Rabu, 24 September 2014

Cat Eat Corn




Waktu KKN kemarin, hampir di setiap pagi kelompok gue selalu bikin sarapan walaupun jadinya lama banget. Saking lamanya yang lain udah masuk ruang ICU karena kelaparan, sarapan baru jadi. Tapi sebagai orang yang baik kalau ada maunya gue mencoba sabar.

Bukan cuman bikin sarapan yang lama, mandi pun di kelompok gue lama-lama banget, gue curiga di dalem kamar mandi mereka ngecat, nguras, dan bersihin kamar mandi. Atau jangan-jangan di dalem mereka lagi ngerakit bom. Pikiran ngaco gue semuanya keluar, karena saking lamanya.

Kadang masak dan mandi yang lama itu terjadi bebarengan. Karena hari minggu kebetulan nggak ada yang piket jadi setiap orang males bikin sarapan buat anak-anak kecuali buat dirinya sendiri. Kalau udah gitu gue mulai ngerasa BT, udah gue belum mandi, belum sarapan pula.

Ceritanya gue ngambek dan nongkrong di belakang rumah kontrakan sambil bawa jagung rebus yang di kasih Pak Sekdes. Di desa tempat gue KKN emang banyak banget jagungnya, makanya nggak heran kami sering dikasih jagung sama warga. Kami pun sering menggelar corn party, pesta jagung sampe pagi, mabok jagung, malemnya pada teler, paginya ada yang nungging dengan sebongkah jagung yang nyelip di idung, gara-gara kebanyakan makan jagung.

-----

“mandi lama, bikin sarapan juga lama” gue ngedumel sendirian di belakang kontrakan. Sambil makan jagung untuk mengatasi rasa lapar, biar nggak masuk ruang ICU. Sambil makan dan ngedumel ada kucing yang biasa gue lihat, dia terlihat begitu orange, karena emang warnanya orange. Mendekati gue.

Selain banyak jagung di kontrakan tempat gue KKN, juga banyak kucing-kucing yang berkeliaran, ada yang bawa golok, ada yang bawa samurai,  gear motor dan sebagainya. Ini kucing apa anak SMA yang mau pada tawuran. Tapi ada satu kucing yang kemarin gue kasih telor dadar dan dia pergi begitu saja tanpa ngucapin ‘terima kasih’ atau apa, yaitu kucing yang ada dihadapan gue saat itu. Gue sih nggak papa dia nggak tau terima kasih kayak gitu tapi gimana kalau dia dikasih dadarnya sama ibunya Malin Kundang.

“DASAR KAMU KUCING SIALAN, TIDAK TAHU TERIMAKASIH, SAYA KUTUK KAMU JADI BATU!” satu menit kemudian kucing pun jadi batu. Batu ginjal..

Lantas siapa yang salah ibu atau kucing. Gue sih berpendapat yang salah ya ibunya Malin Kundang. UDAH TAU KUCING ITU BINATANG NGGAK BISA NGOMONG KENAPA MALAH DIKUTUK, DASAR IBU-IBU NGGAK PUNYA PRI-KE-KUCING-AN, SAYA KUTUK IBU JADI BAPAK-BAPAK!

Tringg…

Besoknya, si ibu Malin Kundang jadi kumisan..

-----

Dengan penuh manja kucing yang mukanya agak cemang-cemong berbulu orange itu deketin gue yang lagi makan jagung rebus di belakang kosan. 



“miaw..miaw..miawww…miaw” kata kucing yang berdiri di depan gue.
“ngomong apaan sih lo cing? Gue nggak ngerti”
“miaw..miaw” dia tiduran dan tetap di hadapan gue.
“oke gue tau apa arti dari ‘miaw’ yang lo maksud, karena gue lagi laper mungkin pagi-pagi gini, sama-sama sebagai makhluk tuhan, gue yakin lo pengen sarapan” gue mencoba berinteraksi dengan si kucing, “iya kan?”
“miaww..”

Lagi-lagi jawabannya cuman ‘miaw’, tapi nggak papa sih itu emang udah kodratnya. Tapi kalau seandainya dia jawab pertanyaan gue tadi dengan bahasa manusia kayak “iya gue laper, bego” mungkin gue bakal pulang kerumah dan masuk kamar kemudian gue kunci selama-lamanya.

Dengan insting pencinta binatang gue tau dia sebenarnya laper. Cuman apa daya, gue ajah makannya jagung, gue bingung mau ngasih ini kucing makanan apa. Masa jagung. Tapi gue coba ajah siaa tau kucingnya mau makan jagung, kan kita berdua bisa makan jagung berdua, romantis banget bukan.

Gue copotin jagung rebus yang ada di bonggolnya, pake mulut, kemudian gue keluarin lagi, sampai akhirnya gue kasiin ke si kucing yang sedang nelangsa mencari sarapan. Gue terkejut, dan #NoMoreWordToSay speechless. Kucingnya makan jagung, dan dia doyan. Makan jagung kayak makan Wishkas.

Karena ngelihat si kucing doyan sama jagung, gue akhirnya malakukan hal yang sama berulang-ulang; copotin jagung rebus dari bonggol, pake mulut, keluarin, ambil pake tangan dan kasiin kucing.

“Untung dia nggak protes kalau jagungnya bau jigong” seloroh gue.
“miaw..miaw..miaw..”

Karena gue udah klop sama si kucing gue tau apa arti “miaw..miaw..miaw..” yang barusan keluar dari mulutnya. Artinya adalah “gue laper, lagi dong”. Perlu pemahaman yang sangat mendalam untuk memahami bahasa kucing, nggak percaya? Gue ajah nggak.



Gue kasih lagi dia jagung, sampe dia abis satu jagung yang gue makan dan setengah jagung yang gue patahin jadi dua. Berarti dia udah abis satu setengah jagung, dan dia masih mau nambah, smentara gue yang lagi nunggu orang mandi dan nunggu sarpan cuman makan setengah. Maruk banget ini kucing. Jagung ajah doyan, apalagi dikasih nasi padang. Nambah kali ya.

Di dasari rasa penasaran gue, karena kucing yang ada di hadapan gue ini doyan sama jagung, lantas kemudian gue cari tau penyebabnya. Gue sempet searching di Google, apakah normal seekor kucing makan jagung. Atau jangan-jangan dia bukan kucing, tapi burung perkutut yang dikutuk ibunya Malin Kundang.

Sampai akhirnya gue nemu orang yang menanyakan hal yang sama. Ada di urutan pertama pencarian Google tapi dari Yahoo Answer, aneh bin nggak ajaib. 


Apakah tidak apa-apa juka kucing makan jagung rebus?
Kucingku suka makan jagung rebus pakah tidak apa-apa? Takutnya kenapa-kenapa gan..

Jawaban pertama: seharunys kucing tidak diberikan jagung karena secara alami kucing adalah karnivora. Pencernaan mereka tidak dirancang untuk mengolah tumbuh-tumbuhan. Kucing makan-makanan seperti itu karena terpaksa (kelaparan) sehingga mereka terbiasa. Namun ini tidak baik dibiarkan lama mungkin dampak awalnya hanya diare dampak berikutnya belum dilaporkan..

Jawaban kedua: menurut sumber yang saya baca, jagung tidak berbahaya bagi kucing, justru baik karena mengandung protein dan karbohidrat yang dibutuhkan kucing. Memang ada beberapa kasus yang menyebabkan alergi pada kucing karena mengkonsumsi jagung tapi kemungkinannya hanya 10 %. Sumber purinavaterinarydiets.com

Gue lebih respect sama jawaban yang nomer dua, karena dia jelas sumbernya dan jawaban nomer dua seolah menenangkan gue kalau nantinya kucing yang gue kasih makan jagung besoknya nggak diare dan mencret-mencret sepajang jalan.

Nggak kayak yang pertama, udah nakutin terus juga akhirnya nggak enak banget ‘dampak berikutnya belum dialporkan’.. emang dia lagi observasi? Tapi gue setuju sama statementnya yaitu ‘kalau laper makan apa ajah, karena terpaksa’. Kayak gue yang laper waktu itu, terpakasa makan jagung, begitu juga dengan kucing.

Jadi sebenarnya kucing makan jagung itu nggak papa, asal jangan kebanyakan ajah karena hakikatnya juga kucing itu makan daging-dagingan, tikus-tikusan dan nyolong-ikan-di-dapur-an.



Gue nggak nyangka ternyata manusia memang punya animal instinct, buktinya kalau lagi laper makan apa ajah. Makan duit rakyat juga kayaknya emang lagi laper yah..

8 komentar:

  1. Pik, keknya kucingnya emang fenomenal, gue ngakak bacanya.

    BalasHapus
  2. Takut kucing sih jadi bingung mau komen apaan kan, kzl deh:( tapi jangankan kucing makan jagung, anak harimau dikasih tahu putih juga mau kok._.)/| hewan-hewan masa kini..

    BalasHapus
  3. itu kucing yang fenomenal apa kamu yang spektakuler? bisa ngobrol sama kucing.

    BalasHapus
  4. haha, suka jagung jg toh? gue pikir, kucing dirumah gue doang yang suka makan jagung -__-

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*