Sabtu, 18 Februari 2017

Not Enough




Seorang ayah atau bapak (gue biasa panggilnya bapak) buat gue adalah seorang ‘nahkoda kapal’ yang  memperjuangkan kapalnya sampai pada tujuan dan berusaha untuk tidak 'tenggelam' di tengah jalan. Gue sebagai ‘anak buah kapal’ harus senantiasa menemani dan mendengarkan instruksi atau nasehat dari beliau agar kapal bisa berjalan dengan baik, dan suatu saat dia pun juga berharap anak buah kapal ini akan mengemudikan kapalnya sendiri dengan baik pula bahkan lebih baik darinya.

Mungkin sampai sini kalian sedang berimajinasi kalau bapak gue atau bapak kalian sendiri seperti Popeye. Boleh boleh aja, tapi sayangnya bapak gue nggak suka bayam dia lebih suka tahu Sumedang.

--

“bapak ini aktif di organisasi kemasyarakatan pik, makanya bapak dulu di Banten banyak kenalan orang-orang kecamatan, Polsek dan Dandim. Dan bapak dulu juga pernah jadi wakil ketua ranting  kecamatan sebuah partai.” Kata bapak sambil mengelap mulutnya setelah selesai makan sambil lesehan. 

Kamis, 09 Februari 2017

3 Smartphone High-End Terbaik Buat Para Wanita Karir



Smartphone saat ini sudah menjadi benda wajib yang harus selalu dibawa. Ponsel cerdas seolah sudah menjadi pelengkap gaya hidup seseorang khususnya kaum wanita. Dengan adanya ponsel,  berkomunikasi pun terasa lebih mudah.  smartphone juga bisa memudahkan pekerjaan. Setiap smartphone terbaru sudah dibekali fitur-fitur yang canggih. Hal inilah yang menjadi daya tarik para wanita karir untuk selalu mengupgrade handsetnya dengan handset terbaru.  Lantas apa sajakah smartphone high end yang sangat cocok dan berkelas untuk para wanita karir? Berikut ini jajaran smartphone berkelas yang cocok untuk kamu para wanita karir. 

Kamis, 02 Februari 2017

Feedback



Ngobrol dengan orang yang lebih tua memberikan kita sebuah pencerahan, kadang bukan hanya nesehat atau petuah dari mereka saja tapi dari sebuah cerita yang ‘mentah’. Maksud gue cerita yang emang nggak mengandung apa-apa sampai gue sendiri yang mikir apa yang bisa gue ambil dari cerita orang yang sepuh ini.

Gue pernah ngobrol sama pak Nanto, beliau ini pensiunan pegawai Kementrian Pekerjaan Umum, kebetulan dia sedang berkunjung ke tempat gue. Beliau cukup sepuh, mungkin usianya diatas 60 tahunan, atau mungkin lebih. Takut nggak sopan kalau gue nanyain KTP sama beliau.

“gimana pak sehat?” tanya gue sambil menjabat tangan beliau.
“sehat, sehat pik, gimana ada kegiatan apa nih?”
“ya gini-gini ajah pak, gimana pak anak bapak katanya mau kurus bahasa Inggris?
“belum ada kabar pik, dia masih di Jogja.” Pak Nanto jawab sambil mengecek sms yang masuk. “pik saya punya ponakan, dulunya dia ini nggak mau sekolah gara-gara..” Kata-katanya terhenti, hapenye berdering lagi…

Selasa, 31 Januari 2017

Continuous Learning




Dulu apa yang gue anggap sesuatu yang sulit, sekarang malah menjadi mudah dan bahkan ada juga yang menjadi sebuah kebiasaan. Contohnya menulis. Dulu hal ini tidak pernah gue bayangkan akan menjadi hobi bahkan sebuah kebiasaan. Di kelas, gue jarang nulis (pakek tangan), dari SD sampai kuliah, buku yang gue bawa isinya lebih banyak gambar-gambar nggak jelas. Kadang gue gambar mobil, gambar pemandangan, gambar kartun, gambar cewek sampai gambar-gambar yang 18+.

Di rumah pun juga sering gambar-gambar, sampai bapak gue bilang “mau jadi apa kamu pik? Kerjaanmu ng’gambar bae!” dengan nada sewot. Sebagai anak yang teladan, gue nurut. Gue berhenti menggambar, dan lari ke warung. Melakukan aktifitas baru; ngopi dan ngerokok. Mungkin kalau gue ngerokok di rumah dan ketahuan sama bapak bakalan diamrahin juga sama bapak...“mau jadi apa kamu pik? Ngerokok bae! Duit masih dari orang tua! Gak tau diri!” sambil melotot.

Orangtua memang harus kita hormati, walaupun memang menyebalkan. Gue menggambar dibilang ‘mau jadi apa’ padahal gue sedang ‘tahu diri’ tahu apa yang mesti gue lakukan terhadap kesenangan dan hobi gue dan mungkin banyak orang tahu kalau pelukis, ilustrator dan Arsitek itu kerjaannya menggambar. Dan mereka setahu gue, duitnya banyak. Gue lebih banyak diam kalau bapak marah-marah. Kabayang kalau waktu itu gue menimpali omongan beliau.