilang gitu. Marah di bales marah hasilnya ya marahan terus.

    BalasHapus
  7. aduh.. gimana ya komennya? Aku emang gak setuju sih sama ceweknya.. tapi.. tapi... tapi aku sering banget nenteng helm ke mall, ditolak penitipan barang akhirnya aku gak jadi ke mall.karena bawa helm. Tapi.. im.fine hahahaa... terakhir senin kemarin. Abis rapat di kantor, biasanya nunut temen pulang. Jadi bawa helm. Eh ternyata sahabatku minta jalan2.. ya udah. jalan2 sama helm. aku bawa kaya bawa tas jinjinh uhyeaahh.. Berat dan ribet sih emang.

    mungkin pacar kamu lagi badmood. Tapi kasihan juga kamu kalau hrus bolak balik.. duh...

    BalasHapus
  8. Kalo motornya panas beliin es bang, terus sebelum beli tanyain mau es apa dia. Es teh manis apa es teh anget...

    Yah gimana ya, menurut Albert Einstein itu cewek gak pernah salah. Walau salah dia akan ngotot sampai dibetulin, jadi ya mungkin dia lupa kalo dia sms mau siangan keluarnya. Mungkin dia punya amnesia. Tapi kalau sayang sih digituin gak akan marah sampai berlarut-larut, inget bang banyak jomblo diluar sana.

    Semoga cepet lulus ya bang :)

    BalasHapus
  9. Udah ngakak dari awal, pas tengah-tengah gue ngerasa kasihan, trus ngakak lagi... wkwk
    Aduh, kebanyakan emang manusia yang diinget cuma yang jelek-jelek aja,trus seakan-akan lupa sama kebaikan kita. Ini nggak berlaku buat cewek doang kok, tapi semua orang. apalgi kalo kondisi lagi gak mood, jadi yaa ini paling sifatnya sementara aja.

    Biasanya nanti juga mikir sendiri. Kok gue gini yah? Kok gue gitu yah? Dia kan udah baik. Ujung-ujungnya baikan lagi. Apalagi kalo udah di klarifikasi disini dan cewek lu baca... hihihi

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*