Senin, 20 Oktober 2014

Menghargai Opini


Berbeda pendapat adalah hal yang wajar, tapi nggak sedikit juga yang nggak perduli dengan hal itu. Seolah opini itu harus disamaratakan, kita bebas mengeluarkan opini sepanjang nggak menjurus menjelekan orang lain atau institusi tertentu. Nah, untuk contoh, gue punya pendapat tentang musik..

Musik
Semua orang di dunia ini suka dengan musik, punya selera musik sendiri, sampai punya self anthem mereka sendiri kalau lagi galau dan jatuh cinta atau dalam keadaan  sedih dan senang. Mungkin entah alasannya karena di setiap negara pasti ada musik yang berdengung. Musik dikatakan sebagai bahasa universal, karena gue sendiri-pun masih bingung dan mencari-cari dimana letak ke-uiniversal-annya ketika ada bule lalu gue tanya “do you know about Koes Plus?” dan ternyata mereka nggak tahu Koes Plus sama sekali, mungkin musik itu universal kalau gue nanya 'siapa itu Michael Jackson?'.

Mungkin bule bakal tahu siapa itu MJ, tapi tukang beca kalau ditanya “siapa Michael Jackson?” maka dia akan menjawab dengan muka polosnya..

“sopo meneh kui cuk…? turis?”
Bukan mang.  Tukang sayur..


Artinya, musik bukan bahasa universal, melainkan alunannya yang universal. Maksud gue kalau ‘musik’-nya sendiri itu bukan universal, karena musik adalah nama dari ‘alunan-alunan yang berbunyi’, sementara kita tahu kalau bahasa universal itu bahasa Inggris. Musik sekali lagi menurut gue bukanlah bahasa universal, bahasa universal adalah ya ‘bahasa’ itu sendiri. Kalau ada yang ngotot bahwa musik itu bahasa universal terserah deh, ini opini gue, isi dan pemahaman kita beda-beda.  

Mungkin kalau ‘musik itu universal’, gue setuju. Nggak pakek embel-embel ‘bahasa universal’. Soalnya menurut PBB juga bahasa universal itu adalah bahsa inggris. Bahasa yang gue pelajarin sampai saat ini dan gue masih bingung sama grammarnya, damn shit!

Mungkin kalian bingung memahami apa yang gue jelaskan. Maklumin ajah, gue bukan mau membuat kalian mengerti apa yang gue jelasin barusan (karena emang bikin bingung), gue mau kalian paham kalau setiap manusia punya (bahkan banyak) konsepsi yang berbeda-beda, opini yang berbeda-beda, pandangan/sudut pandang berbeda bahkan ideologi yang berbeda-beda. Karena setiap tempurung itu berbeda isinya. Kita ini bukan keluaran pabrik yang isinya sama dengan kemasan yang berbeda-beda, kayak ciki serebuan, kita ini manusia, cara berfikir kita dipengaruhi pengetahuan yang kita dapat.

Berbeda pendapat suatu hal yang bagus menurut gue, memberikan kita sebuah pemahaman baru dari orang lain tentang satu tema atau satu masalah yang ada. Ada yang memang berbeda pendapat tapi alur dan tujuannya sama saja, kayak musik yang gue bahasa tadi, ujungnya memang musik adalah sesuatu yang mendunia atau universal tapi mungkin di luar sana juga ada yang beranggapan kalau musik bukan sesuatu yang meuniveral karena ada saja yang tidak mendengarkan music. Gue juga nggak tahu yang nggak dengerin musik tinggal di goa mana dan negara apa.

Tapi itu tadi perbedaan opini, membuat kita mengetahui apa yang diyakini orang lain akan suatu hal yang dia tahu.

Bingung yah?
Bingung lah, itu pertanda kalian mikir.

Salah satu cara kita bersukur kepada Tuhan juga menurut gue, ya, itu tadi dengan menghargai pendapat dan opini orang lain. Dengan begitu kita tahu, ternyata Tuhan maha dasyat, Tuhan maha keren, Tuhan maha besar, bisa menciptakan manusia dengan segala pemikirannya yang berbeda-beda. Tapi perbedaan itu juga harus dengan rasionalitas. Artinya, kalau nggak rasional, perbedaan itu menjadi konsepsi yang belum matang, perlu digodok lagi. Kayak singkong, biar pulen.

Jadi, marilah kita menghargai opini orang lain dengan percaya bahwa setiap manusia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda, walaupun ada (banyak) yang satu pemikiran, mungkin karena males mikir jadi sepemikiran ajah deh daripada repot-repot. Tapi nggak papa, dalam perbedaan itu ada beberapa persamaan yang tersembunyi. Jangan menganggap seseorang yang berbeda pendapat itu adalah orang yang ngeyel, orang yang aneh, soalnya kalau kayak  gitu justru terbalik, aneh, kok ada yang nggak menghargai pendapat orang lain.

Justru kalau kita yakin akan pendapat kita, dan pendapat kita itu kuat dengan bukti-bukti otentik dan nyata juga rasionalitasnya tinggi, bisa saja kita mempengaruhi orang lain yang berbeda pendapat menjadi sependapat dengan kita, sepemikiran dengan kita. 

Bukankah itu menjadi suatu penghargaan tersendiri buat kita.

Walaupun misalnya kita nggak bisa membuat yang berbeda pendapat dengan kita jadi sependapat, setidaknya dia mengerti apa yang kita maksud. Atau juga kalau pendapat dan opini kita sama sekali tidak dapat orang pahami setidaknya dia tahu kalau berbeda pendapat itu merupakan hal yang bagus. Sebenarnya kalau orang lain nggak mengerti apa yang kita maksud itu ada bebrapa kemungkinan;

  1. Kitanya yang nggak bisa jelasin
  2. Akan dimengeri kalau dikupas dan dikuliti dengan pertanyaan terlebih dulu
  3. Alasannya kurang meyakinakan
  4. Orang lainnya yang sedikit telmi
  5. Kita belum makan

Yang terakhir sepertinya teknis, urusan perut emang susah ditunda. Jadi kalau mau jelasin sesuatu usahakan perutnya terisi. Jangan di isi angin.

source

Sekali lagi gue ingetin, hargailah pendapat orang lain. Dengan begitu kita bisa memperkaya khazanah berfikir kita.
.

1 komentar:

  1. setuju selain menghargai pendapat dan opini orang lain kita harus menghargai hasil karya orang lain.sukses ya :)

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*