Minggu, 03 Agustus 2014

Where Are My Parents?



Di pagi yang sangat dingin dengan terpaan sinar mentari ini gue tiba-tiba ajah pengen banget menyingkap kisah anak-anak kampung yang nasibnya kurang beruntung, nggak kayak gue. Kurang beruntung disini bukan berarti mereka anak yatim-piatu, kurang beruntug disini lebih ke pendidikan orang tua yang kurang, kasih sayang yang kurang. Dan tentu saja terkadang nggak bisa dipungkiri, uang jajan yang kurang.

Masa kanak-kanak adalah masa dimana kita bisa bermain selama mungkin, dengan teman sebanyak mungkin, kadang saking lamanya perut belum ke isi makanan pun, masa bodo. Yang penting hati senang. Dibalik kesenangan itu ternyata nggak sedikit anak-anak yang punya kisah memilukan tentang orang tuanya yang kurang memberinya pendidikan, nasehat dan semacamnya.


Gue sebagai orang yang hidup dengan orang tua gue yang seorang guru, merasa pendidikan dari orang tua lah yang akan mengantar kita terjun ke kehidupan di luar sana yang begitu kompleks. Artinya pendidikan dari orang tua ini adalah basic, bekal, makanan utama seorang anak yang akan terjun ke masyarakat kelak. Lalu apa jadinya kalau kita nggak punya bekal dari orang tua?

Gue udah lihat banyak contohnya dilingkungan gue sendiri, ketika mereka dewasa mereka berubah menjadi orang yang (menurut gue) nggak karuan. Ada yang sekolahnya putus, ada yang jadi pengangguran, lebih parah bisa terjun ke dunia hitam. Kayak semacam penjahat gitu.

Bagja, adalah temen gue di kampung. Gue sering main dengan dia, kadang main ke sawah, kadang main ke kali, jarang banget kita mainan di lift dengan tombol-tombol angka yang menyala minta di pencet. Bagja adalah seorang yang bisa gue bilang kurang beruntung. Bapak-ibunya ada, hanya saja seperti yang gue katakan di awal tadi, pendidikan dari orang tua Bagja nggak begitu memadai.

Keadaan itu di perparah dengan kedua orang tuanya yang berpisah, entah waktu umur berapa Bagja saat itu. Hasilnya jelas, tanpa orangtua yang mampu membimbing. Dia menjadi kayak sekarang, jadi berandalan. Sekolah nggak dia lanjutin. Dia sekarang tinggal dengan neneknya.

Neneknya pun berlaku sama nggak ngasih pendidikan apapun, hanya teriak-teriak gak jelas kalau Bagja bikin salah. Kayak nggak masukin ayam-ayam peliharaannya ke kandang di kala sore, atau memarahi adiknya yang masih kecil kalo mainan di pasir. Mungkin takut dia eek dan di kubur di pasir, mungkin (emangnya kucing). Neneknya juga kelihatan matrealistis, mungkin jaman dulu dia ini cabe-cabean atau apa gue juga nggak tau. Tapi sebenarnya dia sayang kepada kedua cucunya.

Hanya saja yang mereka berdua (Bagja dan adiknya) butuhkan adalah pendidikan dari orang tua. Karena gue lihat nasehat apapun yang neneknya berikan solah nggak mempan, buat ngedidik mereka. Selalu ngulangin kesalahan yang sama. Ibunya, sesorang yang sangat Bagja dan adiknya butuhkan nggak ada di Indonesia. Ya, dia jadi TKI. Udah jadi fakta umum kalau orang-orang yang ekonominya susah di kampung gue, mereka bakal bekerja ke luar negri, jadi teknisi. Teknisi dapur.

Memang kebutuhan uang jajan Bagja berangsur membaik, setelah sekian lama ibunya jadi TKI. Uang yang ibunya berikan, cukup untuk makan dan jajan sehari-hari. Sayangnya mereka nggak sekolah, jadi kayak semacam percuma, kalau hanya untuk bertahan hidup tanpa bekal pendidikan, padahal gue cukup yakin ibunya mampu membiyayai kebutuhan sekolanya, begitupun adiknya.

Ayahnya?  Gue rasa orang yang nggak bertanggung jawab di dunia ini adalah orang yang ninggalin anak-anaknya tanpa bekal apa-apa untuk mereka bertahan hidup. Survive di dunia yang kejam ini. Yah, seperti itulah sosok seorang ayahnya Bagja. Kadang gue suka ngenes ajah kalau Bagja minjem sepeda ke temen gue buat nganter dia minta duit ke bapaknya buat jajan, ke desa tetangga. Karena kebetulan ayahnya menikah lagi dengan wanita desa tetangga.

Meminjam sepeda karena saat itu Bagja belum mahir mengendarai motor kayak sekarang, menandakan rumah sang ayah cukup jauh kalau hanya di tempuh dengan berjalan kaki. Gue suka nemenin dia sesekali. Minta uang jajan kepada sang ayah yang pergi lalu kawin lagi. Kengenesan nggak berhenti disitu ajah, udah nyampe di tempat kadang ayahnya (bilangnya sih) nggak punya duit. Tentu saja Bagja pulang dengan tangan hampa. Itu berarti, besok nggak jajan. Lagi.

Memilukan..

Saat itu juga kalau boleh gue nangis. Gue pengen nangis.

Kejadian yang sama dialami Ega temen SD-SMP gue di kampung, hanya saja ibu Ega nggak pergi jadi TKI. Kesamaan orang yang nggak bertanggung jawab masih terletak pada sang ayah. Sekarang Ega jadi supir trek tronton, melanglang buana ke penjuru indonesia, bahkan pernah ke bali. Kalah gue sama dia.

Setali tiga uang dengan Ega dan Bagja. Inu, anak tetangga belakang rumah gue, umurnya masih sangat belia mengalami hal yang sama dengan kedua temen gue tadi. Orangtuanya berangkat menjadi TKI. Entah gue kurang tau kedua orang tuanya cerai atau masih bersama, yang gue lihat Inu hidup dan diasuh oleh kakek-neneknya. Gue belum pernah melihat sang ayah Inu kecil, menimang dan mengajaknya jalan-jalan.

Ketika gue lihat raut muka Inu, kelihatan banget dia emang butuh sosok ayah atau ibu yang memanjakannya. Kemarin gue lihat waktu masih bulan puasa, dia solat tarawih bersama kakeknya, setelah pulang dia loncat-loncatan ngambilin daun mangga, dia lompat kesana-sini seolah nggak ada beban di pikirannya. Tapi gue yakin begitu besar rasa ingin dikasihi oleh kedua orangtuanya, yang jelas-jelas masih ada.

Lain Inu, lain pula Aris. Ponakan gue yang masih kecil, sekarang dia udah sekolah kelas 1 SD. Punya nasib yang hampir sama, beruntungnya Aris, masih bisa sekolah dengan neneknya yang selalu menjaga dan care sama Aris. Inu juga sebenarnya sekolah, dia satu kelas dengan Aris. Mereka berdua emang satu nasib yang membedakan kakek dan neneknya Aris lebih care, perduli banget dan sayang banget. Bukan berarti Inu nggak di sayang sama kakeknya, hanya saja kadarnya berbeda. Karena kakeknya Inu juga punya cucu yang harus di urus juga.

Aris ditinggal ibu dan bapaknya, kabar yang gue denger ibu-bapaknya udah berpisah. Lagi-lagi gue sebut Aris emang masih beruntung, lantaran ada kakek dan neneknya yang masih mau mengurusnya dengan baik, sama baiknya ketika mengurus ibu si kecil Aris dulu. Seperti kebanyakan suami-istri yang cerai di kampung gue, salah satu dari mereka pasti pergi ke luar negri (kebanyakan istrinya), jadi TKI. Hal mainstream selalu terjadi dari tahun ke tahun, kayak gitu terus. Korbannya bukan siapa-siapa, anaknya sendiri.

Setelah mempelajari kisah orang-orang terdekat gue, gue punya kesimpulan sendiri atas apa yang terjadi selama ini.

Pertama. Ke empat orang terdekat gue tadi mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama nggak ada orang tua yang membimbing dan memberikan kasih sayang, dan pendidikan utama untuk mereka. Sebagai orang tua mereka bukan hanya mencari uang untuk bertahan hidup semata, kadang yang lebih penting adalah kasih sayang dan pendidikan dasar dari orang tua.

Ke dua. Mereka berempat juga mempunyai kesamaan, yaitu ayah mereka yang harusnya bertanggung jawab atas tumbuh kembangnya, malah ninggalin mereka gitu ajah. Mungkin mereka punya alasan sendiri kenapa mereka ninggalin anak-anaknya. Tapi disamping itu anak-anak mereka mungkin ajah nggak akan respect lagi jika suatu saat ketemu ayah mereka masing-masing.

Ke tiga. Rata-rata orang kampung (yang udah punya anak) terutama ibu-ibu, punya mindset ‘menjadi TKI adalah pilihan terakhir’, mereka membuat pilihan itu tanpa memperduliakan pilihan lain, seperti mungkin ‘membuka usaha sendiri di daerah dia tinggal’ atau ‘bekerja di tempat dimana dia tinggal, atau di sekitar daerahnya. Mindset itu sayangnya berdampak buruk buat anak-anak mereka. Bagja contohnya.

Ke empat. Kebanyakan dari orang di kampung gue, yang ninggalin anaknya pergi ke luar negri jadi TKI nitipin anaknya ke ayah-ibu mereka. Kakek-nenek si anak. Nggak ada salahnya sih, cuman menurut gue yang harusnya menjaga dan ngasih kasih sayang, kan, harusnya orang tuanya. Bukan kakek-neneknya.

Buat gue sendiri kisah-kisah mereka, membuat gue terus bersukur akan keberadaan orang tua gue yang selalu ada buat gue. Ngasih pendidikan yang berharga dari gue kecil sampe sekarang, memberikan kasih sayangnya. Nggak pernah surut kasih sayang mereka buat gue. Sebuah pelajaran juga, buat nanti gue di masa depan.

Mungkin Allah SWT punya rencana atas apa yang direncanakanNya, gue juga nggak tau itu apa, yang jelas kita harus selalu positive thinking dan tetap menjalaninya. Let it flow. Semoga kalian yang membaca ini, mendapatkan sedikit hikmah. Sukur-sukur kalau banyak. Kadang kita tuh suka risih kalau orang tua kita tiba-tiba nelpon, smsin, BBMin, mentionin, nanyain keadaan kita. 

Waktu kecil apalagi kalau kita disusul orang tua kadang juga kita suka kesel sama mereka, padahal di saat yang sama gue menjad orang yang lebih beruntung dari kedua temen gue. lebih beruntung dari tetangga gue, lebih beruntung dari ponakan gue sendiri dan mungkin juga diluar sana masih banyak yang nggak sberuntung gue.

Sekesel apapun kita sama orang tua, serisih apapun kita akan ke-possesif-an mereka. Kenyataannya kita masih lebih beruntung dari mereka yang masih bertanya. Dimana kedua orangtuaku?



Gue berharap Aris dan Inu nggak jadi kayak kedua temen gue. masa depan mereka berdua masih sangat panjang. Dan semoga ada banyak orang tua yang sadar, dengan nggak ninggalin anak-anaknya gitu ajah.

14 komentar:

  1. Emang kamunya dimana sih Fik?

    Memang sih banyak kisah yang mirip-mirip begitu di kampung saya juga. Dan kayaknya Allah sengaja banget bikin kejadian begitu biar banyak yang bersyukur masih hidup dan ketawa-ketawa dengan bapak-ibu.

    Alhamdulillah,

    BalasHapus
    Balasan
    1. di Cirebon bang, saya di perkampungannya..

      alhamdulilh

      Hapus
  2. Cerita Bagja dan Inu ngena banget, bang. Mirip2 sama kejadian di lingkungan saya. Terkadang, ngeliat orang, seperti di cerita ini, saya ngerasa kasian. Habisnya, mereka (tidak semua) terkadang malah melampiaskan kurangnya kasih sayang tersebut dengan kegiatan2 negatif :"(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih, kasiannya tuh disitu. bukannya bangun dari keterpurukan malah terjerumus ke lubang hitam. harusnya memang ada bimbingan dari orang tua

      Hapus
  3. hikmah yg bs sy ambil : bersyukur, msh banyak org di bawah kita. jgn ngeluh dan ngegerutu

    BalasHapus
  4. Bener-bener ngena fik tulisan lo yang ini.
    Peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak, selain faktor lingkungan.

    Menurut gue, bagja sama inu itu korban, yang salah itu orang tuanya kalo menurut gue. Itu juga salah satu asalan gue ngambil keguruan. Kalo gue gak bisa jadi guru disekolah, setikdaknya entar ada ilmu buat jadi guru anak-anak gue kelar dan buat diri gue sendiri.

    Keren fik, lanjutkan. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih bang :))

      iya mereka berdua adalah korban orang tua yang nggak bertanggungjawab

      Hapus
  5. Mak nyut ceritanya...biasa di kehidupan sehari -hari

    BalasHapus
  6. Iya. Semoga tidak ada lagi orang tua yang rela meninggalkan pengasuhan pada orang yang tidak seharusnua, meski itu kakek atau nenek mereka sendiri.

    Semoga bisa jadi pembelajaran.:)

    BalasHapus
  7. Sedih banget nih kalo jauh dari ortu, apalagi gak tau mereka dimana. Aku juga bersyukur banget nih, ortuku masih komplit dan sehat. Apalagi sekarang sudah bisa ngasih cucu ke mereka, ada rasa bangga, walaupun cuman itu yang bisa aku kasih:)

    BalasHapus
  8. saya bersyukur masih memiliki orang tua.
    ada baju baru------------------------------------> pammadistro.blogspot.com/

    BalasHapus
  9. Hmm.. Jadi ngerasa bersyukur gue. Masih banyak orang di luar sana yang hidupnya 'tidak seenak' yang kita miliki.

    BalasHapus

Terimakasih atas komen dan kunjungannya. Kalau ada kesempatan gue bakal BW balik. Aku sayang kalian. Muachh.. *kecup basah*